Jika membicarakan pertemanan di dunia kampus rasanya tak akan pernah habis. Di masa kuliah, teman itu sudah laiknya keluarga kedua. Tempat curhat, tempat ngeluh soal tugas, bahkan tempat ketawa bareng tanpa alasan jelas. Namun, kadang di balik tawa bareng itu, muncul juga pertanyaan kecil: “Teman-teman saya ini benar tulus atau hanya pura-pura baik saja?”. Pertanyaan itu mungkin terdengar receh, tapi sebenarnya mendalam. Karena di balik kehidupan kampus yang penuh warna, ada juga sisi gelap dari pertemanan yang kadang tak kelihatan.
Masa kuliah adalah waktu di mana kita banyak ketemu orang baru. Dari berbagai daerah, latar belakang, dan karakter yang beda-beda. Di situlah pertemanan mulai terbentuk. Ada yang karena sekelas, karena satu organisasi, bahkan cuma karena sering nongkrong di tempat yang sama. Namun sayangnya, tidak semua pertemanan tumbuh karena rasa nyaman dan saling percaya. Kadang ada yang muncul karena “butuh.” Butuh teman buat kerja kelompok, butuh partner buat acara kampus, atau bahkan butuh koneksi buat kelihatan eksis. Kalau sudah begitu, pertemanan yang kelihatan akrab di luar bisa jadi cuma topeng di dalam.
Sekarang, semua hal gampang tebungkus biar terlihat bahagia. Satu foto bareng bisa terlihat hangat, padahal lima menit sebelum foto, semuanya saling nyinyir. Di Instagram, takarirnya bisa “my besties forever,” tapi di belakang saling gosip. Tak sedikit mahasiswa yang jadi tertekan karena meresa harus punya circle biar terlihat keren.
Lingkungan yang Nyaman
Padahal punya teman banyak belum tentu membuat hidup tenang. Kadang justru bikin capek, karena harus menjaga image dan pura-pura nyaman di lingkungan yang sebenarnya tidak cocok. Ada istilah yang sering kita dengar “Teman saat senang, hilang saat susah.” Dan itu nyata. Ketika kita lagi di bawah, tiba-tiba yang dulu sering nongkrong bareng mendadak sibuk semua. Di situ kita sadar, ternyata tak semua yang dekat itu benar-benar peduli.
Banyak faktor kenapa pertemanan bisa jadi tak tulus. Pertama, gengsi. Banyak yang takut teranggap tidak gaul kalau tidak punya circle. Jadi ikut-ikutan nongkrong agar kelihatan punya teman, walau hati tak nyaman. Kedua, rasa takut terkucilkan. Di kampus, semua orang pengin diterima. Kadang kita rela pura-pura nyambung sama obrolan yang kita tidak suka, hanya agar terlihat “anaknya asik.”
Ketiga, kompetisi. Dunia kampus itu keras juga. Ada saingan soal nilai, jabatan organisasi, atau bahkan perhatian dosen. Akhirnya muncul pertemanan yang isinya strategi bukan keikhlasan. Dan, keempat, efek media sosial. Semua orang pengin tampil sempurna. Jadi, pertemanan pun kadang jadi konten, bukan hubungan nyata.
Namun sebenarnya, pertemanan yang benar-benar itu masih ada. Hanya kadang kita lupa bentuknya seperti apa. Teman sejati itu bukan yang selalu ada di foto, tapi yang tetap ada waktu kita tidak punya apa-apa. Mereka tidak men-judge, tidak membanding-bandingkan, dan tidak meninggalkan saat kita gagal. Nilai kemanusiaan atau humanity di sini penting, karena pertemanan sejati tumbuh dari empati rasa saling mengerti tanpa harus banyak bicara.
Teman yang manusiawi tidak hanya hadir untuk seru-seruan, tapi juga buat menenangkan ketika semuanya tengah berantakan. Bukan tentang seberapa sering nongkrong bareng, tapi seberapa tulus dia bisa mendengarkan cerita kita. Itulah bentuk kemanusiaan yang paling sederhana, tapi justru paling langka di dunia kampus sekarang.
Introspeksi Diri
Kalau ingin memiliki lingkaran pertemanan yang benar, harus mulai dari diri sendiri dulu. Pertama, jadi diri sendiri. Jangan pura-pura jadi orang lain hanya biar diterima. Teman sejati bakal suka kita apa adanya, bukan karena pencitraan. Kedua, latih empati. Coba mendengarkan orang lain tanpa langsung memberi komentar atau nasihat. Kadang orang cuma butuh didengar. Ketiga, jauhi hubungan transaksional. Jangan berteman karena “ada maunya.” Bertemanlah karena ingin tumbuh bersama. Dan, keempat, terima perbedaan. Teman sejati tidak harus sama. Justru dari perbedaan kita bisa belajar banyak hal baru.
Kita juga harus sadar kalau tidak semua teman bisa jadi sahabat. Ada yang cuma numpang lewat buat memberi pelajaran hidup, dan itu tidak apa-apa. Kadang, kehilangan teman yang pura-pura itu juga bentuk perlindungan dari Tuhan biar kita lebih tenang. Karena tidak semua yang pergi itu rugi, ada yang justru bikin kita lebih damai.
Kadang, kita terlalu sibuk menilai orang lain “pura-pura,” tapi lupa introspeksi. Jangan-jangan justru kita yang juga pakai topeng. Tidak jujur sama diri sendiri, tak berani ngomong jujur, dan selalu ingin terlihat sempurna di depan orang lain. Sebelum nanya “Teman saya tulus tidak, ya?”, coba tanya dulu, “Saya sudah jadi teman yang tulus belum?”. Karena pertemanan sejati itu dua arah, bukan hanya soal siapa yang hadir, tapi juga siapa yang kita pilih untuk tetap bertahan.
Lingkaran pertemanan di dunia mahasiswa memang beragam. Ada yang nyata, ada yang palsu, dan ada juga yang masih bingung di tengah-tengah. Namun, satu hal yang pasti, pertemanan sejati selalu berlandaskan kemanusiaan, empati, dan kejujuran. Tidak apa-apa punya sedikit teman, asal tulus. Karena kadang, satu teman yang benar-benar peduli jauh lebih berharga daripada sepuluh yang cuma datang saat kita lagi di atas.
Jadi, mulai sekarang, tak perlu sibuk mencari circle yang keren. Cukup cari yang tulus. Karena di akhir perjalanan kuliah nanti, yang paling berkesan bukan seberapa ramai lingkaran pertemanan kita, tapi siapa yang tetap tinggal saat semua orang telah pergi.[]

