“Kapan nikah?” Masyarakat sering menganggap perempuan yang berhenti sekolah karena menikah muda sedang menjalani takdirnya. Namun, masyarakat justru kerap menganggap perempuan yang memilih melanjutkan pendidikan dan menunda pernikahan sebagai sosok yang terlambat. Di tengah masyarakat yang mengaku menjunjung pendidikan, mengapa pernikahan masih lebih sering menjadi ukuran keberhasilan perempuan?
Bagi banyak perempuan, pertanyaan itu mungkin terdengar lebih sering daripada pertanyaan, “Bagaimana kuliahnya?” atau “Apa mimpi yang sedang kamu kejar sekarang?” Banyak orang melontarkan pertanyaan tersebut di berbagai kesempatan. Di acara keluarga, saat bertemu tetangga, bahkan ketika seseorang sedang menikmati waktu luang. Lucunya, orang-orang sering mengajukan pertanyaan itu jauh lebih cepat daripada memberikan apresiasi terhadap pencapaian yang telah perempuan raih. Seorang perempuan bisa menyelesaikan pendidikan tinggi, memperoleh pekerjaan yang diimpikan, memenangkan perlombaan, atau aktif berkontribusi di masyarakat. Namun, semua pencapaian itu terkadang seolah kalah penting dibanding satu hal: status pernikahan.
Tolok Ukur Keberhasilan Perempuan
Sejak kecil, orang tua dan lingkungan mengajarkan anak perempuan untuk memiliki mimpi. Orang tua dan guru mendorong mereka untuk belajar, meraih prestasi, dan mengejar cita-cita. Namun ketika mereka mulai beranjak dewasa, arah percakapan sering berubah. Pertanyaan tentang pasangan dan pernikahan perlahan menggeser mimpi yang dulu banyak orang tanyakan. Seolah-olah masa depan perempuan memiliki garis akhir yang sama: menikah.
Padahal hidup perempuan jauh lebih luas daripada itu. Pernikahan memang menjadi bagian penting dalam kehidupan banyak orang. Tidak ada yang salah dengan menikah, sebagaimana tidak ada yang salah dengan memilih untuk menundanya hingga benar-benar siap. Masalah muncul ketika masyarakat menjadikan pernikahan sebagai ukuran utama keberhasilan perempuan. Kita hidup di tengah masyarakat yang masih sering menganggap perempuan yang belum menikah sebagai masalah yang harus mereka selesaikan. Sebaliknya, ketika seorang perempuan kehilangan kesempatan pendidikan karena alasan ekonomi, budaya, atau pernikahan dini, masyarakat tidak selalu menunjukkan kepedulian yang sama besarnya.
Di sisi lain, pernikahan dini masih menjadi persoalan yang belum sepenuhnya selesai di Indonesia. Banyak anak perempuan harus menghentikan pendidikan mereka karena menikah pada usia yang belum matang. Dalam kondisi tertentu, sebagian masyarakat bahkan menganggap pernikahan sebagai jalan keluar dari persoalan ekonomi keluarga atau cara menghindari stigma sosial.
Cara Pandang Masa Depan
Padahal, ketika seorang anak perempuan menikah terlalu dini, yang hilang bukan hanya masa remajanya. Pernikahan dini memutus kesempatan belajar mereka.Kondisi tersebut juga menunda berbagai cita-cita yang ingin mereka capai. Akibatnya, potensi mereka sering kali tidak berkembang secara optimal.untuk berkembang secara optimal. Ironisnya, kondisi seperti ini sering kali tidak menimbulkan kepanikan sebesar perempuan dewasa yang memilih menunda pernikahan demi pendidikan atau karier.
Karena itu, kita seharusnya tidak memandang pendidikan sebagai pelengkap sebelum menikah. Pendidikan merupakan hak yang melekat pada setiap manusia, termasuk perempuan. Sudah saatnya kita berhenti memperlakukan pernikahan sebagai satu-satunya tujuan hidup perempuan. Sudah saatnya kita mengapresiasi perempuan bukan hanya karena status yang mereka miliki, tetapi juga karena perjuangan yang mereka jalani.
Mungkin, daripada terus bertanya “Kapan menikah?”, kita bisa mulai bertanya, “Apa yang sedang kamu pelajari?”, “Mimpi apa yang sedang kamu kejar?”, atau “Hal apa yang ingin kamu capai dalam hidup?” Sebab perempuan bukan sekadar calon istri. Mereka adalah pelajar, penulis, peneliti, pekerja, pemimpin, pengusaha, seniman, dan agen perubahan. Mereka memiliki hak untuk menentukan jalan hidupnya sendiri tanpa harus membiarkan ketakutan terhadap standar usia yang dibuat masyarakat membayangi mereka.[]

