Perempuan dalam Kuasa Media Digital

Sumber Gambar: bbc.com

Bagaimana jika selama ini perempuan tidak benar-benar menjadi diri sendiri di media sosial? Sekilas pertanyaan itu terdengar berlebihan. Bukankah setiap orang bebas mengunggah apa pun yang mereka inginkan? Bukankah media sosial memberi ruang bagi perempuan untuk berbicara, berkarya, dan tampil di publik? Namun, mengapa semakin banyak perempuan mengikuti standar tertentu agar orang lain menerima dan menghargai mereka? Mengapa menjadi diri sendiri terkadang terasa lebih sulit daripada mengikuti tren yang sedang ramai di media sosial?

Hari ini, kehidupan perempuan tidak hanya berlangsung di dunia nyata, tetapi juga di dunia maya. Banyak aktivitas yang sebelumnya bersifat personal kini menjadi konsumsi publik. Perempuan menampilkan cara berpakaian, gaya hidup, penampilan, hingga aktivitas sehari-hari sebagai bagian identitas digital mereka di media sosial. Selain menyediakan ruang berkomunikasi, budaya digital juga mampu memengaruhi cara perempuan dalam menilai dan memahami diri sendiri.

Perempuan di Bawah Tatapan Layar

Saat ini, media sosial terus menampilkan dan mengulang standar kecantikan tertentu melalui beragam konten yang beredar setiap hari. Berbagai konten di media sosial sering menampilkan wajah mulus tanpa noda, tubuh proporsional, hidung mancung, kulit glowing, dan penampilan yang selalu estetik sebagai gambaran perempuan ideal. Tren glow up, clean girl aesthetic, hingga maraknya operasi plastik di kalangan public figure turut memperkuat standar tersebut.

Berbagai citra perempuan ideal yang terus memenuhi layar gawai tanpa sadar mendorong banyak perempuan untuk membandingkan diri dengan standar yang ada di media sosial. Kekhawatiran akan penilaian negatif mendorong banyak perempuan enggan menampilkan diri di media sosial ketika merasa penampilannya tidak sesuai dengan standar yang berlaku di ruang digital.

Fenomena ini menunjukkan bahwa media sosial tidak hanya menyediakan ruang untuk berekspresi, tetapi juga menghadirkan standar-standar baru yang memengaruhi perilaku penggunanya. Perempuan akhirnya menyadari bahwa penampilan tertentu lebih mudah memperoleh perhatian dan apresiasi daripada yang lain. Kondisi ini, membuat penerimaan sosial sering kali tampak bergantung pada seberapa dekat seseorang dengan standar yang berlaku.

Baca Lainya  Saya Melihat Mereka Berjuang: Di Balik Kisah Bangku Kuliah Perempuan

Tren Mengarahkan Cara Perempuan Tampil

Banyak orang menganggap media sosial sebagai ruang yang bebas dan demokratis. Siapapun dapat membuat konten dan menyampaikan pendapat. Akan tetapi, kebebasan tersebut tidak sepenuhnya berlangsung tanpa pengaruh kekuasaan.

Pemikiran Gayatri Chakravorty Spivak tentang subaltern dapat membantu membaca fenomena ini. Spivak menjelaskan bahwa kekuasaan yang dominan seolah memberi ruang berbicara kepada kelompok subordinat, padahal suara mereka dipengaruhi oleh kekuasaan tersebut. Dalam konteks budaya digital, perempuan dapat menyuarakan pendapat dan menampilkan diri di media sosial. Namun, algoritma dan tren sering kali menentukan konten atau ekspresi mana yang layak mendapatkan perhatian, sehingga konten yang tidak sesuai mudah tenggelam di tengah derasnya arus informasi.

Algoritma media sosial bekerja dengan menampilkan konten yang menarik dan berpotensi memperoleh interaksi tinggi. Akibatnya, pengguna terdorong untuk menyesuaikan diri dengan pola-pola yang populer di media sosial. Konten yang seragam dengan tren akan lebih mudah muncul di beranda pengguna lain, sementara konten yang berbeda sering kali tenggelam di antara arus informasi yang begitu deras.

Dalam situasi tersebut, perempuan secara tidak langsung untuk mengikuti standar tertentu. Namun, perempuan secara perlahan menyesuaikan diri dengan standar yang berkembang di ruang digital. Di titik inilah relasi kuasa bekerja dalam bentuk yang berbeda. Jika dahulu kuasa kolonial menjadi relasi yang membungkam suara subordinat, kini kuasa tersebut hadir melalui standar-standar yang terbentuk oleh budaya dan algoritma digital. Akibatnya, perempuan sering kali berada pada posisi yang harus menyesuaikan diri dengan logika ruang digital agar dapat diterima, dilihat, dan memperoleh pengakuan.

Menjadi Terlihat atau Menjadi Diri Sendiri?

Persoalan lain yang muncul dalam dunia digital adalah budaya validasi. Jumlah pengikut, tanda suka, komentar, dan jumlah tayangan sering kali menjadi tolak ukur keberhasilan seseorang di media sosial. Semakin tinggi angka yang diperoleh, semakin besar pula pengakuan yang diterima.

Baca Lainya  Lanny Kuswandi: Penggagas dan Pakar Hypno-Birthing Indonesia

Budaya semacam ini dapat memengaruhi cara perempuan dalam memandang diri sendiri. Alih-alih membangun nilai diri dari kemampuan, karakter, dan pengalaman hidup. Namun, banyak perempuan justru menilai diri berdasarkan respons publik. Di sisi lain, hal tersebut membuat budaya membandingkan diri semakin sulit dihindari. Media sosial menghadirkan potongan-potongan kehidupan yang tampak sempurna tanpa menampilkan realitas yang sebenarnya.

Ketika kondisi ini berlangsung secara terus-menerus, perempuan muda beresiko lebih sibuk membangun citra yang sesuai standar publik dibandingkan mengenali dirinya sendiri. Padahal, proses memahami dan menerima diri merupakan bekal penting untuk masa depan. Identitas seharusnya tumbuh dari kesadaran diri, bukan melalui tren yang terus berubah seiring perkembanga zaman.

Menjaga Suara Diri di Tengah Ramainya Dunia Maya

Tentu tidak adil jika media sosial sepenuhnya menjadi kambing hitam. Dalam berbagai kesempatan, platform digital justru membantu perempuan membangun komunitas, memperoleh akses informasi yang mudah, mengembangkan usaha, hingga memperjuangkan berbagai isu sosial. Banyak perempuan berhasil memanfaatkan media sosial sebagai sarana pemberdayaan diri.

Namun, manfaat tersebut tidak akan optimal apabila perempuan tidak memiliki kesadaran kritis dalam menggunakannya. Penting untuk menyadari bahwa yang terlihat di media sosial hanya sebagian kecil dari realitas. Pada akhirnya, tantangan perempuan di era digital bukan sekadar memperoleh ruang untuk berbicara.

Tantangan yang lebih besar adalah mempertahankan kebebasan dan keberanian untuk tetap menjadi diri sendiri di tengah arus budaya digital yang terus membentuk cara manusia berpikir dan bertindak. Sebab, di tengah gemerlap dunia maya, suara yang paling mudah hilang justru sering kali adalah suara asli dari diri kita sendiri.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *