Pesantren sering tergambarkan sebagai ruang pendidikan yang hidup oleh peran kiai, ustaz, dan santri. Namun di balik struktur tersebut, ada sosok perempuan yang keberadaannya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari pesantren, tetapi jarang khalayak bicarakan. Ia terkenal dengan sebutan Mbak Ndhalem, perempuan yang mengabdikan diri di lingkungan pesantren dengan kerja-kerja yang tidak selalu tampak di permukaan.
Mbak Ndhalem menjalani pengabdian melalui tugas-tugas praktis yang menopang keberlangsungan pesantren. Mereka terlibat dalam urusan dapur, kebersihan, pendampingan santri, hingga membantu kebutuhan keluarga Ndhalem. Pekerjaan ini menuntut ketekunan dan kehadiran yang konsisten. Meski tidak tercatat sebagai prestasi formal, peran mbak dalem memiliki dampak langsung terhadap ritme kehidupan pesantren.
Latar belakang Mbak Ndhalem beragam. Ada yang berasal dari keluarga sederhana dan memilih mengabdi sebagai bentuk bakti, ada pula yang menjadikan pengabdian sebagai proses belajar sebelum melangkah ke tahap hidup berikutnya. Pilihan ini kerap terpahami secara sempit oleh orang luar. Pengabdian sering tersalahartikan sebagai ketertinggalan, seolah berhenti sekolah berarti berhenti berkembang. Padahal, proses tumbuh tidak selalu berlangsung di ruang kelas.
Dalam praktiknya, mereka sering berhadapan dengan tuntutan untuk selalu ikhlas dan patuh. Pengabdian melekatan dengan nilai kesabaran tanpa banyak ruang untuk menyuarakan kelelahan. Batas antara pengabdian dan beban kerja pun menjadi tipis. Ketika keikhlasan terpahami secara mutlak, kebutuhan akan keadilan dan penghargaan kerap terabaikan.
Peran Sosial
Selain tugas fisik, Mbak Ndhalem juga memikul peran sosial yang tidak ringan. Mereka mendapat harapan menjaga sikap, menjadi teladan, dan mampu menyesuaikan diri dengan budaya pesantren yang kuat. Dalam banyak situasi, mereka menjadi figur penghubung antara santri dan keluarga Ndhalem. Peran ini menuntut kecakapan emosional dan kesabaran yang tinggi.
Namun justru dari ruang-ruang sunyi itulah nilai pesantren terjaga. Mbak dalem belajar langsung tentang tanggung jawab, kedisiplinan, dan kepedulian. Pengabdian menjadi proses pembelajaran kehidupan yang membentuk ketahanan mental dan kepekaan sosial. Nilai-nilai ini sering kali tidak tercatat secara formal, tetapi berpengaruh besar dalam pembentukan karakter.
Keberadaan Mbak Ndhalem juga memberi warna tersendiri dalam kehidupan santri. Bagi santri putri, Mbak Ndhalem sering menjadi sosok kakak yang memberi rasa aman dan perhatian. Mereka hadir dalam keseharian santri, memahami kebutuhan-kebutuhan kecil yang sering luput dari perhatian struktur formal pesantren.
Esai ini tidak bermaksud untuk meromantisasi pengabdian Mbak Ndhalem. Pengabdian tetap memerlukan pengakuan dan keadilan. Mbak Ndhalem bukan sekadar pembantu dalam sistem pesantren, melainkan bagian penting dari ekosistem pendidikan dan kehidupan di dalamnya. Mengakui peran mereka berarti menghargai kerja-kerja domestik dan emosional yang selama ini teranggap biasa.
Pada akhirnya, pesantren berdiri bukan hanya di atas pengajaran ilmu dan kedisiplinan santri, tetapi juga di atas kerja sunyi para Mbak Ndhalem. Mereka mungkin jarang kita sebut, tetapi kontribusinya nyata. Membicarakan peran mereka adalah langkah awal untuk membangun pesantren yang lebih adil, manusiawi, dan selaras dengan nilai keislaman itu sendiri.[]

