Menolak Kekerasan sebagai Pemulihan Martabat

Sumber Gambar: umahramah.org

Kau mungkin lupa, situasi yang menyakitkan mampu berbalik arah. Kau akan mengingatku sebagai angka delapan yang tegak serupa sketsa jam waktu. Pasir di dalamnya adalah usahaku, begitu banyak, terbuat dari butir-butir kemantapan hati, terkikis oleh kenyataan yang kau buat sendiri. Duka yang akan menggelapkan harimu lebih kejam dari tiap-tiap kemungkinan yang dapat dibayangkan

Sekilas, petikan prosa karangan Wira Nagara dalam Disforia Inersia (2018) tersebut kita maknai sebagai pernyataan ancaman. Serta upaya balas dendam kepada seseorang karena kekecewaan yang ia dapatkan. Ditambah dengan kalimat intimidasi seperti “lebih kejam dari yang dibayangkan”, turut menjadikan kalimat penutup dari kutipan di atas sempurna berubah layaknya wujud pisau yang kapan saja bisa terayun pada seseorang yang membuatnya terluka. 

Namun, Wira tak pernah melakukannya. Ia justru mengekspresi-abadikan lukanya melalui beragam karya sastra. Lewat kumpulan puisi, musikalisasi puisi, musik, prosa, hingga quotes yang berselancar di media massa atas tindakan kekecewaan yang ia terima. 

Ragam luka asmara yang ia dapatkan dari pengkhianatan, pembodohan, pembohongan, penolakan, pengabaian hati yang ia alami dari perempuan yang ia cintai tersikapi dengan penuh sadar diri. Tentu juga, dengan kontrol diri. Namun ini bukan tentang Wira, tetapi kita bisa melihat dan menjadikannya sebagai contoh dalam menyikapi hati yang patah. Bukan dengan melayangkan kapak atau bentuk kekerasan apapun sebagai pemulihan martabat atas penolakan dan pengkhianatan yang ia dapat. 

Penolakan Berujung Kekerasan

Saya tak memiliki tendensi untuk membela gender mana pun. Namun, kasus yang baru saja mencuat ke media pada Kamis, 26 Februari 2026 lalu di UIN Sulan Syarif Kasim Pekanbaru cukup memantik saya untuk menuliskannya. Pemberitaan berseliweran, konten-konten mengenai kekerasan terhadap perempuan mulai banjir, redaksi perihal ketidakterimaan atas penolakan asmara kepada lawan jenis ikut serta mewarnai. Sampai pada ragam komentar yang warganet tulis pascamengetahui motif, terungkapnya alasan, tersebarnya video, membenarkan tindakan, mendukung, dan menyalahkan pihak perempuan turut andil dalam hiruk media sosial. 

Baca Lainya  Menjaga Aurat di Tengah Tren Fesyen

Misalnya di akun Tik Tok @y_riki dengan ragam komentar sarkas atas video yang ia unggah. Seperti; aku salut sama yang kapak tuh cewe, makasi bro supaya semua cewek belajar gak semua cowo bisa dipermainkan wahai cewe-cewe murahan diluar sana; intinya cewenya yang ga bener, murah banget si cewek; makanya kalau jadi cewek jangan mempermainkan perasaan laki-laki. Kalau laki-laki penyabar lu aman, kalau sebaliknya lu selesai. 

Komentar-komentar di atas, tentunya hanya sekilas. Banyak sekali narasi seksis dan sarkas yang tertuju kepada perempuan. Padahal takarir yang tertulis pemilik akun memberikan gagasan yang bijak dan netral. Namun warganet agaknya tetap tidak mau tahu soal itu. Komentar justru menyudutkan perempuan, menyalah-biarkan perempuan hingga mewajarkan tindakan laki-laki. 

Padahal, persoalan hati bukan hanya milik perempuan, laki-laki juga terlibat di dalamnya. Terlepas dari dinamika persoalan di antara mereka berdua, saya sepakat dengan sikap-sikap warganet yang memilih tidak menyudutkan serta turut tidak membenarkan tindakan tersebut. 

Bagaimana pun, kekerasan tidak dapat kita normalisasikan. Rasa sakit karena pengkhianatan adalah pengalaman emosional, tetapi tetap tidak bisa menjadi pembenaran kekerasan untuk melakukan penyerangan. Hanya dengan dalih sebagai pemulihan martabat, penolakan pelecehan terhadap laki-laki, pemertahanan harga diri, dan pengembalian kehormatan sampai melakukan tindakan di luar nalar. 

Konsekuensi Jatuh Hati

Saya kira terlalu gila bila laki-laki berbuat demikian hanya karena alasan-alasan yang tadi. Seharusnya kita bisa kembali pada konsep mencintai vs patah hati. Menempatkan keduanya pada posisi yang sama, tidak menempatkan keduanya pada posisi yang lebih unggul atau meletakkan paling bawah.

Sesederhana berani memutuskan jatuh hati, harus pula berani menyisihkan ruang untuk patah hati. Bahwa kemungkinan-kemungkinan patah kerap terjadi dari jalinan asmara di antara keduanya. Ketika konsep tersebut terjadi, saya kira kontrol diri, kesadaran, dan regulasi emosi tetap terjaga meski realita memberikan wajah yang beragam. 

Baca Lainya  Berteman dengan Beta Woman (2)

Kasus di atas, memberikan gambaran bahwa ketika cinta berubah menjadi amarah, batas antara luka dan kekerasan sering kali menjadi kabur. Secara psikologis, cinta yang kuat sering kali berkorelasi dengan keterikatan emosional yang tinggi, sehingga pengkhianatan dapat memicu reaksi ekstrem. Selain itu, ketika relasi asmara laki-laki dan perempuan bermakna sebagai kepemilikan, maka kehilangan terasa seperti perampasan hak, sehingga masih memaknai kehilangan atau pengkhianatan sebagai luka atas harga diri yang harus kita pulihkan. 

Apapun itu, segala bentuk kekerasan terhadap perempuan tidak ada pembenaran sebagai pemulihan martabat laki-laki akibat kekecewaan. Sah-sah saja apabila muncul perasaan kecewa dan terluka. Tidak ada yang salah, yang salah adalah bentuk reaksi yang berlebih hingga merugikan bahkan menyakiti.

Toh, kita bisa belajar dari Wira, menikmati luka dengan mengubahnya menjadi karya. Membuatnya sebagai laki-laki tetap terlihat berwibawa, tidak justru kehilangan martabat karena terabaikan. Sebab tak melulu bahagia yang selalu dirayakan, patah hati pun juga perlu dirayakan dengan batas yang wajar dan akal yang dijaga.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *