Pujian, Tuntutan, dan Ketangguhan Perempuan

Ada beberapa perempuan yang hampir selalu menjawab “aku bisa sendiri” setiap kali orang lain menawarkan bantuan. Bukan karena ia tidak lelah atau tidak membutuhkan pertolongan dari orang lain. Ada kalanya ia hanya takut teranggap merepotkan, terlihat lemah atau mengecewakan harapan orang-orang di sekitarnya terhadapnya. Tanpa kita sadari, pujian yang terus-menerus orang berikan atas ketangguhannya perlahan berubah menjadi tuntunan. Ia merasa harus mampu untuk menghadapi semuannya seorang diri. Lalu, sejak kapan ia meminta tolong menjadi kebalikan dari kata “kuat” itu?    

Di tengah masyarakat kita, perempuan yang mampu menyelesaikan segala sesuatu sendiri sering kali dipandang sesosok yang tangguh dan kuat. Ia mendapat pujian karena bertahan, mengurus banyak hal dalam waktu bersamaan, dan tetap terlihat baik-baik saja di hadapan banyak orang. Pujian itu tentu bukan suatu hal yang salah. Namun, kekuatan itu menjadi satu-satunya citra yang banyak kita harapkan dari seorang perempuan tanpa tersadari munculnya tekanan untuk selalu terlihat sempurna atau mampu. Akibatnya, ia mengakui kelelahan atau meminta bantuan terasa seperti kegagalan atau teranggap lemah. 

Fenomena perempuan yang enggan untuk meminta bantuan tidak hanya lahir dari pengalaman pribadi saja, melainkan juga adanya pengaruh oleh konstruksi sosial yang membentuk cara pandang masyarakat terhadap perempuan. Berbagai stereotip yang masih menepatkan perempuan sebagai sosok yang lemah, harus bersabar, tangguh mengurus banyak hal sekaligus, dan tidak mudah mengeluh. Tanpa kita sadari stereotipe dapat memengaruhi kesejahteraan psikologis pada perempuan karena ia merasa harus memenuhi ekspektasi sosial yang melekat pada diri mereka (Rahmawati & Agustin, n.d.).

Stereotipe Gender

Dalam dunia kerja maupun kehidupan sehari-hari, perempuan juga masih menghadapi berbagai stereotipe yang menilai kemampuan mereka berdasarkan gender, bukan kompetensi yang termiliki. Akibatnya, banyak perempuan terdorong untuk terus membuktikan bahwa diri mereka mampu menyelesaikan segala sesuatu dengan secara mandiri agar memperoleh pengakuan dari lingkungan sekitarnya (Rokhim & Noorrizki, 2022).

Baca Lainya  Berteman dengan Beta Woman (2)

Dari hasil data tersebut menunjukan bahwa kecenderungan perempuan untuk mengatakan “aku bisa sendiri” tidak selalu lahir dari pilihan yang sepenuhnya bebas. Dalam banyak situasi, sikap tersebut merupakan hasil dari ekspetasi sosial yang telah melekat pada perempuan. Pujian atas ketaguhannya yang awalnya termaksudkan sebagai bentuk apresiasi ini perlahan berubah menjadi standar yang harus terpenuhi. Akibatnya, banyak perempuan merasa perlu membuktikan bahwa mereka mampu menyelesaikan segala sesuatu tanpa perlu bantuan dari orang lain, agar tetap teranggap kuat, mandiri, dan kompeten.

Di sini letak persoalannya bahwa masyarakat mengagumi perempuan yang mampu memikul banyak tanggung jawab, tetapi jarang dari mereka memberikan ruang untuk mengakui kelelahannya. Ketika seorang perempuan memilih meminta bantuan, tidak sedikit dari mereka khawatir akan terpandang kurang mampu atau terlalu bergantungan pada orang lain. Akhirnya dari kalimat “aku bisa sendiri” bukan sekadar ungkapan percaya diri, melainkan mekanisme untuk mempertahankan citranya sebagi perempuan yang kuat di hadapan lingkungan bagi sosialnya.

Kondisi ini menjelaskan mengapa banyak perempuan mendapat pujian karena kuat, tetapi semakin jauh dari keberanian meminta tolong. Ia terbiasa menjadi tempat bersandar bagi orang lain, tetapi ia lupa bahwa diri sendiri juga berhak memperoleh dukungan. Padahal, meminta bantuan tidak mengurangi rasa nilai maupun kekuatan sesorang. 

Beban dan Cara Pandang

Di balik kebiasaan yang mengatakan “aku bisa sendiri”, perubahan cara pandang terhadap perempuan tidak dapat terbebankan terhadap perempuan seorang diri. Bagi sebagian perempuan, sikap tersebut mulai terbentuk sejak masa kanak-kanak. Lingkungan keluarga maupun pola pengasuhan yang dapat membiasakan anak untuk menyelesaikan persoalannya sendiri, menahan tangis, serta tidak bergantungan terhadap orang lain.

Kebiasan ini dapat membentuk kepribadian yang mandiri. Namun, apabila tak terimbangi dengan ruang untuk mengapresiasikan emosi dan meminta bantuan, kemandirian tersebut berpotensi berkembang menjadi keyakinan bahwa meminta pertolongan tanda kelemahan.  Ketika memasuki usia dewasa, kebiasan tersebut terus terbawa dalam berbagai aspek kehidupan. Ia merasa tidak enak jika merepotkan orang lain. Atau merasa bersalah ketika meminta bantuan, bahkan menganggap diri gagal apabila tidak mampu menyelesaikan masalah sorang diri. 

Baca Lainya  Amelia Earhart: Perempuan Hebat, Menembus Batas Kemustahilan

Di sisi lain, lingkungan pendidikan dan dunia kerja juga perlu membangun budaya yang lebih suportif. Apresiasi terhadap perempuan tidak seharusnya hanya diberikan ketika ia mampu menanggung semuanya sendiri. Namun juga ketika ia berani untuk mengenali batas dirinya. Dukungan emosional, komunikasi sehat, dan ruang saling membantu merupakan bentuk penghargaan lebih bermakna daripada sekedar menyebut perempuan sebagai sosok kuat.

Pada akhirnya, tidak ada yang salah dengan menjadi perempuan yang kuat. Namun, menjadi kuat tidak seharusnya berarti memendam seluruh luka seorang diri. Ia tetap manusia yang meiliki batas rasa lelah dan kebutuhan untuk didengar. Barangkali, yang perlu diubah bukanlah ketagguhan perempuan, meainkan cara masyarakat memaknai ketagguhan itu sendiri. Sebab, keberanian untuk berkata “aku membutuhkan bantuan” tidak pernah mengurangi rasa nilai seseorang. Justru dari pengakuan itu keterbatasan lahir kekuatan yang paling manusiawi.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *