The Environment Inside You: Bagaimana Dunia di Sekitar Membentuk Kita

Apa kita pernah berpikir mengapa kita bisa merespons suatu masalah yang bahkan kita sendiri tidak mengerti? Mungkin banyak orang berasumsi bahwa karakter, kepribadian, cara berpikir dan sifat kita terbentuk murni dari dalam diri sendiri. Padahal manusia terbentuk bukan hanya dari bawaan lahir. Namun, lingkungan di sekitar juga memiliki pengaruh yang sangat besar, setara dengan faktor genetik dalam membentuk siapa diri kita sebenarnya.

Masalahnya banyak orang tidak menyadari proses ini sedang terjadi. Kita menyerap cara berpikir, cara mengambil keputusan, bahkan rasa takut dari lingkungan sekitar tanpa pernah mempertanyakannya. Secara tidak sadar, bagi seseorang sulit berkembang karena tidak tahu dari mana akar kebiasaan atau pola pikir yang menghambatnya berasal. 

Riset Teachers Institute merangkum hasil studi kembar selama lebih dari lima dekade menunjukkan bahwa sifat psikologis manusia tidak hanya terpengaruhi oleh faktor keturunan. Namun juga oleh lingkungan tempat individu tumbuh dan berkembang. Lebih dari 14,5 juta pasang kembar, pengaruh kedua faktor tersebut ada berada pada proporsi yang hampir seimbang, yaitu sekitar 50% dari faktor genetik dan 50% dari faktor lingkungan. Temuan ini menunjukkan bahwa lingkungan bukan sekadar pelengkap dalam proses perkembangan manusia, melainkan faktor yang memiliki pengaruh besar terhadap siapa seseorang nantinya. 

Pengaruh Lingkungan bagi Pertumbuhan

Kepribadian manusia bukan semata-mata bawaan lahir. Ia terbentuk dari kombinasi faktor genetik (30% hingga 60%) dan lingkungan. Menariknya adalah lingkungan bahkan bisa “menyalakan” gen tertentu yang sebelumnya tidak aktif. Misalnya, anak yang tumbuh dalam pengabaian, penuh tekanan atau kesulitan ekonomi cenderung mengembangkan sifat yang mudah emosional atau impulsif. Bukan karena faktor keturunan semata, melainkan karena tekanan lingkungan yang memicu ekspresi pada mereka. Sementara, mereka yang besar dalam lingkungan sehat, aman, dan penuh motivasi, cenderung memiliki temperamen tenang karena lingkungan baik ikut memengaruhi cara mereka berkembang. 

Baca Lainya  Glass Ceiling: Wujud Nyata Diskriminasi Perempuan dan Gender

Lingkungan ternyata tidak hanya menjadi tempat seseorang tumbuh, tetapi juga ikut membentuk siapa diri mereka. Orang-orang di sekitar kita sangat berpengaruh terhadap pengalaman emosional yang mereka alami, dari lingkungan sosial dan budaya. Dari keluarga yang menjadi fondasi awal dibentuk, pola asuh, serta pertemanan di luar rumah. Pendidikan dan kondisi ekonomi akan membentuk sikap kepekaan & ketelitian terhadap dunia. Relasi mengajarkan kita soal kepercayaan dan batas diri. Sedangkan trauma yang kita alami dapat memengaruhi cara seseorang berpikir, bertindak, dan melihat dunia luar.

Artinya, banyak hal dalam diri manusia terbentuk bukan secara tiba-tiba, melainkan dari pengalaman dan lingkungan yang terus mereka jalani. Kepribadian dapat berubah secara signifikan sepanjang hidup, baik secara sengaja maupun tidak sengaja. Sisi negatifnya mereka tidak bisa berkembang jika terlibat di lingkungan yang kurang sehat, mudah terpengaruh hal negatif atau mereka tidak menyadari kenapa diri mereka bisa seperti sekarang. 

Memilih Lingkungan yang Tepat

Mengetahui bahwa lingkungan dapat membentuk diri kita bukan berarti harus pasrah. Justru dengan kesadaran ini, kita bisa mulai mengambil kendali. Seperti pilih lingkungan secara sadar, karena terbukti membentuk kepribadian. Dengan dikelilingi oleh orang-orang yang inspiratif dan mendukung pertumbuhan adalah investasi terbaik untuk diri sendiri. Mungkin di era digital sekarang kita juga perlu membatasi paparan konten negatif dan kita harus mengonsumsi konten yang membangun wawasan dan pola pikir positif.

Selain itu, kita juga bisa melalukan terapi atau self-directed melalui teknik CBT (Cognitive Behavioral Therapy). Latihan mandiri ini yang membantu seseorang memahami hubungan antara pikiran, emosional dan perilaku agar dapat membentuk pola yang lebih sehat. Perubahan dapat terjadi melalui neuroplastisitas, di mana otak membangun pola baru berdasarkan kebiasaan yang dilatih secara sadar.

Baca Lainya  Suara Perempuan yang Hilang di Tengah Krisis Iklim

Dari berbagai riset di atas, membuktikan bahwa lingkungan di sekitar membentuk siapa kita. Sama kuatnya dengan genetik yang kita bawa sejak lahir. Budaya, kondisi ekonomi, pergaulan, bahkan tempat tinggal, semua itu bakal meninggalkan jejak nyata dalam kepribadian. Kita tidak sepenuhnya menjadi korban dari lingkungan yang pernah membentuk kita. Dengan kesadaran, kita memiliki kekuatan untuk memilih lingkungan baru yang lebih baik dan secara aktif membentuk versi diri kita yang ingin kita wujudkan.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *