Manusia yang Melupakan Kemanusiaan

Sumber Gambar: gemini.google.com

Perempuan acapkali mengalami ketidakadilan dan kehilangan haknya sebagai manusia seutuhnya. Masyarakat sering memandang perempuan dengan sudut pandang laki-laki, sampai lupa bahwa perempuan juga memiliki kebebasan atas diri sendiri. Mereka adakalanya menjadikan perempuan sebagai objek penilaian moral. Muncul banyak aturan mengenai bagaimana perempuan harus menjaga diri dan bagaimana kebebasan perempuan dalam mengekspresikan diri.

Namun, sedikit dari masyarakat yang membicarakan mengenai bagaimana manusia menjaga kemanusiaannya. Manusia saat ini semakin mahir membicarakan moral, tetapi sulit untuk mewujudkan kemanusiaan. Di lingkungan yang begitu pelik membicarakan moralitas perempuan, masyarakat justru melupakan kemanusiaan. Perempuan juga hidup untuk dirinya sendiri, bukan semata-mata untuk memuaskan pandangan laki-laki atau memenuhi standar masyarakat.

Perempuan dan Sudut Pandang Laki-laki

Masyarakat tidak memberikan ruang untuk perempuan memiliki tubuhnya sendiri, seakan-akan apa pun yang perempuan lakukan berpusat pada laki-laki. Mereka menganggap perempuan memakai make up untuk mencari perhatian, memakai pakaian terbuka berarti mengundang nafsu, bahkan kerap mengukur cara mengekspresikan diri dari apakah itu pantas dalam pandangan masyarakat dan laki-laki.

Tindakan yang perempuan lakukan bukanlah pertunjukan bagi laki-laki. Kadang, mereka hanya ingin menjadi diri sendiri. Masyarakat terlalu sibuk memahami tubuh perempuan, sampai lupa untuk memperlakukan perempuan sebagai manusia utuh tanpa penghakiman moral. Mereka juga memiliki hak atas hidupnya sendiri tanpa meminta orang lain untuk menilai eksistensinya.

Laura Mulvey melalui konsep male gaze menjelaskan bahwa pandangan laki-laki sering memposisikan perempuan sebagai objek, bukan sebagai individu yang memiliki kehendaknya sendiri. Masyarakat pada akhirnya lebih sering menilai perempuan berdasarkan tubuh dan penampilannya dibandingkan pemikiran maupun pengalaman hidup mereka sebagai manusia. Perspektif laki-laki sering meleburkan makna personal dari apa pun yang perempuan lakukan. Di titik inilah perempuan perlahan kehilangan ruang untuk menjadi diri sendiri. Orang lain tidak lagi memandang perempuan sebagai manusia utuh, melainkan terus-menerus menilai, mengawasi, dan memberi makna pada tubuh mereka sebagai objek.

Baca Lainya  Penjenamaan Pribadi Perempuan: Strategi dan Tantangan di Media Sosial

Tubuh Perempuan sebagai Objek Penilaian

Semua orang merasa memiliki kekuasaan untuk mengatur tubuh perempuan. Akibatnya, mereka sering kali kebablasan dan menganggap tubuh perempuan sebagai properti publik. Ketika perempuan memakai pakaian terbuka mendapatkan stigma buruk atau ketika perempuan takut karena tubuhnya menjadi objek komentar, sebenarnya saat itu juga masyarakat kehilangan kemanusiaannya. Penilaian semacam ini kerap mengatasnamakan moral dan agama.

Kalimat seperti “perempuan harus menjaga diri”, “aurat perempuan untuk suaminya”, atau “perempuan baik-baik tidak berpakaian terbuka” terus-menerus tanpa menyadari bahwa perempuan bukanlah objek hidup untuk memuaskan orang lain. Perempuan adalah manusia yang memiliki hak atas tubuh, pilihan, dan hidupnya sendiri tanpa campur tangan orang lain.

Panjang kain yang menutupi tubuh tidak bisa menentukan harga diri. Harga diri perempuan tidak dapat diukur hanya sebatas penampilan, sebab standar sosial tidak menentukan eksistensi manusia dalam menjalani hidupnya. Ironisnya, banyak orang lebih cepat menilai penampilan daripada memahami pemikiran. Masyarakat menganggap perempuan yang nyaman dengan tubuhnya sebagai sosok yang tidak bermoral, sementara mereka justru menormalisasi komentar-komentar yang menyudutkan perempuan sebagai nasihat maupun candaan.

Kehilangan Moralitas Kemanusiaan

Belakangan ini, media sosial ramai membicarakan diskusi verbal yang dilakukan seorang tenaga pendidik di lingkungan akademik. Percakapan bernada seksual, komentar terhadap tubuh mahasiswi, hingga interaksi yang melampaui batas profesional tersebar luas dan menuai kemarahan publik. Namun, yang lebih menakutkan bukan hanya dugaan tindakan tersebut, melainkan bagaimana menganggap perilaku semacam itu hal biasa. Sebagian orang masih menyebutnya sebagai candaan maupun pujian. Padahal, menjadikan manusia sebagai objektifikasi adalah bukti nyata hilangnya moralitas kemanusiaan dalam diri kita.

Ruang akademik yang seharusnya menjadi tempat aman justru kadang menjadi ruang di mana perempuan belajar membiasakan diri terhadap ketidaknyamanan. Mereka memilih tertawa agar tidak dianggap berlebihan, memilih diam agar tidak mempermalukan institusi, dan menahan rasa tidak nyaman demi menjaga situasi tetap aman. Di lingkungan yang begitu sibuk menentukan benar dan salah, manusia terkadang lupa cara menjadi manusia. Kampus, masyarakat, bahkan lingkungan keagamaan seharusnya tidak hanya mengajarkan moralitas, tetapi juga empati. Sebab moral tanpa kemanusiaan hanya akan melahirkan penghakiman. Tidak ada ajaran yang lebih penting daripada menghargai sesama manusia sebagai manusia.

Baca Lainya  Perempuan dan Perihal Ketidakpatuhan 

Perempuan juga manusia yang memiliki rasa takut, marah, lelah, dan luka. Mereka bukan simbol moral yang harus selalu sempurna, bukan pula objek yang dinilai dari cara berpakaian. Perempuan hidup bukan untuk memenuhi standar masyarakat maupun menjadi hiburan visual bagi laki-laki. Setiap perempuan berhak hidup untuk dirinya sendiri dan merasa nyaman dengan tubuh maupun pilihannya, serta bebas mengekspresikan diri tanpa perlu terus-menerus dihakimi. Barangkali yang  hilang dari kehidupan hari ini bukan hanya rasa aman perempuan, melainkan rasa kemanusiaan itu sendiri.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *