Perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (artificial intelligence) telah mengubah cara manusia memperoleh informasi. Saat ini, pelajar dan mahasiswa dapat menemukan jawaban atas berbagai persoalan hanya dalam hitungan detik melalui internet dan aplikasi berbasis AI. Kemudahan tersebut membawa manfaat besar bagi dunia pendidikan karena akses terhadap pengetahuan menjadi lebih cepat dan luas (J. A. Putri et al., 2025).
Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara manusia memperoleh, mengolah, dan menyebarkan informasi. Saat ini, hampir semua aktivitas dapat terlakukan melalui perangkat digital, mulai dari belajar, bekerja, hingga berinteraksi sosial. Kemudahan tersebut menjadikan masyarakat semakin cakap dalam menggunakan teknologi. Namun, kemampuan mengoperasikan teknologi tidak selalu terikuti oleh kemampuan berpikir kritis dalam memahami informasi yang kita terima. Akibatnya, banyak individu yang cepat mengakses informasi tetapi kurang mampu menilai kebenaran dan relevansinya (Diantini & Purwanti, 2025).
Namun, di balik kemudahan itu muncul pertanyaan penting: apakah kemajuan teknologi juga terikuti oleh peningkatan kemampuan berpikir kritis manusia. Atau justru melahirkan generasi yang cerdas secara digital tetapi lemah dalam bernalar?
Fenomena ini semakin terlihat ketika banyak peserta didik mampu menghasilkan tugas yang rapi dengan bantuan teknologi, tetapi kesulitan menjelaskan kembali isi tugas tersebut secara mendalam. Informasi dapat kita peroleh dengan cepat, tetapi tidak semua pengguna mampu menganalisis, mengevaluasi, dan memverifikasi informasi yang mereka terima. Akibatnya, proses belajar berpotensi bergeser dari aktivitas berpikir menjadi aktivitas mencari jawaban instan (Ernalia et al., 2025). Jika kondisi ini terus berlangsung, generasi muda berisiko kehilangan kemampuan berpikir mendalam yang menjadi fondasi utama pengembangan ilmu pengetahuan.
Kemampuan Berfikir
Dalam praktiknya, pengetahuan tidak hanya ternilai dari hasil akhir, tetapi juga dari proses memperoleh dan mengujinya. Kemampuan berpikir kritis menjadi sarana penting untuk menilai apakah suatu informasi benar, relevan, dan dapat terpertanggung jawabkan. Oleh karena itu, kemajuan teknologi seharusnya memperkuat kemampuan berpikir manusia, bukan menggantikannya (Sitompul et al., 2025). Tujuan pendidikan bukan sekadar menghasilkan jawaban yang benar, melainkan membentuk individu yang mampu berpikir logis, kreatif, dan bertanggung jawab terhadap setiap keputusan yang terambil.
Dari aspek pendidikan, penggunaan AI sebenarnya memberikan peluang besar untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Mahasiswa dapat memperoleh referensi lebih banyak, memahami konsep yang sulit, dan mengakses sumber belajar tanpa batas ruang dan waktu. Penelitian menunjukkan bahwa penggunaan AI dan literasi digital berpengaruh positif terhadap keterampilan berpikir kritis apabila tergunakan secara tepat dalam proses pembelajaran (J. A. Putri et al., 2025).
Namun, manfaat tersebut tidak selalu terjadi. Ketika AI tergunakan hanya untuk memperoleh jawaban tanpa proses refleksi dan analisis, peserta didik berisiko mengalami ketergantungan teknologi. Mereka menjadi terbiasa menerima informasi secara instan tanpa menguji kebenaran atau logika di balik informasi tersebut. Kondisi ini dapat mengurangi kemampuan pemecahan masalah dan kreativitas yang sesungguhnya sangat terbutuhkan pada abad ke-21 (A. Putri & Friyatmi, 2025). Dengan demikian, teknologi dapat menjadi sarana untuk memperkaya proses belajar, bukan menggantikan fungsi berpikir manusia.
Di era digital media sosial, melahirkan masyarakat yang terbanjiri informasi setiap saat. Berita, opini, dan berbagai konten tersebar dengan sangat cepat melalui media sosial. Sayangnya, tidak semua informasi yang beredar memiliki validitas yang baik. Rendahnya kemampuan berpikir kritis dapat menyebabkan masyarakat mudah terpengaruh hoaks, disinformasi, dan manipulasi opini publik. Oleh karena itu, literasi media menjadi kebutuhan yang sangat penting dalam kehidupan digital saat ini (Setiarini & Perdana, 2024). Kemampuan berpikir kritis menjadi semakin penting karena masyarakat tidak hanya berhadapan dengan banyaknya informasi, tetapi juga dengan keberagaman perspektif yang berkembang di ruang digital. Tanpa kemampuan tersebut, individu akan kesulitan membedakan antara fakta, opini, dan informasi yang sengaja tersebarkan untuk memengaruhi pandangan masyarakat.
Peluang Kerja Baru
Dalam bidang ekonomi, transformasi digital telah membuka banyak peluang kerja baru yang sebelumnya tidak pernah ada. Akan tetapi, dunia kerja modern tidak hanya membutuhkan individu yang mampu menggunakan teknologi. Perusahaan juga membutuhkan sumber daya manusia yang mampu menganalisis data, mengambil keputusan, dan menyelesaikan masalah secara kreatif. Keterampilan tersebut lahir dari kemampuan bernalar, bukan sekadar kemampuan mengoperasikan teknologi digital (Algooth Putranto et al., 2025).
Fenomena “cerdas digital, miskin nalar” juga menjadi tantangan bagi pemerintah. Berbagai program transformasi digital yang negara lakukan harus terimbangi dengan penguatan literasi digital dan kemampuan berpikir kritis masyarakat. Tanpa penguatan tersebut, kemajuan teknologi justru dapat memperbesar penyebaran informasi yang menyesatkan serta memperlemah kualitas pengambilan keputusan publik (Setiarini & Perdana, 2024).
Dalam perspektif agama, khususnya Islam, penggunaan akal merupakan salah satu perintah yang sangat dalam penekannya. Al-Qur’an berulang kali mengajak manusia untuk berpikir, merenung, dan mengambil pelajaran dari berbagai fenomena kehidupan. Teknologi merupakan hasil pemikiran manusia yang dapat kita manfaatkan untuk kebaikan. Namun, manusia tetap memiliki tanggung jawab untuk menggunakan akal secara aktif dalam menyaring informasi dan menentukan tindakan yang benar. Karena itu, ketergantungan berlebihan pada teknologi bertentangan dengan semangat Islam yang mendorong manusia menjadi pribadi yang berilmu dan berpikir kritis (Oktafiani & Setiaji, 2025).
Teknologi pada dasarnya bersifat netral. Nilai manfaat atau mudaratnya sangat bergantung pada bagaimana manusia menggunakannya. Apabila AI tergunakan sebagai sarana belajar, mencari ilmu, dan meningkatkan kualitas hidup, maka teknologi tersebut dapat menjadi instrumen kemaslahatan. Sebaliknya, apabila tergunakan secara berlebihan hingga mengurangi kemampuan berpikir dan tanggung jawab intelektual, maka teknologi dapat membawa dampak negatif bagi kehidupan manusia (Muh et al., 2025).
Permasalahan Sosial
Di sisi lain, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa AI tidak selalu berdampak negatif terhadap kemampuan berpikir kritis. Jika tergunakan sebagai alat bantu diskusi, eksplorasi ide, dan pengembangan literasi digital, AI justru dapat meningkatkan kemampuan analitis mahasiswa. Dengan kata lain, masalah utamanya bukan terletak pada teknologi, melainkan pada cara manusia memanfaatkannya (Ernalia et al., 2025). Oleh karena itu, teknologi semestinya digunakan sebagai sarana untuk memperluas pengetahuan dan meningkatkan kemaslahatan, bukan sebagai alasan untuk meninggalkan proses berpikir yang menjadi ciri utama manusia.
Pada akhirnya, kecerdasan digital tanpa kemampuan bernalar yang baik dapat menimbulkan berbagai permasalahan sosial, seperti penyebaran hoaks, polarisasi masyarakat, dan rendahnya kualitas diskusi publik. Oleh karena itu, penguatan literasi digital harus diiringi dengan pengembangan kemampuan berpikir kritis agar masyarakat tidak hanya mahir menggunakan teknologi, tetapi juga mampu memahami dan menilai informasi secara rasional. Dengan demikian, masyarakat dapat menjadi benar-benar cerdas di era digital, baik dalam penggunaan teknologi maupun dalam cara berpikirnya (Ananda et al., 2025).
Menghadapi fenomena ini, dunia pendidikan perlu menempatkan literasi digital dan berpikir kritis sebagai kompetensi utama peserta didik. Guru dan dosen tidak cukup hanya mengajarkan cara menggunakan teknologi, tetapi juga harus melatih peserta didik untuk bertanya, menganalisis, mengevaluasi, dan memverifikasi informasi yang mereka peroleh. Dengan demikian, teknologi dapat menjadi sarana pengembangan intelektual, bukan sekadar alat pencari jawaban instan (Sitompul et al., 2025).
Selain itu, keluarga, sekolah, pemerintah, dan masyarakat perlu bekerja sama membangun budaya literasi yang sehat. Penggunaan AI dan teknologi digital harus diiringi dengan etika, tanggung jawab, dan kemampuan berpikir reflektif. Pada akhirnya, keberhasilan suatu bangsa di era digital tidak ditentukan oleh seberapa canggih teknologi yang dimiliki, melainkan oleh seberapa kuat kemampuan masyarakatnya dalam menggunakan teknologi secara kritis dan bijaksana. Generasi yang dibutuhkan masa depan bukan hanya generasi yang cerdas digital, tetapi juga generasi yang kaya nalar (J. A. Putri et al., 2025).[]

