Ramadan yang Datang, Rasa yang Hilang

Sumber Gambar: uinsgd.ac.id

Setiap kali bulan suci Ramadan semakin dekat, suasana berubah menjadi lebih hangat. Masjid mulai ramai, ucapan “Marhaban ya Ramadhan” berseliweran di media sosial, dan hati banyak orang terasa berbunga-bunga. Ramadan selalu identik dengan kebersamaan, harapan baru, dan kesempatan memperbaiki diri. Bagi sebagian besar orang, datangnya adalah kabar bahagia yang ternantikan sepanjang tahun.

Namun, di tengah riuhnya sukacita itu, ada seorang anak yang merasakan hal berbeda. Ia tetap menyambut Ramadan, tetap berpuasa, tetap sahur dan berbuka bersama keluarga yang masih ada. Secara lahiriah, tidak ada yang kurang. Orang-orang tersayang masih berada di sekelilingnya. Namun, di sudut hatinya, ada ruang kosong yang sulit dia jelaskan.

Mungkin yang kurang bukan sekadar kehadiran fisik, melainkan suasana yang tak lagi sama. Tawa yang dulu terdengar saat sahur kini terasa lebih sunyi. Percakapan hangat selepas tarawih tak lagi seramai dulu. Ada kenangan yang diam-diam hadir, membuatnya sadar bahwa waktu telah mengubah banyak hal. Ramadan tetap datang, tetapi perasaannya tidak lagi sama seperti tahun-tahun sebelumnya.

Kerinduan dan Keikhlasan

Di saat orang lain sibuk menghias rumah dan menyiapkan menu berbuka, ia sibuk menata hati. Ia belajar menerima bahwa kebahagiaan tidak selalu hadir dalam bentuk yang sama. Kadang, Ramadan bukan hanya tentang kegembiraan, tetapi juga tentang kerinduan dan keikhlasan. Tentang menerima bahwa ada hal-hal yang tak bisa kembali, tapi tetap bisa terkenang dengan doa.

Justru dalam rasa “ada yang kurang” itu, tersimpan makna Ramadan yang lebih dalam. Ia belajar bahwa Ramadan bukan hanya tentang kebersamaan yang utuh, melainkan juga tentang kesabaran, ketabahan, dan mendekatkan diri kepada Allah di tengah rasa kehilangan. Bahwa mungkin, kekosongan itu adalah ruang agar doa-doanya menjadi lebih tulus.

Baca Lainya  Glass Ceiling: Wujud Nyata Diskriminasi Perempuan dan Gender

Ramadan selalu datang dengan cahaya. Bagi sebagian orang, cahayanya terasa terang dan penuh suka cita. Bagi yang lain, cahayanya mungkin redup oleh kenangan. Namun pada akhirnya, Ramadan mengajarkan bahwa setiap hati punya caranya sendiri untuk merayakan dan merasakan. Dan tidak apa-apa jika kebahagiaan itu bercampur dengan rindu, karena di situlah letak kejujuran perasaan yang sebenarnya.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *