Pasti bukan hal asing lagi bagi kita melihat seorang perempuan berpenampilan layaknya laki-laki atau sering kita sebut sebagai tomboi. Tidak jarang persepsi yang muncul dari orang yang melihatnya sebagai sebuah penampilan yang tampak mandiri dan keren. Beda cerita saat ada laki-laki yang menggunakan gaya perempuan, mulai dari sifatnya, penampilan, gaya bicara, dan barang-barang yang dia sukai lebih dominan pada barang kesukaan perempuan ketimbang laki-laki.
Walau masih dalam satu konteks yang sama namun terdapat perbedaan persepsi antara kedua kasus ini. Sering kali persepsi orang-orang terhadap laki-laki yang menyukai dan mempraktikkan gaya perempuan lebih mengarah pada sikap tak nyaman dan menganggapnya melenceng dari norma masyarakat.
Perbedaan persepsi ini tidak muncul begitu saja, namun tersusun dari ketidaksetaraan antara feminitas dan maskulinitas. Maskulinitas masih teranggap lebih tinggi kedudukannya daripada feminitas. Posisi laki-laki sebagai penyandang maskulinitas tentunya dipandang sebagai seorang yang kuat dan berani. Namun ketika laki-laki tersebut ternyata memiliki ketertarikan terhadap hal yang bersifat femininitas, di mana hal tersebut tidak sejalan dengan persepsi masyarakat mengenai maskulinitas laki-laki. Maka seorang laki-laki tersebut akan mendapatkan persepsi, pandangan, dan sikap yang merendahkan diri mereka.
Bentuk Ekspresi
Dari sini kita bisa mendapat sedikit gambaran umum tentang bagaimana masyarakat memandang. Terdapat keharusan yang tertanam dalam persepsi masyarakat mengenai bagaimana setiap orang harus selaras dalam mengekspresikan gender dengan jenis kelamin. Ekspresi gender sendiri adalah cara setiap orang merepresentasikan diri atas gender yang termiliki biasanya tercermin dalam cara berpakaian, gaya bicara, dan aktivitas sehari-hari yang terkaitkan dengan gender.
Melalui definisi ini, antara perempuan tomboi dan laki-laki feminin merupakan bentuk ekspresi yang tidak selaras dengan apa yang terharapkan dan norma yang ada dalam masyarakat. Perempuan tomboi memiliki ketertarikan terhadap hal-hal yang bersifat maskulin atau mengarah pada hal-hal yang biasa laki-laki gunakan. Sedangkan laki-laki feminin adalah versi laki-lakinya, di mana mereka yang memiliki ketertarikan terhadap hal-hal yang biasa perempuan gunakan, entah sifat, barang, dan aktivitas.
Dalam dua hal ini, keberterimaan perempuan tomboi lebih mudah ketimbang laki-laki feminin. Ini karena perempuan maskulin lebih dekat pada kelas dominan dalam masyarakat. Di mana maskulinitas masih terpandang sebagai sikap yang mayor keberadaannya alih-alih feminin. Laki-laki feminin memiliki penyebutan yang berbeda-beda, namun banci agaknya lebih banyak di mengerti oleh kita semua. Banci lebih sulit masyarakat terima, sebab arah sikapnya adalah kepada feminin yang dalam kebanyakan masyarakat kita teranggap kurang terpandang keberadaannya daripada maskulin.
Dominasi Gender
Stereotipe maskulin mengharuskan laki-laki untuk menjadi terhormat dan berani. Beberapa ada yang menganggap menjadi laki-laki berarti bertindak maco sebagai kunci. Serta bentuk profesionalitas di tempat ia bekerja, bergaul, dan di tempat di mana orang lain bisa melihatnya. Adapun laki-laki yang kemudian bersikap sopan, lemah lembut, mungkin akan teranggap lemah dan akan terkucilkan di tempat kerja atau sekolah karena tidak berperilaku seperti laki-laki lainnya di tempat tersebut.
Sifat yang dianggap mencerminkan sikap feminin tersebut ketika diadopsi oleh laki-laki dan meninggalkan sifat maskulinnya akan dipandang lebih rendah. Sebab maskulinitas di masyarakat kita ditempatkan di hierarki sosial tertinggi. Dalam hal ini, femininisme memiliki perspektif yang memperlihatkan bahwa patriarki tidak hanya membatasi perempuan, tetapi juga laki-laki.
Sistem patriarki membentuk tatanan sosial yang menempatkan feminitas berada di bawah maskulinitas. Perempuan yang kemudian memiliki keterkaitan terhadap sikap maskulinitas akan lebih mudah diterima. Sebab maskulinitas tersebutlah yang menjadi tiket untuk lebih mudah diterima oleh masyarakat kita saat ini. Penerimaan terhadap perempuan tomboi dan penolakan terhadap laki-laki feminin adalah bukti ketidaksetaraan dan perbedaan penerimaan terhadap maskulinitas dan femininitas.[]

