Perempuan dan Karier

Perempuan Karier Sumber Gambar: its.ac.id

Apa yang ada di benak orang-orang ketika seorang perempuan memiliki karier? Apakah tampak kuat, pantang menyerah, atau malah seperti mengabaikan peran keluarga? Dahulu, perempuan hanya pantas mengurus rumah tangga dan mendidik anak.

Namun, kini seiring perkembangan zaman banyak perempuan berhasil membuktikan kemampuan mereka di berbagai bidang. Misalnya, bidang pendidikan, ekonomi, pemerintah, hingga teknologi. Perubahan ini merupakan hasil perjuangan panjang emansipasi perempuan yang–salah satunya–oleh R.A. Kartini gagas.

Perempuan, kini banyak yang memiliki karier tetapi juga harus bisa menyeimbangkan antara karier dan keluarga. Karena kunci dari keberhasilan perempuan karier terletak pada kemampuan mengatur waktu dan komunikasi dengan pasangan. Perempuan yang kuat dan menjadi sosok yang tangguh membuktikan bahwa dia juga bisa memiliki karier sesuai dengan potensi yang mereka miliki.

Perempuan dalam Catatan Sejarah

R.A. Kartini tidak hanya semata perjuangannya sebagai emansipasi perempuan tetapi juga terhadap masalah sosial umum agar perempuan memperoleh kebebasan, otonomi, dan persamaan hukum sebagai bagian dari gerakan yang lebih luas (Riwanti et al., 2022). Bicara emansipasi perempuan Indonesia, tentu membicarakan pelopornya yakni R.A. Kartini.

Kartini, perempuan priyayi Jawa yang memiliki pemikiran maju di masanya yang kemudian terdapuk namanya menjadi “Penggerak Emansipasi Wanita Indonesia”. Berkat surat-surat korespondennya pada sahabat Belandanya, yang kemudian mewujud sebuah buku berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang (1911).

Kartini mempunyai pendirian bahwa Tuhan menjadikan laki-laki dan perempuan sebagai makhluk yang sama hak dan derajatnya. Mereka masing-masing memiliki jiwa yang sama, hanya berbeda dalam hal fisik maupun bentuk badannya. Sehingga kedudukan dan haknya (semestinya) juga tidak terbeda-bedakan.

Jejak Kartini ternyata tidak hanya sampai di situ, dia mendirikan “Sekolah Gadis” di Jepara untuk membawa pengaruh besar terhadap perkembangan pendidikan di daerah- daerah lainnya. Dengan demikian, mulailah sejak itu Kartini terjun bagi dunia pendidikan kaum perempuan di pulau Jawa. Kemudian dia berhasil secara berturut-turut mendirikan Sekolah Kepandaian Putri atau Sekolah Gadis di Batavia (Jakarta), Madiun, Semarang, Bogor, Malang, Cirebon, Surabaya, Surakarta dan Rembang (Tashadi, 1986:83).

Baca Lainya  Nyi Ageng Serang: Srikandi dari Tanah Jawa

Kartini berusaha agar perempuan memiliki kebebasan dalam menuntut ilmu dan mendapatkan gelar. Karena jika perempuan berpendidikan akan lebih cakap dalam mendidik anak dan mengurus rumah tangganya. Kartini mahir dalam berbahasa Belanda sehingga hampir seluruh hidupnya penuh dengan pekerjaan tulis-menulis dan surat menyurat dalam bahasa penjajah itu.

Peran Perempuan menurut Pandangan Islam

Kita tidak bisa menafikan bahwa perempuan tidak bisa memiliki karier, impian, dan berujung hanya di dapur. Karena sejatinya perempuan mempunyai impiannya sendiri. Namun, selalu saja banyak orang yang mengatakan “Apalah gunanya gelar kalau ujungnya ke dapur”. Sebab, adanya perkataan tersebut para perempuan berusaha membuktikan impiannya bahwa mereka juga layak untuk memiliki kedudukan tinggi.

Abu Syuqqah berpendapat tugas utama istri ialah mengurus rumah tangga. Namun, tak bisa menafikan juga bahwa mereka juga memiliki tanggung jawab lain di tengah masyarakat. Untuk menciptakan kemaslahatan masyarakat perlu ada hubungan erat antara suami dan istri. Oleh karena itu, Islam memberi kedudukan sejajar antara perempuan dan laki-laki dalam menjalankan kehidupan bermasyarakat (Q.S Al- Hujurat ayat 13).

Munculnya gerakan emansipasi perempuan dan feminisme menyebar ke dunia Barat dan berkembang ke dunia Islam. Sebenarnya konsep ini sudah Al-Qur’an cetuskan. Allah Swt. justru menganjurkan perempuan mengemban tugas kemasyarakatan. Namun, tatkala emansipasi masa kini menuntut memposisikan kesetaraan perempuan dan laki-laki ,dalam Islam, hal ini sangat bertentangan sekali.

Islam memang membolehkan perempuan mengusung kariernya dan melaksanakan tanggung jawab berinteraksi dengan masyarakat. Namun, bukan berarti hak-hak antara perempuan dan laki-laki tersamakan. Menghadapi tantangan zaman saat ini, pemaksudan emansipasi perempuan berusaha memberi kemaslahatan bagi masyarakat.

Manakala perempuan berkarier berarti dia sedang memerankan dua peran dalam dua kehidupannya; kehidupan keluarga dan masyarakat. Jika perempuan melakukan kewajibannya sebagai IRT dan mengurus anak-anaknya, mereka sebenarnya tengah berperan sesuai fungsi qodratiyyah. Sedangkan ketika mereka terjun ke masyarakat dan ikut bekerja, mereka tengah berperan sesuai dengan fungsi insyaniyyah-nya sebagai hamba Allah. Tak lain untuk berperan dalam dunia publik dan membantu dalam menstabilkan perekonomian keluarga.

Baca Lainya  Perempuan Bungsu dengan Cita-citanya

Kesimpulan bisa terambil bahwa perempuan di era sekarang memiliki kemampuan dan hak berkarier di berbagai bidang. Hal itu merupakan hasil perjuangan emansipasi atas prakarsa R.A. Kartini untuk mencapai persamaan hak dan pendidikan. Meski demikian, perempuan juga harus bisa menyeimbangkan peran karier (fungsi insaniyyah) dengan peran keluarga (fungsi qodratiyyah). Dan, itu merupakan suatu hal yang boleh dalam Islam selama masih tetap menjaga tanggung jawab utama. Oleh karena itu, perempuan yang berkarier ialah sosok tangguh dan prestasinya tidak boleh teremehkan. Sekali lagi, perempuan berhak untuk berkarier janganlah siapapun menyepelekannya![]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *