“Seorang ibu memberi pelajaran dan bapak memberi contoh, juga ketika ibu memberi kehangatan lalu bapak memberi cahaya”. Kutipan ini termaktub dalam buku berjudul Perempuan: dari Cinta sampai Seks, dari Nikah Mut’ah sampai Nikah Sunnah, dari Bias Lama sampai Bias Baru (2018) karya M. Quraish Shihab. Penulis dengan nama lengkap Muhammad Quraish Shihab lahir pada 16 Februari 1944 di Rappang (kini Sulawesi Selatan), Indonesia.
Beliau seorang cendekiawan muslim dan ahli tafsir Al-Qur’an yang terkenal luas di Indonesia dan dunia Islam. Beliau juga masyhur sebagai penulis produktif dengan puluhan buku di bidang tafsir, kajian sosial-keagamaan, dan isu kontemporer. Melalui pendekatan tafsir Qur’an yang proporsional, beliau menunjukkan bahwa Islam mendukung kesetaraan hak dan kesempatan bagi perempuan dan laki-laki
Pembentukan Watak melalui Perempuan
Dalam sub bab ini, penulis memberi gambaran bahwa ada kesalahpahaman stigma di masyarakat bahwa yang memiliki peran penting dalam pembentukan watak dan pendidikan anak hanya berasal dari perempuan atau ibu saja. Padahal dalam realita antara ibu dan bapak memiliki keterkaitan dan juga saling berdekatan sesuai dengan apa yang Zakaria Ibrahim (seorang pakar psikolofi Mesir) katakan.
Dia menjelaskan bahwa lelaki dan perempuan masing-masing memiliki hormon khusus dan ciri biologis tertentu. Namun salah bila kita menganggap bahwa keduanya seperti dua unit independen yang masing-masing berdiri sendiri karena kenyataannya keduanya saling berkaitan, saling berdekatan, dan berasimilasi.
Sebelum itu, penulis juga menemukan banyak ayat suci Al-Qur’an yang berbicara tentang peranan bapak dalam membentuk watak dan kepribadian anak. Dalam QS. Luqman [31]: 13-19 dan Q.S Al-Baqarah [2]: 133 dan terdapat juga hal serupa dalam beberapa hadis Nabi Muhammad saw.
Peran Lelaki
Kepribadian seorang anak, sedikitnya, terpengaruhi oleh banyak faktor; ibu, bapak, lingkungan dan bacaannya. Peranan ibu dan bapak bermula sejak pembuahan dan berlanjut hingga terbentuknya kepribadian anak. Mengapa? Karena adanya faktor hereditas yang menurun kepada anak melalui ibu dan bapaknya, bukan hanya dalam hal fisik melainkan juga psikis.
Seorang bapak dalam konteks pembentukan watak, terbahas di dalam kitab suci Al-Qur’an untuk mendukung ibu sekaligus memperhatikan anak. Bapak bisa kita ibaratkan sebagai petani yang menanam benih, sedangkan ibu sebagai lahan.
Ketika seorang anak lahir, bapak teranjurkan oleh agama untuk mengumandangkan azan di telinga kanan dan ikamah di telinga kirinya. Di sini memiliki isyarat bahwa adanya peranan bapak dalam menanamkan nilai-nilai spiritual kepada anaknya. Ada tuntutan lain yang tertujukan pada sosok bapak untuk memberi nama yang baik bagi anaknya (dengan kesepakatan keduanya)
Bagaimana dengan perempuan atau ibu?
Kehidupan psikis perempuan terdasarkan atas semacam keseimbangan atau keserasian antara ‘cinta diri’ dan ‘upaya menyakiti diri sendiri’. Penulis juga membahas bagaimana beban reproduksi yang harus terpikul seorang perempuan sendirian, perempuan mengalami sirkulasi bulanan, melahirkan, menyusui, mendidik anak, dan sebagaimana.
Sebagai seorang yang beragama, kita percaya bahwa Tuhan Yang Maha Esa telah menciptakan perempuan sedemikian itu untuk mengemban tugas yang berat. Yakni mendidik dan membentuk watak serta kepribadian si anak. Dalam konteks peranan, perempuan memiliki ‘sifat keibuan’ di mana ketika kekaguman yang tadinya tertuju pada diri sendiri.
Setelah menjadi ibu kekaguman itu berpindah tertuju pada anaknya. Peranan sebagai ibu merupakan peranan yang paling agung, mustahil dilakukan lelaki. Ibulah yang berada di rumah, di sekolah, di rumah sakit, di tempat-tempat bermain, dan lain-lain, khususnya pada masa-masa pembentukan watak dan kepribadian anak.
Konsep Kesalingan
Keduanya memiliki peranan penting dalam pembentukan watak dan kepribadian seorang anak, ada ungkapan tepat yang menyatakan bahwa “pendidikan pada masa kecil, bagaikan memahat batu.” Antara perempuan dan laki-laki, Tuhan telah memberikan keduanya kedudukan yang setara. Adanya keistimewaan dan kekurangan masing-masing yang hanya bisa teratasi dengan keduanya saling menerima dan saling melengkapi.
Penulis menggarisbawahi bahwa peranan perempuan sebagai pembentuk watak atau pendidik bukan berarti dia tidak memiliki peranan lain seperti misalnya tidak boleh bekerja. Pada masa Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam pun tidak sedikit perempuan yang bekerja dalam berbagai bidang, hal itu tidak menghalangi mereka berperan menjadi istri, ibu, serta pendidik yang baik.
Ingat, Sang Pencipta tentu sangat mengetahui bahwa perempuan adalah pendamping terbaik laki-laki, sebagaimana halnya laki-laki adalah pendamping terbaik bagi perempuan. Tak ada yang lebih tinggi, juga tak ada yang lebih rendah. Sebab, tinggi-rendahnya kedudukan seseorang di hadapan Allah tidak ditentukan dari jenis kelamin, melainkan diukur dari ketakwaannya.
Buku ini cocok untuk dibaca baik perempuan maupun laki-laki karena di dalamnya berisi pembahasan yang meluruskan stigma dan bias gender, menelaah cinta dan seks, serta mengulas berbagai bentuk pernikahan, hal ini yang menjadi salah satu kelebihan buku ini (tidak memihak salah satu gender).[]

