Saat ini, bumi kita tengah bersedih. Kerusakan ekosistem indah ciptaan Tuhan terjadi di mana-mana akibat ulah tangan manusia. Bumi menjerit, terlihat dari bencana longsor dan banjir yang melanda banyak wilayah. Jutaan pohon ditebang demi memenuhi ego dan kepentingan sesaat. Akibatnya, hewan-hewan kehilangan rumah dan sumber makanan; habitat-habitat endemik di hutan hujan Kalimantan dan Sumatra telah beralih fungsi menjadi perkebunan sawit, menggusur satwa liar.
Anehnya, manusia cenderung menyalahkan alam atas segala kemalangan yang menimpanya, tanpa menyadari perbuatan mereka sendiri terhadap ekosistem. Padahal, Tuhan telah memberikan peringatan tegas dalam firman-Nya: “Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (Allah) memperbaikinya. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-A’raf: 56). Ayat ini adalah perintah yang sangat jelas: manusia dilarang merusak dan diamanahkan untuk menjadi penjaga kelestarian alam.
Perjuangan di Tanah Tandus
Di tengah krisis ekologi dan sikap abai tersebut, muncul sosok pahlawan hijau dari Megamendung, Jawa Barat. Rosita Istiawan, namanya, yang kini terkenal sebagai “Macan Hutan Megamendung”. Rosita adalah seorang aktivis yang mewujudkan mimpi mulianya; “membuat hutan organik” di lahan yang nyaris mati. Perjuangan ini sungguh tidak mudah, terutama karena beliau adalah seorang perempuan yang harus berhadapan dengan stigma dan tantangan lapangan yang keras.
Untuk memulai mimpinya, Rosita menjual aset pribadinya demi membeli 2.000 meter lahan dari warga. Lahan yang ia dapatkan bukanlah lahan subur, melainkan tanah tandus dengan pH sangat asam (2,5-4), kondisi yang bahkan tidak memungkinkan cacing untuk hidup. Dengan ketekunan yang luar biasa, ia mulai memupuk lahan itu dengan pupuk kandang. Saking tandusnya, ia harus membawa air dengan mobil tangki hanya untuk menyirami tanaman pertamanya.
Tantangan tidak berhenti pada faktor alam; ancaman terbesar datang dari manusia itu sendiri. Ibu Rosita harus menghadapi para calo tanah (biong) dan penjarah kayu yang mengincar lahannya. Namun, dengan tekad baja dan keberanian yang kuat, ia melawan mereka semua dan berdiri teguh sebagai pelindung, menjadi “Macan” sejati bagi hutannya.
Merawat Hutan, Merawat Kehidupan
Dalam sebuah wawancara bersama National Geographic Indonesia, Ibu Rosita pernah berujar, “Merawat hutan sama dengan merawat bayi.” Filosofi ini menunjukkan bahwa menanam hutan bukanlah aksi “tanam lalu tinggal,” melainkan sebuah proses yang membutuhkan kesabaran, komitmen, dan perawatan berkelanjutan. Komitmen inilah yang menjadi kunci keberhasilannya.
Setelah dua tahun penuh perjuangan dan ketekunan, mimpi Rosita membuahkan hasil. Lahan yang dulunya tandus itu mulai subur dan berhasil mengalirkan air, yang kemudian sangat membantu masyarakat di sekitar wilayahnya. Lahan awal yang hanya 2.000 meter, kini telah berkembang menjadi 30 hektar, membentuk ekosistem baru yang menjadi rumah bagi flora dan fauna.
Kisah Rosita telah membuktikan bahwa perjuangan tidak ada yang sia-sia. Meskipun jalannya berliku dan membutuhkan kesabaran yang luas, ketekunan akan selalu membuahkan hasil. Ia mencontohkan bahwa, terlepas dari label gender, komitmen yang kuat dan semangat yang tinggi adalah modal utama untuk mencapai mimpi dan memberikan manfaat bagi bumi.
Semoga kisah heroik Rosita ini menginspirasi lahirnya “Rosita-Rosita” lain di seluruh Indonesia, yang dengan penuh keberanian dan komitmen, terus berjuang menjaga kelestarian ekosistem kita dari tangan-tangan perusak, demi bumi yang lestari untuk generasi mendatang.[]

