Transformasi Mental dan Kedewasaan Mahasiswa

Sumber Gambar: idn.freepik.com

Peralihan dari seorang siswa menjadi mahasiswa bukan hanya tentang status baru, tetapi perjalanan yang panjang menuju kemandirian dan kedewasaan. Masa perkuliahan sering teranggap sebagai tahap pendewasaan, sebab di sini individu mulai belajar mengelola diri, bertanggung jawab atas keputusan yang terambil, dan beradaptasi dengan lingkungan yang lebih luas dan rumit. Jika selama menjadi siswa terbiasa dengan bimbingan dan jadwal yang terstruktur, maka di bangku perkuliahan sebagai mahasiswa terhadapkan pada kebebasan yang menuntut kedisiplinan dan kesadaran diri yang lebih tinggi.

Seorang dosen pernah berkata saat pertemuan dalam perkuliahan: “Kalian bukan lagi siswa, tapi mahasiswa.” Kalimat itu terdengar sederhana, tapi sebenarnya memiliki makna yang dalam. Dosen ingin menegaskan bahwa hidup di kampus berbeda jauh dengan hidup di sekolah. Tidak ada lagi guru yang selalu mengingatkan untuk mengerjakan tugas setiap hari, tidak ada jadwal yang selalu tetap dari pagi sampai sore, serta tidak ada pengawasan yang ketat seperti dulu.

Awal kuliah adalah masa yang sangat mengejutkan. Saya merasakan seperti mengalami “culture shock” karena sistem perkuliahan yang sangat berbeda dengan saat sekolah. Jadwal perkuliahan tidak pasti, kadang pagi, kadang siang, dan kadang maju atau mundur ganti hari. Terkadang dalam sehari hanya ada satu mata kuliah, namun di hari berikutnya bisa ada beberapa mata kuliah berturut-turut dari pagi hingga sore.

Di masa sekolah, saya biasa mengikuti rutinitas yang tetap setiap hari dari Senin sampai Jumat, di waktu pagi sampai sore. Sementara di kampus, saya harus belajar mengatur waktu sendiri agar tetap bisa produktif. Di sinilah saya menyadari bahwa kebebasan tanpa tanggung jawab justru bisa membawa dampak negatif bagi diri sendiri.

Baca Lainya  Realitas Kuliah Daring: Tantangan, Adaptasi, dan Kualitas Pembelajaran

Harapan Kedewasaan Baru

Transformasi kedewasaan mental juga terlihat dari cara kita berpikir. Di sekolah, biasanya kita hanya perlu menghapal atau menyelesaikan tugas sesuai arahan guru. Namun di kampus, kita diharapkan berpikir lebih jauh kita harus tahu mengapa suatu konsep seperti itu, bagaimana cara menerapkannya, atau apakah ada pendapat yang lebih baik. Sebagai mahasiswa, kita harus mampu menganalisis, bertanya, dan menyampaikan pendapat. Dari situ, kita tahu bahwa menjadi mahasiswa bukan hanya tentang kehadiran fisik di kampus, tapi tentang kemauan untuk terus berkembang. 

Transformasi ini juga berkaitan dengan cara mengatur waktu dan tanggung jawab pribadi. Saat tugas mulai banyak, dan deadline semakin mendekat, mahasiswa harus memilih: menunda atau langsung menyelesaikan; bermain atau fokus; istirahat atau begadang. Pilihan-pilihan itu terdengar mudah, tetapi dalam penerapannya sangat penting untuk menentukan kepribadian seseorang.

Mahasiswa yang bisa melewati masa ini tidak hanya yang mendapatkan nilai bagus, tetapi juga yang bisa menentukan prioritas, mengatur waktu secara bijak, dan tetap konsisten meskipun ada hambatan. Saat dosen mengatakan bahwa kita bukan lagi siswa, kita tahu bahwa akibatnya tidak hanya nilai buruk karena tugas terlambat, tetapi juga bagaimana kita menghadapi kebebasan dan tanggung jawab.

Sikap Adaftif

Selain itu, transformasi juga melibatkan kemampuan bekerja sama dan beradaptasi. Di sekolah, kelompok tugas biasanya dibentuk oleh guru dan teman sekelas dengan latar belakang yang relatif serupa. Di kampus, kita bertemu dengan teman-teman dari berbagai latar belakang, tempat asal, bahkan budaya. Kemampuan kita untuk bekerja sama, menghargai pendapat orang lain, dan menyelesaikan permasalahan dalam kelompok adalah bagian dari kedewasaan. Mahasiswa yang sudah dewasa mulai memahami bahwa keberhasilan sebuah proyek kelompok tidak hanya tergantung pada diri sendiri, tetapi juga pada cara kita berperan sebagai anggota tim yang baik.

Baca Lainya  Perempuan dalam Jeratan Perundungan Daring

Tentu saja, perjalanan ini tidak mudah. Banyak mahasiswa merasa stres karena tugas belajar yang menumpuk, merasa sendirian, atau bahkan ragu dengan jurusan yang dipilih. Ini adalah fase yang sering disebut sebagai krisis identitas di awal masa dewasa. Tantangan-tantangan seperti ini justru membantu memperkuat. Oleh karena itu, tumbuh dewasa juga berarti kita belajar mengenali kondisi diri sendiri, mengendalikan stres, mencari bantuan dari orang lain, serta membentuk kebiasaan yang baik tidak hanya untuk belajar, tetapi juga untuk hidup yang lebih sehat.

Peralihan dari seorang siswa menjadi mahasiswa adalah proses yang sangat berharga dalam hidup seseorang. Ini bukan hanya tentang naik status, tetapi juga tentang mengubah cara berpikir, sikap, dan tindakan. Pada masa ini, kita belajar untuk mandiri, mengelola waktu, berpikir secara kritis, bertanggung jawab, bekerja sama, serta menjaga kesehatan mental.

Perubahan ini tidak terjadi begitu saja, tetapi terbentuk dari proses yang dengan kedewasaan pengalaman serta pembelajaran. Dunia kampus tidak hanya tempat untuk menuntut ilmu, tetapi juga tempat mengasah diri menjadi pribadi yang lebih dewasa, bijaksana, siap menghadapi dunia nyata dan hidup dengan sadar bahwa setiap proses, meski begitu kecilnya, adalah bagian dari membentuk diri menuju masa depan yang lebih baik.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *