Impresi Medsos terhadap Mahasiswa: antara Tren dan Realita

Sumber Gambar: freepik.com

 

Di era digital saat ini hampir seluruh orang menggunakan media sosial (medsos) terutama di kalangan mahasiswa. Medsos menyediakan berbagai platform untuk berkomunikasi, berbagi infromasi, saranan belajar, dan mencari hiburan. Pun menciptakan kreativitas, mengikuti video viral, atau membuat konten yang sedang tren. Namun, di balik kemudahan dan manfaat medsos berikan, terdapat juga dampak negatif yang perlu terperhatikan, terutama untuk kalangan mahasiswa atau anak muda.

Penggunaan medsos di kalangan mahasiswa sudah menjadi kehidupan sehari-hari bagi mereka. Platfrom medsos yang sering mereka gunakan antara lain Whatsapp, Instagram, Tiktok, dan X (Twitter). Namun, di balik penggunaan medsos sering kali terdapat perbedaan antara apa yang tampil dan kenyataan hidup sebenarnya.

Pada awalnya, medsos hadir untuk memudahkan komunikasi saja seperti mahasiswa menghubungi teman, dosen, keluarga ataupun yang lain tanpa terbatas oleh waktu dan tempat. Melalui media sosial mahasiswa juga bisa mencari referensi atau berkolaborasi dalam proyek atau tugas dengan lebih mudah. 

Seiring berjalannya waktu, medsos menjadi berkembang bukan hanya untuk berkomunikasi, melainkan juga menjadi media untuk menampilkan gaya hidup. Banyak mahasiswa yang menggunakannya untuk membagikan keseharian, mengikuti tren yang sedang viral, atau sekadar mencari hiburan. Dari sinilah munculnya perbedaan antara tren dan realita yang sebenarnya.

Perilaku dan Cara Berpikir

Dengan perkembangan medsos mulai munculnya berbagai tren dan video viral di berbagai platfrom yang dengan cepat menarik perhatian banyak orang. Tren-tren di media sosial secara tidak langsung mempengaruhi perilaku dan cara berpikir mahasiswa. Mereka sering kali terbawa tren dengan membuat konten serupa, mengikuti tantangan yang sedang populer, atau meniru gaya hidup yang sedang dunia medsos bicarakan. Hal ini terjadi agar mereka tidak merasa tertinggal atau ingin tetap ternggap ”update” oleh teman-temannya. Dari sinilah muncul rasa takut tidak mau tertinggal dari orang lain atau sering masyhur dengan istilah FOMO (Fear of Missing Out).

Baca Lainya  Cinta dalam Islam

FOMO atau rasa takut tertinggal tenyata sangat memengaruhi kehidupan mahasiswa. Banyak dari mereka yang terlalu fokus pada dunia digital dan sering membandingkan apa yang terlihat di medsos. Misalnya, saat melihat teman-temannya sering membagikan foto liburan, atau melihat teman yang berkehidupan mewah dan aktivitas yang terlihat menyenangkan. Hal ini akan memicu rasa ingin seperti teman-temannya, di sinilah muncul rasa cemas dan insecure atau kurang percaya diri. Padahal apa yang terlihat di medsos sebenarnya hanya bagian kecil dari kehidupan mereka.

Sebagian mahasiswa menjadi mudah merasa tertekan, kehilangan kepercaya diri, sulit menghargai dan sulit untuk mensyukuri apa yang mereka miliki. Selain tekanan sosial, medsos juga memengaruhi gaya hidup dan keuangan. Banyak dari mereka yang merasa harus mengikuti tren agar terlihat keren atau teranggap tidak ketinggalan zaman. Misalnya membeli pakaian yang menjadi viral, berkunjung ke tempat hits atau memakai gadget terbaru hanya untuk terlihat menarik di medsos.

Dari situlah muncul rasa gengsi dan ingin terakui oleh teman-temannya. Terkadang beberapa dari mereka rela mengeluarkan lebih banyak uang untuk mempertahanankan penampilan atau mendapat pengakuan dari teman-teman. Sebagian mahasiswa hanya mementingkan kebutuhannya di media sosial, terkadang mereka lupa dengan tugas tanggung jawabnya sebagai mahasiswa. Ada juga mahasiswa yang terlalu memaksakan diri mengikuti tren karena akan merasa takut tertinggal dengan teman atau gengsi. Tanpa sadar mereka mengabaikan dengan kondisi ekonomi yang terjadi pada diri atau di keluarganya, karena terlalu memaksakan diri untuk mengikuti tren di media.

Bijak Bermedsos

Berlebihan dalam bermedsos membuat mahasiswa kehilangan keseimbangan antara dunia digital dan kehidupan nyata. Banyak mahasiswa menghabiskan waktu berjam-jam untuk scrolling medsos hingga menganggu waktu belajar. Atau menurunnya semangat belajar, menunda-nunda dalam mengerjakan tugas kuliah, atau mengabaikan kegiatan sehari-hari yang penting.

Baca Lainya  Perempuan dan Perihal Ketidakpatuhan 

Kebiasan berlebihan dalam bermain media sosial bisa dapat membuat kecanduan. Menurut beberapa penelitian kecanduan media sosial dapat menyebabkan menurunnya konsentrasi, susah tidur, dan bisa menyebabkan kesehatan mental seperti stres, depresi, cemas, dan ketekanan dalam sosial.

Selain dampak negatif yang disebutkan, medsos juga memiliki dampak positifnya. Misalnya di platfrom seperti Instagram dan Tiktok untuk mengembangkan kreativitas mahasiswa, seperti membuat konten edukasi atau kampanye sosial yang bermanfaat untuk masyarakat. Banyak mahasiswa menggunakan media sosial sebagai tips belajar, mencari beasiswa atau bahkan mencari magang atau pekerjaan untuk masa depan.

Hal Pemanfaatan

Jadi medsos bukan hanya tentang tren dan hiburan saja tetapi juga bisa untuk mengembangkan potensi diri, termasuk akademik. Dengan pemanfaatan medsos yang tepat, mahasiswa dapat menyeimbangkan antara dunia digital dan kehidupan nyata, tetap produktif, kreatif tanpa harus terjebak pada tekanan sosial atau FOMO. Dengan itu mereka dapat fokus pada tujuan yang lebih bermanfaat. Medsos seharusnya digunakan untuk yang bermanfaat bukan malah terjebak dalam tekanan sosial. 

Untuk mengatasi antara tren dan realita, kita harus bijak dalam menggunakan medsos dengan cara membatasi dalam bermain media sosial atau menghindari membandingkan diri dengan konten orang lain atau juga bisa melakukan kegiatan yang disukai yang dapat mengurangi rasa fomo, meningkatkan rasa percaya diri dan menjaga keseimbangan antara tren dan realita. 

Pengaruh media sosial terhadap mahasiswa memang berada di antara tren dan realita. Tren yang sering viral menciptakan kesan yang sempurna, sementara realita menunjukkan kehidupan sehari-hari yang berbeda denga di media sosial. Jika tidak di atur dengan benar dapat menimbulkan kecanduan, tekanan sosial, dan kesehatan mental. Namun, dengan kesadaran yang dimiliki dapat mengontrol media sosial menjadi sarana untuk menghubungkan tren positif dengan realita yang bermakna, sehingga dapat membantu mahasiswa berkembang, kreatif, dan berwawasan luas.[]

Baca Lainya  Menjaga Kesehatan Mental Perempuan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *