Derajat Sama, Beban tak Pernah Setara

Sumber Gambar: istockphoto.com

Sejak kecil, banyak perempuan sudah akrab dengan kalimat, “perempuan itu tempatnya di dapur”. Kalimat tersebut terulang-ulang seolah menjadi hukum alam. Ironisnya, ketika perempuan itu tumbuh dewasa, pertanyaan yang datang justru berubah “sudah kerja belum?”. Di sisnilah letak kontradiksi sosial yang sering luput kita sadari.

Perempuan mendapat kewajiban masuk dapur, pun tertuntut bekerja. Sementara laki-laki, sejak awal tidak pernah terwajibkan ke dapur, tetapi kerap mendapat arahan dan dorongan penuh untuk bekerja. Jika laki-laki bekerja, itu anggapannya normal. Jika perempuan bekerja, itu orang anggap pilihan, bahkan kadang mengabaikan kodrat.

Padahal, dalam ajaran Islam sendiri, derajat laki-laki dan perempuan itu sama. Yang mebedakan bukan nilainya sebagai manusia, melainkan beban dan tanggung jawab yang mereka pikul. Laki-laki wajib mencari nafkah, sedangkan perempuan tidak.

Namun realitas media sosial sering berjalan terbalik. Perempuan mendapat posisi seolah memiliki dua kewajiban sekaligus, yaitu mengurus rumah dan menghasilkan uang. Ketika ia memilih fokus di rumah, ia tercap sebagai seorang yang tidak mandiri. Ketika ia bekerja, ia tetap mendapat tuntutan mengurus rumah tangga tanpa kompromi. Di titik ini, perempuan selalu berada di posisi yang salah.

Dapur dan Tuntutan Sosial

Masalahnya bukan pada dapur, bukan juga pada bekerja. Masalahnya da pada pemaksaan peran yang tidak proporsional. Dapur seharusnya menjadi ruang pilihan, bukan penjara yang melekat pada jenis kelamin tertentu. Bekerja seharusnya menjadi kewajiban yang jelas bagi laki-laki, dan pilihan bagi perempuan, bukan tuntutan sosial yang terbungkus dalih kesetaraan.

Laki-laki tidak pernah terarahkan ke dapur sejak kecil. Mereka tidak tumbuh dengan tekanan “nanti harus bisa masak”. Mereka tumbuh dengan satu pesan utama, yaitu kamu harus bekerja. Dan masyarakat konsisten dengan pesan itu. Tidak ada laki-laki yang mendapat pertanyaan harga diri mereka hanya karena tidak bisa memasak. Sementara perempuan? Ia harus bisa segalanya. Jika tidak, ia akan teranggap gagal. 

Baca Lainya  Fesyen Muslimah Generasi Milenial: Antara Tren dan Syariat

Sikap setara bukan berarti menyamaratakan beban. Setara berarti menempatkan tanggung jawab sesuai porsinya, tanpa merendahkan yang memilih jalan berbeda. Perempuan yang memilih di rumah tidak lebih rendah dari perempuan yang bekerja. Begitu pula sebaliknya. Selama masyarakat masih memaksa perempuan memikul beban ganda sambil terus menyebutnya “kodrat”, maka yang terjadi bukan keadilan, melainkan kelelahan yang terwariskan turun-menurun. 

Tekanan semacam ini sering hadir dalam bentuk yang tampak wajar. Ia muncul sebagai nasihat keluarga, komentar lingkungan, atau pertanyaan basa-basi yang terus berulang. Semua tersampaikan tanpa ada nada menghakimi, tetapi cukup untuk membuat perempuan merasa selalu kurang. Dari situlah rasa bersalah mulai tumbuh, membuat perempuan merasa harus terus membuktikan diri agar teranggap layak.

Standar keberhasilan pun menjadi timpang. Perempuan tidak cukup dinilai dari satu peran, melainkan dari kemampuannya menjalankan banyak peran sekaligus. Ia diharapkan tetap kuat, tetap hadir, dan tetap tenang, meski kelelahan sering kali datang tanpa sempat diakui. Sementara ketika sebagian laki-laki mulai terlibat dalam urusan domestik, itu kerap diposisikan sebagai bantuan bukan tanggung jawab bersama.

Perbedaan cara pandang inilah yang membuat beban terasa tidak pernah benar-benar terbagi. Selama kerja domestik masih dianggap kurang bernilai dan selama pilihan hidup perempuan terus diukur dengan standar yang tidak adil, sikap setara akan selalu berhenti sebagai konsep, bukan pengalaman nyata.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *