Pemikiran Pascakolonial: Ketika Bule Menjadi Trofi Status Sosial di Indonesia

Sumber Gambar: harian.disway.id

Pemikiran pascakolonial masih memengaruhi cara sebagian masyarakat Indonesia memandang hubungan romantis, kecantikan, dan status sosial. Saya menyadari hal itu ketika membaca sebuah komentar di TikTok yang berbunyi, “Kak, pokoknya kamu harus sama bule.” Komentar tersebut memunculkan pertanyaan sederhana tetapi penting: mengapa harus bule? Mengapa banyak orang masih menganggap identitas Barat sebagai nilai tambah dalam sebuah hubungan?

Sekilas, komentar itu tampak seperti pujian biasa. Namun, komentar tersebut menunjukkan cara pandang yang lebih dalam. Sebagian masyarakat masih menempatkan orang Barat pada posisi yang lebih tinggi dibandingkan kelompok lainnya. Dalam banyak kasus, mereka menghubungkan kedekatan dengan orang Barat dengan prestise sosial dan keberhasilan hidup.

Fenomena ini menunjukkan bahwa kolonialisme tidak hanya meninggalkan jejak dalam sejarah politik. Kolonialisme juga membentuk cara masyarakat menilai diri sendiri dan orang lain. Meskipun Indonesia telah merdeka selama puluhan tahun, pemikiran pascakolonial masih muncul dalam berbagai bentuk di kehidupan sehari-hari.

Pasangan Bule sebagai Simbol Prestise

Media sosial memperlihatkan bagaimana hubungan dengan orang Barat sering menarik perhatian yang lebih besar dibandingkan hubungan pada umumnya. Banyak warganet memberikan pujian berlebihan kepada seseorang yang memiliki pasangan bule. Mereka bahkan menganggap hubungan tersebut sebagai pencapaian yang membanggakan.

Cara pandang itu menunjukkan bahwa sebagian masyarakat masih menilai seseorang berdasarkan asal-usul dan kewarganegaraannya. Mereka tidak lagi melihat hubungan sebagai persoalan kecocokan antarmanusia, tetapi sebagai simbol status sosial. Dalam kondisi seperti ini, pasangan bule berubah menjadi penanda prestise yang dianggap mampu meningkatkan gengsi seseorang.

Padahal, orang Barat juga manusia biasa. Mereka memiliki karakter, latar belakang, pendidikan, dan kondisi ekonomi yang beragam. Tidak semua berasal dari kehidupan yang mapan dan tidak semua memiliki kualitas yang lebih baik dibandingkan orang Indonesia. Namun, sebagian masyarakat tetap memberikan nilai lebih kepada mereka hanya karena identitas yang mereka miliki.

Baca Lainya  Keterlibatan Perempuan dalam Tradisi Intelektual Pesantren

Fenomena tersebut memperlihatkan bagaimana pemikiran pascakolonial bekerja secara halus. Banyak orang terus menghubungkan identitas Barat dengan keberhasilan, kemajuan, dan status sosial yang tinggi. Akibatnya, mereka memandang hubungan dengan orang Barat sebagai bentuk pencapaian sosial.

Warisan Pemikiran Pascakolonial

Fenomena “bule sebagai trofi” tidak muncul tanpa sebab. Kajian pascakolonial menjelaskan bahwa masyarakat bekas jajahan sering membawa warisan cara berpikir yang terbentuk selama masa kolonial. Warisan itu tetap bertahan meskipun sistem penjajahan telah berakhir.

Selama berabad-abad, bangsa Eropa menempati posisi sosial tertinggi dalam struktur kolonial. Mereka menguasai pemerintahan, ekonomi, dan pendidikan. Sementara itu, masyarakat pribumi menempati posisi yang lebih rendah dalam hierarki sosial.

Setelah Indonesia merdeka, struktur politik kolonial memang runtuh. Namun, sebagian masyarakat tetap mengaitkan Barat dengan kemajuan, pendidikan yang lebih baik, kualitas hidup yang tinggi, dan peluang ekonomi yang besar. Cara pandang tersebut kemudian membentuk hierarki baru dalam kehidupan sosial.

Pemikiran pascakolonial muncul ketika masyarakat menganggap Barat sebagai standar keunggulan. Mereka mengukur keberhasilan, kecantikan, bahkan status sosial dengan ukuran yang berpusat pada dunia Barat. Akibatnya, mereka sering meremehkan nilai yang berasal dari identitas dan budaya lokal.

Standar Kecantikan Perempuan

Fenomena ini menjadi semakin menarik ketika dikaitkan dengan perempuan dan standar kecantikan. Komentar “kamu harus sama bule” yang ditujukan kepada perempuan berkulit tan skin menunjukkan bahwa sebagian masyarakat masih menghubungkan kecantikan perempuan dengan pandangan atau selera Barat.

Sebagian orang memberikan nilai lebih kepada perempuan yang mereka anggap sesuai dengan preferensi laki-laki Barat. Cara berpikir tersebut memperlihatkan bahwa validasi dari Barat masih memiliki daya tarik yang kuat dalam imajinasi sosial masyarakat Indonesia.

Padahal, nilai seorang perempuan tidak bergantung pada siapa yang tertarik kepadanya. Perempuan tidak perlu membuktikan kualitas dirinya melalui pengakuan dari kelompok tertentu. Mereka memiliki nilai karena kemampuan, karakter, pengalaman, dan identitas yang mereka bangun sendiri.

Baca Lainya  Mengapa Orang Tua Melihat Pernikahan Dini sebagai "Penyelamat" ketimbang Pendidikan?

Ketika masyarakat menganggap pengakuan dari Barat lebih bergengsi, mereka secara tidak langsung menempatkan identitas lokal pada posisi yang lebih rendah. Pada titik inilah pemikiran pascakolonial bekerja melalui budaya populer, media sosial, dan interaksi sehari-hari.

Merdeka dari Mentalitas Kolonial

Mengagumi budaya asing bukanlah sebuah kesalahan. Menjalin hubungan dengan seseorang dari negara lain juga merupakan hal yang wajar dalam dunia yang semakin terhubung. Persoalan muncul ketika kekaguman berubah menjadi keyakinan bahwa orang Barat secara otomatis lebih baik, lebih bernilai, atau lebih membanggakan daripada diri kita sendiri.

Kita perlu jujur kepada diri sendiri. Berapa banyak orang yang merasa lebih bangga ketika memiliki pasangan bule dibandingkan pasangan dari bangsanya sendiri? Berapa banyak orang yang merasa “naik kelas” ketika terlihat dekat dengan ekspatriat? Pertanyaan-pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa sebagian masyarakat masih membawa luka kolonial yang belum sepenuhnya sembuh.

Karena itu, masyarakat perlu membangun cara pandang yang lebih setara. Kita perlu menghargai seseorang berdasarkan karakter, kompetensi, dan kemanusiaannya, bukan berdasarkan warna kulit, ras, atau kewarganegaraannya. Media, dunia pendidikan, dan ruang digital juga perlu menghadirkan representasi yang lebih beragam agar masyarakat tidak terus-menerus menganggap standar Barat sebagai satu-satunya ukuran nilai.

Kemerdekaan sejati tidak hanya berarti terbebas dari penjajahan politik. Kemerdekaan juga berarti terbebas dari mentalitas yang membuat kita merasa lebih rendah daripada bangsa lain. Sebab yang perlu kita perjuangkan hari ini bukan lagi kemerdekaan dari penjajahan fisik, melainkan kemerdekaan dari cara berpikir yang membuat kita terus mengagungkan orang lain sambil meragukan nilai diri sendiri.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *