Maskulinitas di Balik Megahnya Industri Jepang

Sumber Gambar: gemini.google.com

Ketika seorang kawan pria kembali dari perantauan dengan modal usaha ratusan juta, respons kolektif masyarakat kita hampir selalu berpola seraga. “Wah, sudah jadi pria sukses sekarang, benar-benar laki-laki sejati“. Riuh tepuk tangan, decak kagum, dan puja-puji sosial langsung menyergap ruang dengar masyarakat. Di kampung halaman, ia seketika naik kelas menjadi barometer keberhasilan baru karena berhasil membeli petak sawah, merenovasi rumah orang tua, atau mencicil hunian di perumahan. Namun, di balik lampu panggung kegemilangan ekonomi tersebut, ada ruang yang amat tersembunyi. Sebuah realitas tentang alienasi diri di balik seragam pabrik, ia memaksa kering air matanya karena tabu menumpahkannya. Inilah wajah ganda beban maskulinitas pekerja migran yang membayangi derap masif industri Jepang.

Daya pikat Negeri Sakura sebagai magnet ekonomi baru memang menarik perhatian banyak pihak. Data mutakhir mencatat ada lebih dari 169.000 pekerja migran Indonesia di Jepang. Fakta yang menempatkan mereka sebagai salah satu gelombang ekspatriat dengan pertumbuhan paling progresif. Namun, layaknya koin dengan dua sisi, kegemilangan finansial ini berkelindan erat dengan sistem patriarki yang memperlakukan laki-laki tak ubahnya mesin produksi.

Sementara sektor domestik atau perawatan jamak menampung pekerja perempuan. Mayoritas pekerja laki-laki harus berjibaku pada sektor berat berkategori 3D (Dirty, Dangerous, Demeaning) seperti manufaktur, konstruksi, dan perkapalan. Di sinilah “stoikisme paksaan” menjebak mereka. Sebuah kondisi psikologis yang menuntut pria untuk menormalisasi rasa sakit demi menunaikan tuntutan ekonomi tulang punggung keluarga.

Patriaki Bumerang “Pilihan Sendiri”

Dalam bukunya, The Will to Change: Men, Masculinity, and Love (2004), pemikir feminis bell hooks mengupas tuntas bagaimana patriarki sebenarnya melukai laki-laki dengan cara yang sangat subtil, yaitu menuntut mereka membunuh perasaan mereka sendiri. Masyarakat mendoktrin laki-laki sejak dini bahwa untuk menjadi nyata, mereka harus sanggup memikul beban maskulinitas tanpa mengeluh. Tuntutan ini memicu keterasingan emosional (emotional alienation), sebuah fase di mana pria kehilangan kontak dengan bahasa emosinya sendiri demi mematuhi ekspektasi publik.

Baca Lainya  Otoritas Keluarga dan Reproduksi Sistem Patriarki

Menariknya, tekanan maskulinitas ini kerap kali hadir dalam bentuk pilihan yang tampak sukarela. Ambisi pribadi menggerakkan mayoritas pria—baik melalui Program Pemagangan (Ginou Jisshusei) maupun Pekerja Berketerampilan Khusus (SSW/Tokutei Ginou). Upah minimum regional Tokyo yang menyentuh angka ¥1.226 per jam (setara dengan Rp137.800). Upah tersebut berhasil memikat mereka untuk bertekad mengubah nasib, melunasi utang modal keberangkatan, dan menaikkan harkat keluarga di mata tetangga. Namun, otonomi pilihan ini justru kerap memukul balik mereka bagai bumerang.

Menghukum Diri dalam Ketatnya Industri Jepang

Ketika seseorang memilih jalannya sendiri, ia secara tidak sadar sedang menutup pintu bagi haknya untuk mengeluh. Muncul narasi internal yang toksik, “Ini jalan yang kamu pilih, maka telanlah semua kepahitannya sendiri.” Pola pikir ini mengonfirmasi pemikiran hooks bahwa laki-laki memandang kerentanan sebagai sebuah aib besar, sebab dalam kacamata patriarki, menjadi rapuh adalah bentuk penghinaan terhadap kejantanan. Para pekerja harus membayar mahal ambisi untuk menaklukkan pasar kerja global ini dengan mengabaikan total tekanan mental. Lingkungan kerja Jepang yang terkenal rigid, disiplin ekstrem, dan minim toleransi.

Realitas kelam ini bukanlah sekadar isapan jempol, melainkan tragedi kemanusiaan yang nyata. Rekam jejak migrasi tenaga kerja kita sempat terguncang ketika laporan resmi Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Tokyo. Laporan tersebut mengenai seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) laki-laki berusia 22 tahun asal Jawa Tengah. Ia ditemukan meninggal akibat bunuh diri di Prefektur Saitama pada 25 Agustus 2022. Peristiwa tragis ini terjadi setelah ia menapakkan kaki dan bekerja selama kurang lebih empat bulan di sana.

Alarm Karo-Jisatsu dan Desakan Memanusiakan Pahlawan Devisa

Kasus karo-jisatsu (bunuh diri akibat kerja berlebihan) ini menjadi alarm keras tentang betapa rapuhnya pertahanan mental para pekerja kita saat menabrak dinding rigid korporasi asing. Hambatan bahasa dan kendala komunikasi mengisolasi mereka secara sosial, sementara tuntutan target industri yang ketat terus menguras energi. Di titik inilah badai psikologis menjadi sempurna, mereka harus menghadapi tekanan mental pekerja Jepang yang ekstrem, di sisi lain beban finansial utang keberangkatan mengikat mereka untuk memaksa ego maskulin tetap bertahan dan berpura-pura baik-baik saja demi menjaga ekspektasi sukses pekerja migran di mata keluarga.

Baca Lainya  Dinamika Perempuan dan Patriarki dalam Masyarakat Modern

Sudah masanya kita memperluas spektrum advokasi gender. Selama ini, wacana ketimpangan gender cenderung menempatkan laki-laki semata-mata sebagai subjek pelaku atau penonton yang nyaman. Padahal, struktur sosial-ekonomi kapitalistik meletakkan beban ekspektasi yang juga menempatkan laki-laki di posisi rentan. Di ruang-ruang produksi, ketukan ritme mesin melebur identitas pekerja pria, yaitu industri menuntut mereka untuk fungsional, presisi, dan haram untuk limbung.

Gejala ini mengkristal ketika para pekerja pria lebih memilih mengalihkan stres lewat jam lembur yang masif ketimbang mencari ruang untuk bercerita. Ada ketakutan bahwa jika mereka menunjukkan lelah, atau memilih pulang sebelum masa kontrak usai karena tidak kuat secara psikologis, cemoohan sebagai “produk gagal” telah mengantre di kampung halaman. Demi merawat ekspektasi sukses pekerja migran, mereka memilih bertaruh dengan kewarasan batinnya sendiri. Padahal, mengakui keterbatasan adalah bagian paling organik dari menjadi manusia.

Sisi Rapuh Maskulinitas yang Terabaikan

Isolasi emosional ini diperparah oleh ketiadaan sistem pendukung psikologis yang sensitif gender bagi pekerja asing laki-laki memperparah isolasi emosiaonal. Konstruksi sosial telanjur mendikte bahwa layanan kesehatan mental hanya diperlukan oleh mereka yang dianggap “lemah.” Ketika seorang pekerja migran pria mulai mengalami distres atau depresi, ia tidak memiliki kosakata yang dirasa valid untuk mengomunikasikan kerapuhannya tanpa harus merasa kehilangan harga diri sebagai seorang lelaki. Alih-alih mendapatkan pertolongan, tuntutan target industri menjebak mereka dalam tubuh yang harus tetap bugar, sementara batin mereka perlahan-lahan runtuh dalam kesunyian kamar magang mereka.

Solidaritas terhadap perjuangan pekerja migran perempuan yang menghadapi kerentanan berlapis di luar negeri tentu tetap menjadi hal krusial. Namun, ada urgensi besar untuk mulai membuka tirai tabu yang selama ini menutup mata publik. Bahwa di balik kokohnya pundak para pria di garis perakitan industri, ada luka psikologis mendalam yang juga menuntut ruang untuk diakui dan dipulihkan.

Baca Lainya  Dunia Tanpa Perempuan

Pada akhirnya, tolok ukur keberhasilan tidak boleh lagi mereduksi indeks pencapaian seorang pekerja migran secara dangkal pada deretan aset fisik, megahnya rumah yang mereka bangun, atau luasnya sawah yang mereka tebus. Wacana ini menuntut redefinisi radikal atas makna kesuksesan itu sendiri. Kultur melegalkan bentuk eksploitasi kemanusiaan ketika seseorang membeli kemapanan ekonomi dengan cara mengorbankan stabilitas batin.

Selama masyarakat masih memandang pria hanya sebagai robot ekonomi penumpuk remitansi, selama itu pula kita sedang memelihara dehumanisasi. Mengakui adanya tekanan struktural ini adalah langkah awal yang krusial untuk memanusiakan kembali para pahlawan devisa kita. Sebab jauh sebelum sistem mencatat mereka sebagai operator, buruh, atau mekanik, mereka adalah manusia yang memiliki batas lelahnya.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *