Jika Takdir Mengizinkan Kita Bertemu Kembali

Sumber Gambar: istockphoto.com

Ada hari-hari ketika aku terlihat baik-baik saja. Aku menjalani hidup seperti perempuan lain tersenyum, bercanda, dan sibuk dengan urusan dunia. Namun, hanya aku yang tahu betapa sering hatiku diam-diam menyebut namamu. Bukan dengan suara, bukan pula dengan tulisan, melainkan dengan perasaan yang menekan pelan tapi terus-menerus, seperti ombak kecil yang tak pernah berhenti menghantam pantai.

Kita pernah saling mencintai. Itu bukan ilusi, bukan pula kenangan yang kubesar-besarkan agar rindu ini terasa masuk akal. Kita benar-benar pernah bersama, pernah saling menjadi rumah, meski rumah itu akhirnya runtuh karena kami terlalu muda untuk tahu cara memperbaikinya. Dulu, ketika semuanya berakhir, aku berpikir rasa ini akan ikut pergi seiring waktu. Nyatanya tidak. Ia hanya berubah bentuk menjadi rindu yang lebih dewasa, lebih sunyi, dan tak pernah benar-benar hilang.

Sejak perpisahan itu, tidak ada komunikasi. Tidak satu pun pesan yang saling menyapa. Kita memilih menjadi asing, meski pernah saling mengenal begitu dalam. Aku tidak tahu apakah kamu juga merasakan hal yang sama, atau hanya aku yang terjebak pada masa lalu yang tak lagi kamu ingat. Ketidaktahuan itu menjadi bagian yang paling menyakitkan, karena ia meninggalkan ruang bagi harapan sekaligus ketakutan.

***

Aku ingin menghubungimu berkali-kali. Ada begitu banyak malam ketika aku menatap layar ponsel, membuka namamu, lalu menutupnya kembali. Aku merangkai kalimat di kepalaku, kemudian menghancurkannya sendiri. Aku ingin mengatakan bahwa aku rindu, bahwa ada bagian diri ini yang masih menunggumu. Namun gengsi selalu lebih kuat. Aku takut terlihat lemah. Aku takut jika aku menghubungimu, aku hanya akan menjadi masa lalu yang mengganggu masa kini yang sudah kamu bangun tanpa aku.

Baca Lainya  Ragam Perempuan

Yang paling kutakutkan adalah kemungkinan bahwa kamu sudah tidak mencintaiku sama sekali. Bahwa aku hanyalah kenangan kecil yang sesekali muncul, lalu menghilang tanpa arti. Aku tidak sanggup membayangkan diri ini mengungkapkan rindu, lalu harus menerima kenyataan bahwa aku sendirian dalam perasaan ini. Karena itulah aku memilih diam, meski diam itu sering kali terasa seperti hukuman bagi diri sendiri.

Tahun demi tahun berlalu, dan aku berubah. Aku belajar banyak hal tentang hidup, tentang kehilangan, dan tentang menerima. Aku belajar bahwa tidak semua cinta harus kita perjuangkan dengan kehadiran. Ada cinta yang cukup kita perjuangkan dengan keteguhan untuk tidak mengganggu. Namun sejujurnya, aku lelah menjadi kuat sendirian. Ada bagian diri ini yang hanya ingin menyerah pada rindu, meneleponmu, dan berkata bahwa aku masih ada masih di tempat yang sama.

Aku sering bertanya-tanya, apakah kamu juga pernah merindukanku? Apakah namaku masih muncul di kepalamu pada saat-saat tertentu di sela kesibukan atau sebelum tidur? Apakah kamu masih mengingatku ketika menemukan hal-hal kecil yang dulu pernah kita alami bersama? Ataukah aku benar-benar telah tergantikan oleh hidup baru yang lebih membahagiakanmu? Pertanyaan-pertanyaan itu tidak pernah memiliki jawaban, dan mungkin memang tidak seharusnya terjawab sekarang.

***

Kadang-kadang aku membayangkan pertemuan kita di masa depan. Tidak dramatis dan tidak terencanakan. Hanya dua orang yang saling menatap, mencoba mengenali wajah yang pernah begitu akrab. Aku membayangkan jantungku berdebar hebat, sementara aku harus berpura-pura tenang. Pun aku membayangkan senyum kecil yang canggung dan percakapan singkat yang menyimpan begitu banyak hal yang tak terucap.

Aku tidak ingin bertemu denganmu sekarang, saat aku masih penuh takut. Aku ingin bertemu nanti, jika takdir memang mengizinkan. Saat aku sudah tidak lagi bertanya apakah aku cukup berarti bagimu. Saat aku telah belajar mencintai tanpa rasa takut ditinggalkan. Aku ingin bertemu denganmu ketika kita sama-sama telah menjadi versi terbaik dari diri kita tanpa ego lama, tanpa luka lama, dan tanpa gengsi yang dulu memisahkan.

Baca Lainya  Putri Kecil Ayah sudah Besar

Jika kelak kamu bukan lagi jodohku, aku ingin mengingatmu dengan tenang. Aku ingin berkata pada diriku sendiri bahwa aku pernah mencintai seseorang dengan sepenuh jiwa, bahkan ketika aku tidak berani mengatakannya. Bahwa rindu ini pernah ada, tumbuh, dan mendewasakan, meski tidak berakhir seperti yang kuharapkan. Namun bagaimanapun, kamu akan selalu memiliki ruang spesial di hatiku sebagai bagian dari perjalanan yang pernah mengajarkanku banyak hal tentang cinta.

Untuk sekarang, aku akan terus diam. Bukan karena aku tidak rindu, melainkan karena aku menghargai perasaanku sendiri. Aku menyimpan rindu ini dalam doa-doa yang tak pernah kusebutkan namanya, berharap Tuhan mengerti bahasa hatiku. Aku bahkan berdoa agar Tuhan membuatku lupa, jika memang kamu tidak ditakdirkan untukku. Namun hingga detik ini, aku masih mencintaimu dan merindukanmu dalam bentuk yang paling sunyi.

Dan jika suatu hari takdir mengizinkan kita bertemu kembali, aku berharap rindu ini tidak lagi menyakitkan. Aku berharap ia menjadi saksi bahwa cinta yang sabar, meski disimpan dalam diam selama bertahun-tahun, tidak pernah benar-benar sia-sia.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *