Tekanan Sosial Melanjutkan Impian Pendidikan

Sumber Gambar: rri.co.id

“Masa depan perempuan itu sudah pasti di dapur. Mau berpendidikan atau tidak ujungnya tetap sama. Jadi, buat apa melanjutkan pendidikan?” begitulah kalimat yang sering masyarakat penganut budaya patriarki lontarkan. Lagi-lagi perempuan berhadapan dengan tekanan sosial yang merendahkan martabatnya.

Bukankah pendidikan merupakan hak bagi setiap insan tanpa memandang jenis kelamin?Perempuan juga memiliki cita-cita, keinginan untuk berkembang, serta harapan untuk meraih masa depan yang lebih cerah melalui pembelajaran. Namun, pada kenyatannya perempuan harus bergelut dengan stigma masyarakat akan perempuan yang melanjutkan pendidikan.

Hingga saat ini, bagi sebagian masyarakat menjadi perempuan itu masa depannya hanya di dapur. Padahal itu perihal gender bukan kodrat. Perempuan juga bisa melanjutkan jalan pedagogis, perempuan berhak memilih jalan hidupnya, perempuan juga seharusnya mendapat kebebasan untuk menata masa depannya sendiri.  Akan tetapi, masih banyak masyarakat yang memandang pendidikan perempuan dengan sebelah mata.  

 Tekanan Sosial yang Timpang  

Penilaian masyarakat terhadap perempuan yang mementingkan pendidikan sangatlah timpang jika daripada dengan laki-laki. Laki-laki mendapat dukungan untuk melanjutkan pembelajaran sedangkan perempuan harus memanggul stigma masyarakat bahwa memilih menempuh didikan teranggap sebagai hal yang melawan norma. Perempuan seperti berada dalam penjara tekanan sosial buatan masyarakat.

Masyarakat masih terjebak pada pemikiran tradisional yang membedakan kesetaraan yang seharusnya tercipta antara laki-laki dan perempuan. Melupakan apa yang telah Raden Ajeng Kartini perjuangkan. Bahkan menganggap perempuan membuang-buang waktunya apabila ia memilih untuk mengenyam pembelajaran tinggi.

Pandangan masyarakat tersebut mengekang perempuan. Akibatnya banyak perempuan yang harus memikul beban tekanan sosial. Sebagian masyarakat menganggap perempuan yang terlalu fokus pada pendidikan akan sulit mendapatkan pasangan, menjadi terlalu mandiri atau bahkan melupakan perannya sebagai perempuan. Tidak sedikit perempuan yang mendapat tekanan sosial karena mengejar pendidikan dan cita-cita yang mereka impikan.

Baca Lainya  Mengukir Makna dalam Ilusi Waktu: Refleksi Mahasiswa di Ruang Akademik

Pandangan seperti inilah yang membuat perempuan berada di antara mimpi melanjutkan pendidikan dan tekanan sosial yang terus membatasi langkah mereka. Beberapa perempuan akhirnya memilih mengubur impiannya melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi demi memenuhi ekspektasi sosial dan menghindari penilaian negatif dari lingkungan sekitar.

Dampak Kesehatan Mental

Apabila terus berlanjut, hal tersebut dapat berdampak terhadap kesehatan mental perempuan. Perempuan akan merasa kehilangan kepercayaan diri dan kebanggaan atas identitasnya sebagai seseorang yang sedang belajar dan punya mimpi. Kehilangan keyakinan ini menghambat inisiatif perempuan untuk belajar, berpartisipasi dalam ruang publik, dan mengambil keputusan penting dalam hidup.

Padahal di sisi lain kemampuan itu penting untuk kemandirian dan kesejahteraan perempuan. Di tingkat keluarga dan masyarakat, pola rantai diskriminatif yang tidak segera kita putus juga berisiko menjadi kebiasaan yang terwariskan turun-temurun. Dengan begitu, generasi berikutnya tumbuh dalam norma yang membatasi peran dan potensi perempuan.

Justru pendidikan memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas hidup dan membangun masa depan perempuan yang lebih baik. Dengan jalan pedagogis, perempuan tidak hanya memperoleh ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki kemampuan untuk berpikir kritis, mandiri, dan berani mengambil keputusan dalam hidupnya. Berdasarkan penelitian Yunika, dkk (2024) dalam “Peran Pendidikan Dalam Meningkatkan Kesejahteraan Perempuan Di Negara Berkembang” menegaskan bahwa pendidikan tinggi memberikan pengaruh yang menguntungkan pada kualitas hidup secara keseluruhan yang oleh perempuan alami.

Perempuan yang memiliki kualifikasi pendidikan tingkat lanjut menunjukkan pemahaman yang tinggi tentang hak mereka dan mahir dalam mempertahankan identitas individu mereka. Selain itu, mereka menunjukkan peningkatan kesadaran mengenai pentingnya kesehatan dan cenderung mengadopsi perilaku yang meningkatkan kesehatan, yang secara positif mempengaruhi generasi berikutnya. Oleh karena itu, pendidikan tinggi bagi perempuan semestinya dipandang sebagai bentuk kemajuan, bukan ancaman terhadap nilai sosial maupun budaya.

Baca Lainya  Menjaga Kesehatan Mental Perempuan

Untuk itu diperlukan upaya dalam memberantas stigma masyarakat terhadap perempuan yang melajutkan pendidikan. Salah satu langkah awal yang dapat dilakukan adalah dengan mengubah pola pikir masyarakatnya terlebih dahulu. Masyarakat perlu diberikan pemahaman melalui penyuluhan bahwa pendidikan bagi perempuan bukanlah hal yang bertentangan dengan budaya dan peran perempuan. Melainkan sebagai bagian dari pemenuhan hak dan pemberdayaan perempuan. Dengan langkah tersebut diharapkan dapat terciptanya dunia yang ramah terhadap perempuan.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *