Stigmatisasi Perempuan dalam Penggagas Gerakan Kebangsaan

Perempuan dalam Bingkai Peradaban

Struktur patriarki yang terbangun dalam sendi kehidupan tak akan terhenti pada relasi siapa yang paling untung. Pada dasarnya, apakah tujuan mendobrak sistem ini terhenti pada gerakan siapa yang kuat dan siapa yang lemah?

Atau justru tujuan pendobrakan ini hanya terpandang sebagai manuver melanggengkan patriarki? Seakan tidak berlandas pada asas humanitas, membendung skema percekcokan dan peperangan atas perbedaan jenis kelamin.

Struktur patriarki terbentuk dan teribingkai rapi sejak dalam penentuan tujuan privat dalam pernikahan hingga paradigma gerakan sosial. Artinya perjalanan panjang terbentuknya sistem ini tidak terjadi dalam satu malam seperti halnya dongeng Roro Jonggrang. Namun berawal dari munculnya monopoli kekuasaan berselimut kebijakan atas nama kemaslahatan bersama.

Demikian itu, seringkali terkenang dengan masa-masa indah. Layaknya catatan sejarah yang termonopoli rapi dalam bingkai kekuasaan tanpa peduli pada apa jenis kelaminnya.

Sosok Perempuan

Namun perlu kita ingat ternyata gelar raja-raja di masa lalu memang terkesan lebih heroik daripada sosok-sosok yang tercatat hingga kini. Layaknya cerita rakyat, pengorbanan Putri Sri Tanjung, Ken Arok yang merebut Ken Dedes dari Tunggul Ametung demi kekuasaan, dan lainnya menggambarkan ibuisme negara abad ini.

Sangat jarang cerita keteguhan dan kejujuran Ratu Shima dari Kerajaan Kalingga. Ata kuatnya strategi politik Gayatri Rajapatni membantu pemerintahan Raden Wijaya serta mempersiapkan penerus para penakluk nusantara.

Tak hanya itu, ada pula cerita Tribuwana Tungga Dewi dengan segala dinamika politiknya. Perempuan yang mendapat anggapan tidak dapat turut serta dalam perang karena spirit dan tenaganya. Serta sosok-sosok lain di masa ini. Cerita rakyat tersebut sangat jarang menjadi salah senjata pada momentum pembentukan karakter anak sehingga yang terkenal oleh generasinya adalah perempuan yang menjadi entitas kedua.

Baca Lainya  Dewi Harlas: Penggerak Masyarakat Desa

Gerakan Perempuan

Aspek keyakinan dan pemotongan konteks beragama juga menjadi salah satu hal fundamental yang memperkuat patriarki di negeri ini. Namun upaya menggeser hal ini telah banyak membuahkan hasil karena perlahan gerakan perempuan Islam di Indonesia telah merebut peran ini.

Jika kita kaji bersama gerakan perempuan Islam sebagai salah satu entitas terbesar pada awal kemerdekaan hingga detik-detik reformasi kehilangan perannya karena beberapa hal. Persaingan politik nasionalis, komunis, dan militer yang sengit, sehingga gerakan perempuan Islam tidak banyak memiliki ruang menggempur sistem patriarkis yang terbentuk. Semakin menjadi-jadi dengan State Ibuism di era Orde Baru yang memangkas seluruh potensi gerakan perempuan pascakejayaan Gerwani dan Perwari masa Orde lama.

Proses idealisasi perempuan ala Orba semakin kuat dengan pengaburan substansi peringatan 22 Desember sebagai Hari Ibu dan patronisasi perempuan ideal pada identitas perempuan Jawa untuk memperkuat rezim di masa itu. Asal usul peringatan yang terbentuk karena Kongres Perempuan Indonesia untuk yang pertama kalinya.

Lebih lanjut ada juga gerakan mengikis patriarki pada aspek penerjemahan teks agama oleh gerakan perempuan Islam hari ini semakin mengalami kemajuan. Terlaksana dengan terorganisir lebih baik seperti Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI). Yakni kajian yang para bu nyai, kiai, dan para aktivis muda sebagai inisiatornya.

Beberapa aspek yang telah terbahas sebelumnya belum lengkap tanpa penguatan lewat pembenahan pendidikan kita. Bahwa pada praktiknya figur-figur pahlawan yang bertengger di dinding-dinding sekolah dasar kita juga menjadi penerjemahan pendidikan negeri ini memandang perempuan.

Pendidikan dan Emansipasi

Sebut saja ladang perjuangan dunia pendidikan perempuan Indonesia, Raden Ayu Kartini dan Dewi Sartika. Bukan tanpa alasan keduanya menjadi ikon pendidikan perempuan Indonesia, keduanya lahir dari keturunan ningrat dan memiliki akses yang terbilang lebih baik dari teman sebayanya.

Baca Lainya  Posisi Islam dan Moralitas Perempuan

Maka tidak salah, ketika Pramoedya Ananta Toer menggambarkan Kartini yang dibesarkan dari keluarga yang Progresif. Ketika hiruk pikuk inlander yang dipandang lebih rendah dari bangsa Belanda yang perlu dibedakan hak pendidikannya, Kartini muncul sebagai sosok revolusioner. Sosok dengan segala pengaruh baik untuk bisa memberikan perubahan dan juga peradaban.

Struktur politik patriarki yang menetapkan porsi dan poros gerakan perempuan. Hal ini yang sangat sering menjadi bahan perbincangan gerakan abad ini. Bahwa porsi perempuan untuk turut serta membangun sistem yang berkeadilan gender seringkali tetap berkutat pada kepentingan kursi dan pola pembangunannya sering hanya terpaku hanya pada isu strategis.

Jika dapat diibaratkan mirip dengan penggunakan kacamata kuda. Namun sudah selayaknya gerakan perempuan menemui ruhnya. Inilah yang kemudian menjadi opsi yang perlu ditentukan oleh elemen yang berada di dalamnya. Sangat disayangkan jika gerakan perempuan akhirnya kembali berkutat tentang siapa yang kuat atau lemah. Apalagi berhenti pada perdebatan boleh tidaknya perempuan kembali ke dapur.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *