Pikiran Tidak Mau Diam, Perempuan, dan Overthingking

Sumber Gambar: depositphotos.com

Tidak semua pikiran bisa berhenti hanya karena seseorang berkata “gak usah dipikirin.” Bagi sebagian orang terutama perempuan pikiran sering kali berjalan tanpa jeda. Hal-hal kecil seperti nada pesan, perubahan sikap seseorang, hingga ucapan yang terlihat sederhana dapat terus terulang di kepala. Hal tersebut ialah overthingking, yaitu kondisi ketika seseorang memikirkan suatu hal secara berlebihan dan terus menerus hingga sulit mengendalikan pikirannya sendiri. Seseorang yang mengalami overthingking biasanya terus mengulang suatu kejadian, memikirkan kemungkinan buruk, serta merasa cemas terhadap hal-hal yang belum tentu terjadi. Kondisi ini tidak hanya memengarugi pikiran, tetapi juga emosi dan aktivitas sehari-hari.

Berangkat dari pengalaman banyak perempuan, overthingking sering kali muncul karena perempuan cenderung melibatkan perasaan dalam memproses suatu masalah. Perempuan lebih peka terhadap hubungan sosial, suasana emosional, dan penialain orang lain sehingga lebih mudah memikirkan sesuatu secara mendalam. Selain itu budaya yang mengajarkan perempuan untuk menjaga perasaan orang lain dan tidak enakan juga membuat banyak perempuan memendam pikirannya sendiri hingga terus kepikiran dan ketika mencoba untuk mengungkapkannya, justru mereka menganggap hal itu terlalu berlebihan atau meminta untuk tidak perlu memikirkannya terlalu jauh. Padahal, menghentikan overthinking tidak semudah hanya mendengar kalimat “jangan terlalu memikirkan masalah tersebut.”

Perbedaan Cara Berpikir

Berbeda dengan perempuan, laki-laki cenderung memandang masalah sebagai sesuatu yang harus segera terselesaikan tanpa melibatkan perasaan. Ketika menghadapi suatu persoalan, laki-laki lebih sering berfokus pada Solusi dari pada perasaan yang muncul akibat masalah tersebut. Sementara itu, perempuan cenderung mengolah masalah melalui perasaan yang lebih mendalam dengan mempertimbangkan berbagai kemungkinan dan dampaknya. Perbedaan cara berpiki inilah yang sering membuat perempuan lebih rentan mengalami overthingking, terutama ketika berhadapan dengan persoalan yang berkaitan dengan hubungan sosial maupun perasaan.

Baca Lainya  Perempuan di Puncak Kuasa

Perbedaan cara berpikir antara perempuan dan laki-laki sering menjadi salah satu faktor yang memengaruhi munculnya overthinking. Dalam menghadapi suatu masalah, perempuan cenderung melibatkan perasaan dan mempertimbangkan berbagai aspek secara lebih mendalam. Mereka tidak hanya memikirkan masalah yang sedang terjadi, tetapi juga dampaknya terhadap diri sendiri maupun orang lain. Akibatnya, perempuan sering mengembangkan satu persoalan menjadi berbagai kemungkinan. Mereka juga terus memikirkan kemungkinan tersebut secara berulang.

Sebaliknya, laki-laki cenderung lebih berfokus pada penyelesaian masalah secara langsung. Ketika menghadapi suatu persoalan, mereka biasanya mencari solusi yang mereka nilai paling efektif. Mereka tidak menghabiskan banyak waktu untuk memikirkan berbagai kemungkinan yang belum tentu terjadi. Cara berpikir yang lebih praktis membuat laki-laki relatif lebih mudah mengalihkan perhatian dari masalah yang mereka hadapi. Namun, perbedaan ini tidak berarti bahwa perempuan lebih lemah atau laki-laki lebih kuat dalam menghadapi masalah.

Faktor yang Membuat Perempuan Rentan

Overthingking yang terjadi secara terus-menerus dapat memberikan berbagai dampak dalam kehidupan perempuan. Perempuan yang mengalami overthinking sering merasakan kecemasan yang berlebihan. Setiap individu memiliki cara berpikir yang berbeda. Namun, lingkungan keluarga dan masyarakat sering kali membentuk perempuan agar lebih peka terhadap perasaan, menjaga hubungan sosial, serta memahami kebutuhan orang lain. Kondisi tersebut membuat perempuan terbiasa memikirkan banyak hal secara bersamaan, termasuk hal-hal yang sebenarnya berada di luar kendali mereka.

Kecenderungan perempuan untuk mengalami overthinking juga didukung oleh sejumlah hasil penelitian. Salah satunya berasal dari penelitian yang dikutip oleh Kumparan Woman. Psikolog Susan Nolen-Hoeksema menemukan bahwa 50 persen responden mengalami overthinking. Dari jumlah tersebut, sekitar 30 persen menunjukkan kecenderungan ruminasi. Ruminasi merupakan kecenderungan untuk terus memikirkan pengalaman negatif pada masa lalu tanpa menemukan jalan keluar yang jelas. Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa hanya sebagian kecil responden memiliki pola pikir reflektif yang lebih sehat. Kelompok ini mampu mengelola pikirannya secara lebih positif.

Baca Lainya  Tekanan Sosial Melanjutkan Impian Pendidikan

Overthinking tidak hanya berdampak pada kesehatan mental, tetapi juga dapat memengaruhi produktivitas dan kualitas hidup seseorang. I stres, kecemasan, bahkan depresi. Kondisi ini menunjukkan bahwa overthinking bukan sekadar kebiasaan berpikir berlebihan, melainkan fenomena yang dapat memengaruhi berbagai aspek kehidupan. Pikiran yang terus bekerja menegnai berbagai kemungkinan membuat seseorang sulit merasa tenang, masalah yang belum tentu benar-benar terjadi tetapi terus mereka pikirkan. Akibatnya, perempuan yang mengalami overthingking seringkali merasa lelah secara emosional karena harus menghadapi berbagai skenario yang pikirannya sendiri ciptakan.

Produktivitas dan Percaya Diri

Selain memengaruhi kondisi emosional, overthinking juga berdampak pada produktivitas. Seseorang yang terlalu banyak memikirkan suatu masalah cenderung kesulitan untuk berkonsentrasi pada pekerjaan, perkuliahan, maupun aktivitas sehari-hari. Menggunakan waktu yang seharusnya untuk menyelesaikan tugas sering kali habis untuk memikirkan hal-hal yang belum tentu terjadi. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menurunkan kualitas hidup karena individu menjadi lebih fokus pada kekhawatiran dibandingkan tindakan nyata yang dapat dilakukan.

Dampak lain seperti menurunnya rasa percaya diri. Perempuan yang terbiasa mempertanyakan Keputusan, ucapan, maupun tindakannya sering kali merasa takut melakukan kesalahan, sehingga kebanyakan perempuan memilih untuk diam ketimbang mengutarakan isi perasaannya. Ketakutan tersebut membuat mereka lebih berhati-hati dalam bertindak, bahkan terkadang menghambat mereka untuk mengambil keputusan penting. Tidak jarang pula overthingking menyebabkan seseorang menjadi lebih sensitive terhadap penilaian orang lain sehingga sulit merasa puas terhadap dirinya sendiri.

Oleh karena itu, perempuan perlu belajar mengelola kebiasaan berpikir tersebut dengan lebih sehat. Dengan memahami batas antara refleksi yang bermanfaat dan overthinking yang merugikan, perempuan dapat memanfaatkan kepekaan yang mereka miliki tanpa harus terjebak dalam pikiran yang tidak berujung. Pada akhirnya, pikiran yang tenang bukan berarti tidak pernah memikirkan sesuatu, melainkan mampu mengetahui kapan harus memikirkan suatu masalah dan kapan harus melepaskannya.[]

Baca Lainya  Perempuan dan Iduladha

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *