Bagi Ibu Miftakhul Jannah, pikiran seringkali terasa seperti ruangan penuh cermin yang retak. Ada hari-hari di mana pantulan diri tampak suram, terpenuhi suara-suara kecemasan yang tiada henti menggema dalam kepala. Dulu, ia sering merasa bahwa diri kerap tenggelam dalam emosi dan pikiran-pikiran yang tidak nyata. Hanya ia yang bisa melihat, mendengar dan merasakannya.
Namun, sebuah titik balik terjadi ketika ia hampir kehilangan semangat hidup. Bu Jannah yang awalnya menganggap bahwa berobat adalah tanda kekalahan, hari itu memutuskan untuk bangkit. Beliau memilih berdamai dengan diri sendiri dan dengan keadaan. Bu Jannah memeluk segala luka-luka emosi yang ada dalam diri. Beliau bertekat untuk pulih. Kembali menjalani kehidupan sebagaimana mestinya.
Berbeda dengan kebanyakan penyintas disabilitas psikososial yang bergantung pada caregiver atau pendamping, Bu Jannah memutuskan untuk melangkah sendiri, memperjuangkan kesembuhan diri. Ia sadar betul bahwa ia butuh pertolongan untuk kondisinya, ia tahu pribadinya sedang tidak baik-baik saja.
Mencari Jalan Pulih
Awal mulanya, Bu Jannah mulai mencari tahu. Beliau datang ke puskesmas terdekat untuk berkonsultasi dengan layanan kesehatan jiwa. Bu Jannah mencatat semua gejala dan keluhannya agar ia tidak lupa menyampaikannya pada dokter. Beliau pernah dirujuk ke rumah sakit jiwa dan menjalani rehabilitasi medis. Saat mendapat obat, beliau tidak melakukan tawar-menawar. Ia mengonsumsinya secara rutin, mencatat efek sampingnya, dan menyampaikannya ke perawat.
Bahkan beliau juga mempelajari nama, jenis, serta kegunaan dari setiap obat yang diresepkan untuknya. Dari situ, beliau juga belajar mendengarkan dan memahami kondisi tubuhnya. Ia tahu dan bisa merasakan jika pribadinya akan memasuki fase relaps (kambuh) dan membutuhkan obat serta istirahat.

Beliau juga sadar bahwa obat saja tidak cukup. Ia butuh rehabilitasi agar ia bisa berfungsi kembali di lingkungan sosialnya. Ia secara aktif mengikuti kegiatan-kegiatan di SHG Grogolbeningsari sejak beberapa bulan lalu. SHG (Self-Help Group) merupakan kelompok swa-bantu yang menjadi wadah bagi difabel di Desa Grogolbeningsari, Kecamatan Petanahan, Kab. Kebumen, untuk tujuan pemulihan dan pemberdayaan. SHG menjadi ruang aman bagi para difabel untuk saling mendukung dan menguatkan serta belajar meningkatkan keterampilan supaya bisa mandiri.
Menghadapi Kerentanan Berlapis
Perjalanan Bu Jannah untuk pulih nampaknya bukan satu-satunya medan juang yang harus ia menangkan. Sebagai seorang penyintas difabel psikososial, yang juga seorang perempuan, ia menghadapi kerentanan berlapis. Sebagai seorang perempuan yang lahir di sistem keluarga konvensional, ia terikat dengan norma-norma patriarki yang kuat. Belum lagi stigma masyarakat kepadanya, seorang perempuan yang dalam pernikahannya belum memiliki keturunan.
Selain itu, ia juga harus berperan sebagai caregiver dari ibunya yang sudah lanjut usia dan adiknya yang juga merupakan penyintas disabilitas psikososial. Hampir setiap hari, ia akan menjenguk ibunya di rumah dan merawatnya. Tak jarang, ia juga membawakan makanan untuk sarapan sang ibu. Semua ia jalani dengan ikhlas sebagai bentuk baktinya sebagai seorang anak. “Kadang saya juga kangen, pengen liat ibuku” ucapnya.
Hidup adalah Medan Juang
Di tengah perjuangannya menjalani kehidupan yang tidak memberinya banyak pilihan, ia memiliki aktivitas keseharian memelihara ternak ayam, entok, dan kambing di rumahnya. Dan sebagaimana kebanyakan warga Desa Grogolbeningsari, ia juga membuat anyaman bahan tudung yang orang sebut “lambar”. Lambar-lambar itu setiap beberapa hari sekali akan ia setorkan kepada pengepul untuk mendapatkan sejumlah rupiah. Meskipun tidak banyak, aktivitas produktif semacam itu sangat membantu menopang perekonomiannya.

Sebagai bagian dari warga masyarakat, Bu Jannah juga tetap aktif di kehidupan sosial. Ia mengikuti banyak kegiatan spiritual seperti majelisan dan pengajian di lingkungannya. Kegiatan-kegiatan sosial lainnya seperti yasinan dan kumpulan RT juga tidak luput ia ikuti. Beliau bertekad menjalani kehidupan dengan sebaik dan semampunya. Membuktikan bahwa penyintas disabilitas psikososial juga bisa produktif dan memiliki kehidupan sosial yang baik.
Meski tidak pernah dilisankan, perjalanan Ibu Miftakhul Jannah mengajarkan kita bahwa agensi diri atau kemauan kuat dari dalam diri seorang penyintas disabilitas psikososial adalah kunci utama pemulihan. Ketika seseorang berhenti melihat dirinya sebagai “masalah” dan mulai melihat dirinya sebagai “pemilik solusi”, di situlah rehabilitasi yang sesungguhnya dimulai.
Dukungan keluarga dan komunitas juga menjadi ekosistem penting untuk mendukung proses pemulihan penyintas difabel psikososial. Keluarga yang memberikan dukungan untuk menjangkau akses obat dan konseling ke fasilitas kesehatan. Komunitas yang menjadi ruang aman untuk saling memotivasi dan menguatkan. Masyarakat yang tidak melanggengkan stigma kepada difabel psikososial.
Pemerintah yang menciptakan kebijakan desa yang inklusif untuk semua sesuai dengan kondisi dan kebutuhan warganya. Serta fasilitas kesehatan yang menyediakan layanan kesehatan jiwa yang mudah terakses oleh masyarakat. Semua pemangku kepentingan ini memegang peranan vital agar seorang difabel psikososial bisa pulih dan bisa menjalankan kehidupan sosialnya kembali dengan baik.
Kemudian yang sangat krusial dan utama juga adalah kesadaran dan tekad seorang penyintas difabel psikososial untuk bisa pulih. Inilah yang ingin penulis soroti dari sosok Bu Jannah. Pembawaannya yang sederhana dan blak-blakan sepintas menyamarkan cerita-cerita tentang betapa kuat tekatnya untuk pulih. Di tengah badai persoalan hidup yang tidak pernah berakhir, beliau tetap mencari jalan keluar. Tidak lupa beliau selalu mengingatkan untuk tetap memohon kekuatan dan perlindungan kepada Tuhan. []
