Dampak Persepsi Masyarakat terhadap Kemajuan Karier Mahasiswa

Sumber Gambar: deepublishstore.com

Sebagai seorang mahasiswa, saya sering merasa berada di persimpangan. Di satu sisi, karena ada cita-cita pribadi dan keinginan untuk menjadi perempuan mandiri, berpendidikan tinggi, dan sukses dalam dunia profesional. Saya ingin meraih semua itu dengan kemampuan dan kerja keras saya sendiri.

Namun di sisi lain, saya juga terbayangi berbagai harapan, tekanan, dan aturan tidak tertulis dari masyarakat. Mengenai bagaimana seharusnya seorang perempuan bersikap dan mengambil keputusan hidup. Benturan antara ambisi pribadi dan ekspektasi masyarakat ini tidak hanya menimbulkan beban emosional. Namun juga memengaruhi langkah nyata dalam menentukan arah karier yang ingin saya pilih.

Saya percaya bahwa komentar, pandangan, maupun stereotipe dari masyarakat, baik yang tersampaikan secara langsung maupun tersirat dalam norma sosial, memberikan pengaruh besar terhadap perjalanan hidup mahasiswa. Pengaruh tersebut sering kali hadir dalam bentuk tekanan untuk menjadi perempuan baik-baik. Pun menyesuaikan diri dengan kodrat yang termaknai secara sempit, serta memenuhi peran tradisional sebagai istri, ibu, atau pengurus rumah tangga. Padahal, perempuan juga memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk belajar, berkembang, dan membangun karier.

Usaha Perempuan

Dalam pengalaman saya pribadi, komentar negatif dari masyarakat sering kali menjadi hambatan terbesar dalam perjalanan karier. Saya masih ingat dengan jelas beberapa kalimat yang terdengar sepele, tetapi efeknya begitu dalam. Misalnya seperti, “Sekolah tinggi-tinggi ujung-ujungnya ke dapur juga,” atau “Jangan sekolah terlalu tinggi, nanti susah dapat jodoh.” Meski sering teranggap sekedar candaan, ucapan tersebut membawa pesan yang sangat merendahkan. Seakan ingin mengatakan bahwa usaha perempuan dalam menempuh pendidikan tinggi tidak memiliki nilai yang setara dengan laki-laki.

Ucapan-ucapan semacam itu sering membuat banyak mahasiswa merasa seolah-olah masyarakat telah menentukan batas akhir perjalanan hidup mereka, bahkan sebelum mereka memiliki kesempatan untuk memulai karier. Dampaknya tidak hanya melukai secara emosional, tetapi juga dapat menimbulkan tekanan psikologis yang mendalam. Banyak perempuan akhirnya takut bermimpi besar, bukan karena kurang kemampuan, melainkan karena khawatir tercap sebagai terlalu ambisius atau tidak sesuai kodrat.

Baca Lainya  Dilema Peran Ganda: Pekerjaan Domestik dan Karier

Tekanan sosial tersebut membuat sebagian mahasiswa secara tidak sadar membatasi pilihan karier mereka sendiri. Ada yang menghindari jurusan-jurusan prestisius, ada yang menolak pekerjaan menantang, dan ada pula yang sengaja merendahkan target mereka demi merasa agar lingkungan menerimanya. Padahal, ambisi seharusnya dipandang sebagai kekuatan positif yang mendorong seseorang untuk berkembang dan memberikan kontribusi lebih luas bagi masyarakat.

Sering kali, lingkungan terlalu cepat menghakimi perempuan. Bahkan di dunia akademik tempat yang ideal untuk bertumbuh mahasiswi kerap merasa harus bekerja dua kali lebih keras untuk membuktikan diri. Kami tidak hanya mengejar nilai dan prestasi, tetapi juga berjuang untuk memperoleh pengakuan bahwa kami pantas berada di ranah intelektual tersebut.

Komentar negatif dari masyarakat juga membawa dampak serius terhadap kesehatan mental mahasiswi. Rasa cemas, takut gagal, dan kekhawatiran tidak bisa memenuhi standar sosial menjadi beban yang berat. Tidak sedikit dari kami merasa harus selalu tampil sempurna, tidak boleh salah, dan tidak boleh menunjukkan ambisi secara terbuka karena takut teranggap menyalahi norma. Akibatnya, fokus terhadap tujuan pribadi pun terganggu.

Ruang Aman

Seharusnya kampus menjadi ruang aman bagi perempuan untuk mencoba hal baru, menemukan potensinya, dan mengejar mimpi tanpa rasa bersalah. Hambatan berupa komentar yang meremehkan bukan hanya sekadar ucapan, tetapi bagian dari budaya yang masih mengekang perempuan. Jika hal ini terus terbiarkan, generasi perempuan berikutnya akan menghadapi hambatan serupa, dan potensi besar yang mereka miliki dapat terhambat hanya karena konstruksi sosial yang tidak relevan lagi.

Mahasiswa layak berkembang tanpa terbatasi oleh aturan sosial yang usang. Perempuan bukan hanya bersiap untuk menjadi istri atau ibu mereka juga individu yang memiliki kendali penuh atas masa depannya. Pendidikan tinggi dan karier tidak mengancam nilai-nilai keluarga justru keduanya merupakan modal penting bagi perempuan, keluarga, dan masyarakat. Semakin banyak perempuan yang berpendidikan dan berkarier, semakin besar peluang kemajuan suatu bangsa.

Baca Lainya  Mahasiswa Islam: Pilar Moral dan Intelektual di Era Modern

Sudah saatnya semua pihak baik laki-laki maupun perempuan mengubah cara pandang terhadap peran dan kapasitas perempuan. Mahasiswi perlu mendapat ruang, kebebasan, dan dukungan untuk menentukan jalan hidupnya sendiri tanpa harus terbayangi komentar merendahkan. Kebiasaan meremehkan perempuan harus terhenti dan terganti dengan budaya saling menghargai serta mendukung.

Arah karier seorang perempuan tidak seharusnya terpengaruh oleh stereotipe negatif masyarakat, melainkan bakat, minat, dan impian yang menentukannya. Lingkungan yang setara dan suportif akan melahirkan perempuan-perempuan tangguh yang mampu memberi kontribusi besar bagi masa depan. Dunia membutuhkan gagasan, kreativitas, dan karya perempuan maka jangan biarkan prasangka sosial menghalangi langkah mereka.

Bagi seluruh mahasiswi yang sedang berjuang menuntut ilmu dan meraih karier teruslah bergerak maju. Jangan biarkan komentar yang mengecilkan hati menghalangi ambisimu. Pendidikanmu bukan sekadar pelengkap hidup pendidikanmu adalah fondasi masa depan yang kamu rancang sendiri. Terus semangat, karena perempuan mampu menjadi apa pun yang mereka pilih.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *