Bukan hal baru sebenarnya, menjelang lebaran dari tahun ke tahun selalu identik dengan makanan khas, yakni nastar. Nastar merupakan kue kering yang berisi selai nanas dan terbaluri karamel beserta parutan keju. Selain itu semakin ke sini bentuk nastar variatif seperti dengan warna-warni, menyerupai bebek, dan variasi lainnya.
Hal ini bukan merupakan perilaku fear of missing out (fomo) lebaran, meskipun banyak yang beranggapan demikian. Namun, hal ini sudah menjadi warna lebaran sejak dahulu kala. Siapa sangka, hanya dari sebuah konten tentang nastar, cara pembuatan, atau hanya mengabadikan momen lucu dalam pembuatan nastar juga berimplikasi pada objektifikasi perempuan.
Kegagalan membuat nastar yang kerap kali menjadi konten memang menimbulkan ’lelucon’ baru dan teranggap memperbaiki mood penontonnya. Namun, kegagalan membuat nastar juga kerap kali bentuknya absurd atau bahkan menggambarkan anggota tubuh perempuan yang mengarah pada karakteristik seks sekunder perempuan.
Seperti halnya di akun TikTok @ilsymmmm, saya tidak menyudutkan konten tersebut, tetapi komentar netizen yang membuat saya tertarik untuk menulis ini. Sebenarnya dalam takarir hanya menuliskan ”day one buat nastar”. Sebagai penonton, kita akan beranggapan kegagalan tersebut musabab belum berpengalaman membuat nastar.
Mirisnya, komentar netizen mengundang perhatian, seperti ”tadi nastar LC sekarang apa?”, ”kaya dadaku pas lagi tiduran”, ”itu dimakan atau diremas, kak” dan masih banyak komentar lain yang menggiring pada objektifikasi perempuan. Kebanyakan komentar tidak terlontar dari laki-laki, melainkan oleh perempuan itu sendiri. Sehingga menimbulkan pro dan kontra. Beberapa yang kontra mengomentari ”guys itu privasi kita loh” , ”ga lucu sumpah” dan masih banyak lainnya komentar kontra dengan candaan dalam konten tersebut.
Konten ini juga di-stich oleh @jandatawa2 yang kita ketahui ia kreator konten sudah terkenal dengan suka membacakan komentar-komentar lucu netizen dan menertawakannya. Tulisan ini juga tidak ingin menyudutkan kreator konten atau siapapun. Namun, akibatnya komentar objektifikasi pada perempuan juga semakin bertambah, meskipun hal ini teranggap sebagai hiburan dan lelucon.
Pelaku Objektifikasi
Seperti yang kita ketahui, objektifikasi perempuan merupakan tindakan merendahkan martabat perempuan dan menjadikannya sebagai objek seksual atau hanya visual semata. Seperti halnya komentar netizen yang tidak hanya laki-laki melakukannya, melainkan perempuan itu sendiri.
Dalam dunia maya, godaan pada bentuk tubuh perempuan juga berarti sebagai catcalling yang menjerumus pada hal merendahkan nilai pada perempuan sendiri. Atau biasa kita anggap sebagai bahan lelucon di kalangan mereka para pelakunya.
Memang, konten nastar gagal garapan kreator konten tidak bermaksud untuk komodifikasi tubuh atau candaan seksual, tetapi justru netizen yang menggiring opini untuk ke sana. Dan, mirisnya pelakunya mayoritas adalah perempuan sendiri. Sehingga analoginya, mereka sejatinya merendahkan nilai pada diri sendiri, meskipun maksudnya adalah lelucon semata.
Akan tetapi, perlu kita garis bawahi bahwa perilaku berkomentar tanpa berpikir panjang juga berimplikasi pada normalisasi pelecehan di ruang publik. Dalam hal ini adalah dunia maya, jika kita teruskan hanya akan menjadi ide konten yang sifatnya memang cepat fyp. Namun, juga menimbulkan dampak negatif.
Hal ini berdampak bahwa konten atau produk seperti ini menjadi bentuk pelecehan seksual ringan dan juga objektifikasi perempuan yang ternormalisasi. Dengan demikian upaya pengikisan budaya patriarki kerap kali terhalang oleh perempuan itu sendiri.[]

