Menjadi mahasiswa sering kali terjuluki sebagai agent of change atau agen perubahan. Harapannya mahasiswa berperan dalam membawa kontribusi untuk masyarakat dan bangsa. Tentunya sebagai generasi muda kita seharusnya siap menjadi penerus dan membawa perubahan positif untuk lingkungan sekitar.
Namun, di era sekarang banyak mahasiswa yang belum dapat mengendalikan emosionalnya. Tak sedikit mahasiswa yang mudah tersulut reaksi emosi dan tersinggung tanpa mencari tahu kebenarannya dahulu. Fenomena ini bernama “baperan”, yaitu istilah gaul berarti seseorang mudah terbawa perasaan atau sensitif emosional menanggapi situasi atau perkataan orang.
Mahasiswa teranggap sebagai orang yang sudah berpendidikan dan mempelajari berbagai bidang keilmuan, sehingga terharapkan dapat menjadi seorang tokoh sosial yang memimpin perubahan (Amri, 2023). Dengan demikian, menjadi mahasiswa bukan sekedar kuliah dan berpikir kritis saja, tetapi juga menjadi pribadi baik dalam berpikir serta bertindak. Maka dari itu, mahasiswa harus mampu menjadi pemuda yang tak hanya aktif di medsos, melainkan memanfaatkan ilmunya untuk lingkungan sekitar. Sebagai mahasiswa kita harus memiliki cara pengelolaan emosi yang baik karena harapannya dapat berkontribusi pada komunitas sosial.
Sulutan Teknologi
Derasnya arus globalisasi saat ini membuat akses internet lebih mudah, tentunya hal ini membawa dampak positif bagi mahasiswa. Dengan adanya internet mahasiswa lebih mudah berinteraksi, berdiskusi, dan menyalurkan ilmu pengetahuan lewat medsos. Namun, fenomena ini juga membuat banyak mahasiswa kurang dalam literasi informasi sehingga sering kali mudah tersulut emosi, tersinggung, bahkan terkompromi dengan suatu berita yang tersebar di medsos tanpa adanya analisis terlebih dahulu.
Sebagai mahasiswa yang terdidik sudah semestinya menjadi teladan dalam berpikir, bersikap, maupun bertindak. Masyarakat sangat mengharapkan mahasiswa dapat berperan dalam perubahan positif untuk lingkungan sekitarnya. Dengan begitu, sebagai mahasiswa sudah seharusnya kita tidak hanya aktif secara virtual, melainkan memberikan dampak secara nyata. Seperti menyampaikan ide kreatif, aktif dalam diskusi masyarakat, menyampaikan pendapat dan kritik untuk kemajuan desa, dan menjadi penengah saat ada perbedaan pendapat.
Pengelolaan emosi yang baik sangat berpengaruh dalam diri seorang mahasiswa. Dengan pengelolaan emosi yang stabil tentunya mahasiswa akan lebih mudah menanggapi permasalahan yang ada di lingkungan sekitar. Seperti cara menyikapi perbedaan pendapat dengan bijak, sikap dalam menerima kritik secara terbuka, dan berkolaborasi dengan berbagai pihak demi kemajuan bersama.
Mahasiwa seharusnya menjadi contoh dalam berdiskusi, dan menyampaikan pendapat dengan nalar bukan perasaan. Sayangnya di era modern ini banyak mahasiswa lebih aktif di medsos daripada terjun ke lapangan. Dengan adanya medsos, mahasiswa jadi lebih mudah bereaksi terhadap suatu isu secara emosional, ungkapan emosional tersebut biasanya terdapat pada kolom komentar, tanpa adanya sebuah solusi dan aksi nyata.
Menjaga Citra
Fenomena ini disebut mahasiswa baperan karena menggambarkan sikap cepat panas dan emosional tanpa adanya suatu tindakan. Pentingnya penerapan etika dalam bermedia sosial saat ini, karena jangkauannya yang luas, sehingga mesti lebih berhati-hati dalam mengunggah atau mengkritik sesuatu. Sikap bijak dalam bermedia sosial tentunya penting sekali bagi seorang mahasiswa. Terlebih saat ini, generasi muda banyak menguasai medsos, sehingga jika tidak menggunakannya dengan baik justru membuat citra mahasiswa turun di kalangan masyarakat.
Langkah awal untuk menjadi mahasiswa yang berperan adalah berpikir kritis dan terbuka terhadap semua informasi yang mereka terima, ialah dengan menilai suatu isu berdasarkan fakta dan logika. Pun mengenai pengendalian emois. Mahasiswa yang matang secara emosional akan memudahkan dalam menyelesaikan konflik dan tidak mudah tersinggung saat menerima kritik. Mahasiswa juga perlu aktif dalam organisasi atau kegiatan kampus supaya dapat belajar cara bersosialisasi, berkomunikasi, serta dapat melatih sikap kepemimpinan.
Selain itu mahasiswa juga wajib mengetahui cara memanfaatkan medsos dengan baik sebagai sarana untuk bertukar ilmu, pendapat, serta mencari relasi yang lebih luas. Juga harus terus mengembangkan diri dalam bidang akademik maupun non-akademik. Misalnya mengikuti sebuah pelatihan atau life skill untuk meningkatkan kualitas diri. Serta tak lupa harus memiliki etika yang baik agar mudah masyarakat terima.
Mahasiswa yang berperan adalah mereka yang mampu membawa dampak positif bagi diri sendiri, lingkungan kampus, dan masyarakat sekitar. Frasa “Mahasiswa Beperan bukan Baperan” mengajak para mahasiswa agar tidak terjebak pada sikap emosional dan mudah baper. Masyarakat membutuhkan pemuda yang mampu berpikir kritis, rendah hati, dan bergerak dengan aksi yang nyata. Untuk melakukan sebuah perubahan, mahasiswa harus menerapkan nilai-nilai tadi, karena perubahan tidak akan lahir dari sebuah keluhan tapi lahir sebab adanya aksi nyata. Mari kita menjadi mahasiswa yang tidak hanya baperan tapi juga berperan dalam kemajuan lingkungan sekitar kita. Hidup mahasiswa![]

