Di Bawah Garis Kelayakan: Tekanan Ekonomi & Cinta

Sumber Gambar: istockphoto.com

Pernah ada momen ketika seorang laki-laki berdiri diam bukan di depan cermin, melainkan di dalam kepalanya sendiri dan bertanya: apakah aku sudah cukup secara ekonomi untuk layak dicintai? Bukan cukup sebagai manusia. Bukan cukup sebagai sosok yang hangat, jujur, atau hadir. Melainkan cukup secara angka. Cukup secara nominal. Cukup untuk berdiri di samping seseorang yang ia cintai tanpa harus meminta maaf atas kondisi hidupnya yang penuh dengan tekanan ekonomi. Saya adalah laki-laki itu. Dan saya yakin, jutaan laki-laki lain pun merasakannya.

Tidak ada yang secara eksplisit mengajarkan bahwa cinta itu bersyarat. Tidak ada buku teks yang menyatakannya. Tetapi pesan itu tetap sampai melalui pertanyaan saudara jauh di meja makan lebaran, “Udah kerja di mana? Gajinya cukup?”, yang terdengar basa-basi tetapi terasa seperti penilaian. Melalui cerita teman yang hubungannya kandas bukan karena tidak saling mencintai, tetapi karena orang tua si perempuan menganggap si laki-laki belum mapan.

Melalui konten media sosial yang tanpa henti memajang standar mobil, apartemen, liburan sebagai bukti bahwa seseorang siap untuk dicintai. Tanpa disadari, seorang laki-laki mulai mengukur dirinya bukan dengan kedalaman karakternya, melainkan dengan angka. Dan ketika angka itu terasa kurang, ia memilih diam. Bukan karena tidak mau mencintai. Tetapi karena merasa belum berhak.

Angka Statistik yang Mencekik Laki-laki

Kita hidup di zaman data. Semua hal yang berkaitan dengan standar keuangan menjadi tolok ukur dalam menjalani kehidupan. Stabilitas finansial secara konsisten mendominasi daftar kriteria utama dalam memilih pasangan fenomena ini bukan sekadar anekdot, melainkan pola sosial yang para peneliti telah dokumentasikan. Laki-laki membaca narasi ini. Mereka mengolahnya. Pada sebagian besar dari mereka, kesimpulan yang muncul sederhana sekaligus menyakitkan: jika kau miskin, kau tidak menarik; jika kau tidak menarik, kau tidak layak dicintai.

Baca Lainya  Kontemplasi Perempuan Salihah

Seorang laki-laki yang baru merintis karier, yang gajinya masih pas-pasan, yang hidupnya masih dalam proses ia tidak hanya berjuang melawan kondisi ekonominya. Ia juga berjuang melawan narasi sosial yang menempatkannya di bawah garis kelayakan, seolah perasaannya tidak valid sampai rekeningnya membuktikan sebaliknya.

Yang paling merusak dari tekanan ini bukan penolakan. Penolakan bisa kita hadapi, bisa kita sembuhkan. Yang paling merusak adalah diam keputusan untuk tidak pernah mencoba, untuk memendamkan perasaan sebelum sempat kita ungkapkan, karena takut jawaban yang akan kita terima bukan “tidak”, melainkan “belum cukup.”

Berapa banyak laki-laki yang memilih bungkam bukan karena tidak ada rasa, melainkan karena merasa tidak layak bersuara? Berapa banyak perasaan yang tidak pernah tumbuh karena rasa malu atas kondisi ekonomi telah memangkasnya lebih dulu? Diam itu tidak gratis. Ia menuntut bayaran berupa bertahun-tahun kesendirian yang tidak dipilih, dengan keyakinan yang mengakar bahwa nilai diri seorang laki-laki sebanding dengan apa yang bisa ia berikan secara material.

Ekonomi dan Kapitalisme

Kita perlu jujur tentang akar masalah ini. Tekanan ekonomi dan kapitalisme sistem yang mengajarkan bahwa segala sesuatu punya nilai tukar tidak berhenti di pasar saham atau pusat perbelanjaan. Ia meresap ke dalam cara kita menilai manusia. Ia mengubah hubungan menjadi semacam negosiasi: apa yang bisa kamu tawarkan, dan apakah itu sebanding dengan yang aku minta?

Dalam negosiasi itu, laki-laki yang kekurangan secara ekonomi selalu kalah sebelum bertanding. Bukan karena ia tidak punya hal lain untuk ditawarkan kesetiaan, kejujuran, kehadiran tetapi karena hal-hal itu sulit kita kuantifikasi. Tidak bisa kita tampilkan dalam angka. Dan di dunia yang menilai segala sesuatu dari permukaan, kedalaman karakter sering kali kalah dengan ketebalan dompet.

Baca Lainya  Kesetaraan Gender di Dunia Kerja: antara Peluang dan Tantangan

Saya tidak menulis ini untuk menyalahkan siapa pun. Perempuan yang menginginkan keamanan finansial tidak salah mereka merespons dunia nyata yang memang tidak berpihak pada yang lemah secara ekonomi. Tetapi kita perlu, sebagai masyarakat, mulai mempertanyakan narasi yang kita wariskan: bahwa nilai seorang laki-laki setara dengan penghasilannya.

Karena selama standar itu tidak kita gugat, akan terus ada laki-laki yang memendam perasaan karena malu pada rekeningnya. Akan terus ada cinta yang layu bukan karena tidak ada perasaan, tetapi karena perasaan saja dianggap tidak cukup. Padahal justru di situlah seharusnya cinta dimulai: dari dua orang yang memilih satu sama lain bukan karena angka memaksa, tetapi karena memang ingin. Karena cinta yang berdiri di atas angka akan selalu rapuh ia bertahan hanya selama angkanya tidak berubah.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *