Satu hal yang selalu terlintas di benak saya setiap kali membaca cerita tentang Abdurrahman Wahid (Gus Dur) adalah kemanusiaan. Tidak bersyarat, tidak rumit, dan tidak jauh. Seolah-olah kemanusiaan bukanlah ide besar yang hanya terbicarakan di seminar. Sebaliknya, kemanusiaan adalah sesuatu yang dapat kita lakukan setiap hari di rumah, di jalan, dan di pusat perbedaan yang memengaruhi kehidupan sehari-hari.
Gus Dur berjalan dengan keyakinan bahwa manusia harus mendapat penghormatan sebelum terbedakan. Dalam salah satu gagasannya yang terkenal ia menegaskan, “Kemanusiaan lebih penting daripada politik.” (Wahid, Islamku, Islam Anda, Islam Kita, 2006). Meskipun itu hanya kalimat sederhana, itu sangat efektif untuk menunjukkan hubungan antara kekuasaan dan kemanusiaan. Dengan kata lain, politik adalah alat, dan manusia adalah tujuan utamanya.
Salah satu jejak kemanusiaan Gus Dur yang paling terasa adalah cara beliau meruntuhkan tembok diskriminasi terhadap etnis Tionghoa. Ia tidak sekadar mencabut larangan perayaan budaya Tionghoa tetapi juga mengembalikan martabat komunitas. Banyak dari kita mungkin lupa bahwa sebelum tahun 2000, identitas Tionghoa nyaris tertutup rapat karena tekanan sejarah. Ketika Gus Dur membuka kembali ruang budaya mereka, beliau seperti berkata kepada seluruh bangsa: “Indonesia itu luas, tidak hanya seluas kelompok mayoritas.”
Peduli Masyarakat Adat
Gus Dur tidak hanya berhenti pada satu kelompok. Ia memberikan perlindungan kepada komunitas adat, kelompok agama minoritas, orang dengan disabilitas, serta kelompok sosial yang sering kali tersalah-pahami. Saya pernah menemukan pemikiran Ahmad Suaedy dalam buku Gus Dur: Islam, Politik, dan Kebudayaan (2009), yang menegaskan bahwa Gus Dur adalah seorang pemimpin yang merespon suara-suara yang “paling pelan”. Sifat kemanusiaannya sangat mulia karena ia membuka kesempatan bagi mereka yang tidak memiliki akses tersebut.
Selain itu, contoh penerapan nilai kemanusiaan Gus Dur adalah mengakui martabat masyarakat Papua. Salah satu aksi yang paling berani yang Gus Dur lakukan untuk menunjukkan nilai-nilai kemanusiaannya adalah tindakan terhadap Papua. Pada tahun 2000, ia mengizinkan pemakaian kembali Bintang Kejora sebagai lambang budaya, membuka kesempatan untuk berdialog, dan mengakhiri cara pendekatan yang telah mengandung tekanan selama bertahun-tahun.
Keputusan ini bukan hanya sekadar langkah politik,melainkan merupakan bentuk penghormatan terhadap martabat setiap individu. Gus Dur memandang masyarakat Papua bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai sesama manusia yang punya hak untuk dihargai dalam identitas dan kehormatan mereka. Seperti yang Suaedy (2009) kutip, langkah ini menjadi pengakuan resmi pertama dari negara yang benar-benar menghargai keberadaan budaya Papua. Inilah gambaran kemanusiaan dari Gus Dur: keberanian untuk mengedepankan kemanusiaan, meskipun hal tersebut tidak menguntungkan dari segi politik.
Dalam berbagai aspek, Gus Dur menunjukkan bahwa dukungan bukan hanya soal keberanian, tetapi juga kejujuran untuk mengungkapkan kebenaran. Bahkan saat hal itu tidak diterima dengan baik. Ketika ia ditanya mengapa memberikan pembelaan kepada kelompok yang dianggap “minoritas”, Gus Dur hanya tersenyum dan menjawab, “karena mereka pun manusia”. Pernyataan itu menurut saya lebih mendalam daripada seribu konsep hak asasi manusia.
Sikap Kemanusiaan
Sikap kemanusiaan Gus Dur juga terlihat dalam aktivitas sehari-harinya. Banyak kisah yang menggambarkan bagaimana beliau dengan mudahnya berbaur dan tertawa bersama rakyat biasa, duduk bersama para pedagang kecil, atau berbincang tanpa batasan dengan siapa pun. Salah satu sahabat pernah menulis bahwa Gus Dur “Menghapus jarak sosial dengan caranya yang sederhana: menjadi manusia di depan manusia lain”. Ini adalah jejak yang tidak dapat terpalsukan dan kebaikan yang tidak terencanakan.
Dalam buku Pribumisasi Islam (1989), Gus Dur menyatakan bahwa agama seharusnya beradaptasi dengan kenyataan masyarakat, bukan sebaliknya. Ia meyakini bahwa tradisi, budaya, dan pluralitas merupakan elemen penting dari kekayaan bangsa. Pemikiran ini membuatnya selalu menolak kekerasan dan fanatisme. Menurut Gus Dur, kemanusiaan tidak boleh terkorbankan demi penafsiran yang kaku atau kepentingan kelompok tertentu.
Saya melihat bahwa keterkaitan pemikiran Gus Dur semakin mendalam di era digital saat ini. Kita berada dalam periode di mana perbedaan mudah tersalahartikan, ketika opini di media sosial dapat menyebabkan perpecahan, dan di mana identitas dipakai sebagai alat untuk menyerang satu sama lain. Di tengah situasi tersebut, ajaran Gus Dur muncul sebagai sumber ketenangan: “Tidak penting apa agamamu atau sukumu, kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk orang lain, orang tidak akan bertanya apa agamamu”. Pernyataan ini mengingatkan kita bahwa kebaikan tidak memerlukan sebuah identitas.
Bapak Bangsa
Jejak kemanusiaan Gus Dur bukan sekadar kenangan masa lalu, melainkan sebuah ajakan. Ajakan untuk menolak ketidakcintaan, ajakan untuk memandang manusia dengan mata kemanusiaan, ajakan untuk memilih jalan kebaikan meski dalam kesunyian. Tindakan-tindakan kecil yang menghidupkan kembali nilai-nilai kemanusiaan tersebut menjadi warisan yang perlu kita lestarikan.
Menurut pendapat saya, kontribusi terpenting Gus Dur bukan terletak pada keputusan yang beliau ambilnya. Bukan juga pada semua ucapannya, melainkan pada keberaniannya dalam menjadikan nilai kemanusiaan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Beliau membuktikan bahwa seorang pemimpin yang sejati bukanlah yang ditakuti, tetapi yang bisa membuat masyarakatnya merasa dihargai.
Gus Dur pernah menulis bahwa “kemanusiaan adalah tugas sejarah kita sebagai bangsa”. Oleh karena itu, tugas kita saat ini adalah melanjutkan jejaknya dengan menyebarkan toleransi, memperjuangkan keadilan, dan memelihara martabat manusia, sekecil apa pun kontribusi kita. Karena pada akhirnya, seperti yang oleh Gus Dur ajarkan, bentuk pengabdian yang paling mulia adalah saat kita bersedia berdiri di samping mereka yang paling membutuhkan.[]

