Ayah selalu ada di garda terdepan dalam membela, melindungi, dan rela mengerahkan segalanya bagi putri kecilnya. Cinta tanpa syarat yang dia berikan kepada putrinya seolah lentera kecil yang meneranginya di kala lelah seharian bekerja. Lahirnya anak perempuan pertama dalam kehidupannya memberikan warna baru dalam dunianya.
Kebahagiaan, tanggung jawab yang besar, dan ketentraman hati sebagai seorang orang tua baru yang akan mendidiknya menjadi perempuan kuat. Saya tidak tahu pasti seberapa bahagia ayah ketika melihat saya lahir di dunia ini. Namun, saya selalu melihat dia tersenyum ke arah saya dan itu sudah cukup membuktikan bahwa anaknya adalah salah satu alasan dia berbahagia.
Ayah saya bukan sosok pemarah, dia bahkan sangat ramah. Beberapa orang di sekitar menganggapnya sangat kompeten dalam pekerjaan. Ketangguhan dan kegigihannya dalam mencari nafkah tiada tanding, tanpa mengenal waktu. Saya tak menyangka bahwa ayah akan selalu ada untuk mengantar ke mana pun saya mau, atau bahkan menunjukkan hal baru yang menarik. Ketika beranjak remaja, saya mulai cuek dengannya, mungkin saya terlalu lelah dengan dunia sendiri, padahal, dunianya adalah saya.
*
Ketika sedang ada masalah di kamar, beliau tidak pernah berani mengajak saya bicara duluan. saya mengurung diri di kamar dan menangis. Ayah mungkin terlihat tidak peduli, tapi nyatanya beliau yang paling khawatir . Tangis dan sedih saya membuatnya seakan tak mampu memberikan kebahagiaan untukku.
Dia selalu menuruti kemauan, ketika saya meminta sesuatu beliau akan berusaha sekeras mungkin untuk memberikan apa yang saya inginkan. Maaf ayah, saya sangat egois, tidak pernah memikirkan dan bertanya apa sebenarnya yang ayah inginkan.
Jujur, saat ini saya sangat menyesal atas kepergiannya. Setiap saya ke makam, hati ini terasa hancur berkeping-keping. Sejuta penyesalan masih saya rasakan hingga 100 hari kepergiannya. Ayah tidak pernah menunjukkan rasa lelahnya di setiap kegiatan yang beliau jalani. Kala itu, pernah saya menemani ayah pergi berziarah ke makam ayah ibunya. Entah kenapa, ayah menangis. Itu adalah kali kedua saya melihat ayah menangis.
Yang pertama adalah saat ibu mengandung dan keguguran di usia kehamilan tiga bulan. Dia tidak mengenal kata sakit, jatuh berkali-kali pun akan tetap berusaha bangkit tanpa bantuan siapa pun. Saya mengenalnya saat itu, begitu banyak rekaman memori di mana dia selalu bangkit ketika badai menerpa. Ketika benar-benar lelah, ayah tertidur sejenak untuk menenangkan pikirnya, lalu beraktivitas kembali melanjutkan pekerjaannya.
*
“Ayah, saya bukan anak kecil lagi”, kata saya. Saat sakit, dia masih tetap berusaha membantu. Mengisikan penuh bensin motor. Selalu menyiapkan motor ketika saya akan pergi dan memastikan semua aman. Saya pernah menolak, karena saya rasa bisa melakukan sendiri. Ternyata hal itu sempat melukai hatinya, ketergantungan saya padanya memberikan kebahagiaan tersendiri baginya.
Saya tak tahu, hanya mencoba memberikan ruang untuknya lebih banyak beristirahat. Masalah servis dan pajak motor saja dia yang mengurus semuanya. Dan kala itu, adalah terakhirnya melakukannya untuk saya. Bukan sedih lagi, neraca kepedihan menggerogoti hati saya.
Setelah kepergianmu semua benar-benar saya lakukan sendiri. Tidak ada penjemputan untuk saya lagi, tidak ada yang membantu menyelesaikan semua urusan. Dan belum ada sekalipun yang membuat saya tenang setenang-tenangnya setelah engkau tiada. Kata-kata saya bukan anak kecil yang hanya saya dapati untukmu. Saya tidak ingin, saya tidak siap.
Ayah selalu menunjukkan rute jalan ketika mengajak saya bepergian, dan sekarang saya hampir hafal semua jalannya, beserta kenangannya. Dia mengajari saya mengaji, beliau hafiz 30 Juz. Ustaz yang mengajar beberapa santri di semasa hidupnya. Perjalanannya cukup panjang, begitu hebatnya beliau bisa menyelesaikan hafalannya dan menjaganya sampai titik terakhirnya.
Saya belum bisa sesempurnanya, iman saya belum seberapa bahkan hafalan saya saja suda hilang karena belum murajaah lagi. Sebagai seorang perempuan, ayah saya tidak pernah menuntut atau melarang saya. Beliau hanya menasehati dan menyuruh saya berpakaian sopan. Namun tentu, salat Subuh saya selalu dia yang membangunkan. Beliau rajin salat Tahajud di sepertiga malam.
*
Kepercayaannya pada saya membuat lebih aman saat bepergian. Namun, ke mana pun itu dia tetap memastikan saya sampai rumah dengan selamat, baru bisa tertidur di malam hari. Sebegitu khawatirnya beliau saat menunggu saya. Seperti saat menunggu saya keluar dari sekolah, ayah tidak pernah marah seberapa lama beliau menunggu. Namun, ketika saya yang terlambat dia jemput, saya malah marah.
Ayahku selalu memberikan kesan baik kepadaku, kalau marah pasti beliau diam tidak mengeluarkan sepatah katapun kepadaku. Aku sangat bangga menjadi putri kecilnya. Nasihat yang selalu diberikan ayahku adalah harus menjadi pribadi mandiri yang tidak merepotkan orang lain. Aku berharap akan selalu menjaga nasihat itu untuk diriku sendiri dan orang sekitarku.
Ayahku, cinta pertamaku. Mengenangnya, mengenalkan arti kedewasaan bagiku. Ikhlas, penerimaan dan sabar yang membuatku bangkit. Aku ingin seperti ayahku, tidak kenal lelah dan terus berjuang. Ayah, semoga aku bisa melanjutkan impianmu, awasi aku dan tunggu saat aku bisa bertemu dengan ayah lagi, aku rindu.[]

