Perempuan Muda dan Tren Healing: Kebutuhan atau Gaya Hidup?

Sumber Gambar: freepik.com

Beberapa tahun terakhir, istilah healing menjadi mantra baru di kalangan perempuan muda. Mulai dari nongkrong di cafe estetik, belanja online, shopping, sampai sekadar rebahan sambil memutar daftar melow, semuanya terlabeli sebagai bentuk healing. Media sosial pun penuh dengan konten liburan singkat, me time, skincare malam-malam, dan berbagai aktivitas yang terkemas seolah menjadi jalan menuju ketenangan.

Tak sedikit kreator konten yang memamerkan sudut-sudut “ruang pemulihan” versi mereka, dengan estetika visual yang menarik. Namun, pertanyaannya, apakah healing ini benar-benar kebutuhan emosional yang mendesak, atau hanya tren gaya hidup yang sedang naik daun?

Kalau melihat lebih dekat, perempuan muda saat ini hidup di tengah dunia yang bergerak sangat cepat. Tuntutan belajar semakin berat, standar sosial semakin tinggi, dan kehidupan digital membuat semua terasa kompetitif. Semua orang seolah berlomba untuk tampil produktif, bahagia, cantik, sukses, dan stabil secara emosional.

Ekspektasi Tak Realistis

Tidak hanya itu, tekanan dari medsos yang selalu memperlihatkan gambaran hidup ideal tubuh sempurna, pasangan romantis, keluarga harmonis, dan karir yang berjalan mulus membentuk ekspektasi baru yang sering kali tidak realistis. Di tengah tekanan yang begitu besar, tidak heran jika banyak perempuan muda merasa kewalahan dan akhirnya mencari ruang untuk bernapas. Dalam konteks inilah, healing dipandang sebagai jeda yang natural, bahkan penting untuk menjaga kesehatan mental.

Namun, kita harus jujur bahwa tidak semua aktivitas yang berlabel healing benar-benar membawa penyembuhan emosional. Banyak dari tren healing yang viral justru lebih fokus pada tampilan daripada esensinya. Healing sering terkaitkan dengan traveling ke tempat indah, makan di restoran kekinian, atau membeli barang baru sebagai bentuk self reward.

Padahal, penyembuhan mental tidak selalu harus mahal atau terjadi di tempat-tempat menarik. Jika konsep healing hanya terpandang sebagai aktivitas konsumtif, maka ia berubah menjadi gaya hidup baru yang penuh tekanan. Seolah-olah seseorang belum benar-benar pulih jika belum liburan ke pantai, belum menginap di hotel estetik, atau belum punya foto-foto cantik di Instagram.

Baca Lainya  Filter dan Kepercayaan Diri Perempuan

Perempuan muda juga sering menjadi target utama industri yang memanfaatkan tren ini. Mereka sering melihat berbagai iklan dan konten di TikTok maupun Instragram yang mengatakan mereka “butuh” produk tertentu agar tenang, “butuh” liburan mewah untuk pulih, atau “butuh” belanja barang terbaru untuk merasa layak dan terhargai.

Tanpa sadar, healing berubah menjadi sesuatu yang terjual secara halus. Pada akhirnya, banyak perempuan justru terjebak dalam lingkaran yang ironis: stres → butuh healing → healing yang mahal → stres lagi karena uang habis. Alih-alih benar-benar tenang, mereka justru menambah beban baru.

Ruang Pemulihan

Meski demikian, kita juga tidak boleh menyepelekan fakta bahwa kebutuhan healing itu sendiri nyata. Perempuan muda menghadapi tekanan mental yang luar biasa: meningkatnya angka kecemasan, burnout akibat tuntutan akademik atau pekerjaan, perbandingan sosial yang melelahkan, dan masalah hubungan yang kompleks. Semua ini tentu membutuhkan ruang pemulihan. Dalam situasi tertentu, jeda untuk diri sendiri bisa menjadi cara efektif untuk mengembalikan energi mental. Healing dalam makna yang sesungguhnya bisa menjadi bagian penting dari self-care yang sehat.

Namun yang perlu tergarisbawahi adalah bahwa healing tidak harus mengikuti tren yang ada di medsos. Ia bisa sangat sederhana: membaca buku kesukaan, mendengarkan musik, berjalan pagi, tidur cukup, atau sekadar berbicara jujur dengan diri sendiri. Terkadang, healing justru terjadi melalui hal-hal kecil yang tidak terlihat estetik tetapi memberikan ketenangan mendalam.

Sebagian perempuan mungkin menemukan kedamaian dengan beribadah lebih khusyuk, mendekat pada keluarga, atau ikut kegiatan sosial yang membuat hati lebih ringan. Ada banyak cara untuk pulih, dan setiap orang berhak menentukan versinya sendiri tanpa merasa perlu mengikuti standar healing yang viral.

Baca Lainya  Tren Gaya Kerudung Mahasiswa UIN

Pada akhirnya, tren healing di kalangan perempuan muda bisa terbaca dari dua sisi. Di satu sisi, ia merupakan refleksi dari kebutuhan emosional yang nyata di tengah tekanan modern. Di sisi lain, ia juga bisa menjadi gaya hidup konsumtif yang menciptakan standar baru tentang bagaimana “seharusnya” seseorang pulih. Yang penting, perempuan muda perlu memaknai healing sebagai perjalanan pribadi, bukan kompetisi sosial. Ketenangan tidak harus indah di kamera, tidak perlu mahal, dan tidak perlu divalidasi oleh siapa pun.

Dalam dunia yang semakin bising, healing sebenarnya adalah kemampuan untuk mengenali batas diri, menerima emosi apa adanya, dan memberi waktu untuk beristirahat. Ketika perempuan mampu memahami hal itu, healing akan kembali ke esensi awalnya: sebuah proses yang tulus untuk kembali pulih, bukan sekadar tren yang dikejar demi terlihat bahagia.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *