Ibu: Surga yang Saya Nantikan

Sumber Gambar: kaltimkita.com

Perempuan teduh itu, ibu saya. Jiwa dan raga saya bersamanya selalu, di mana pun dan kapan pun akan saya nantikan doa dan ridanya. Selama sembilan bulan mengandung, beliau membawa saya ke mana pun pergi. Mempertaruhkan nyawa untuk membawa sayake dunia. Setelah lahir dia merawat buah hatinya hingga mendidiknya menjadi anak yang harus mengerti keadaan.

Manakala dunia tak berpihak pada saya, ibu mengajarkan makna perjuangan dengan segenap semangat menghadapi rintangan kehidupan. Perjuangannya membesarkan buah hatinya tak akan saya sia-siakan satu pun langkah keberhasilan akan jasanya.

Suatu pagi kala itu, saya terlambat pergi ke sekolah. Tepat pukul tujuh saya baru terbangun dari tempat tidur. Hampir setengah jam ibu membangunkan dan saya masih terlelap dalam mimpi inda. Beliau marah, jelas adanya. Ketidakdisiplinan dan tanggung jawab sebagai siswa saat itu seperti tidak saya prioritaskan.

Saya terbangun, lalu beranjak untuk segera berbenah menuju sekolah. Ibu tetap menyiapkan pakaian dan sarapan untuk, terselingi dengan omelan seperti para inang pada umumnya. Dia sosok yang sederhana dan kesederhanaannya membuat saya tergugah untuk meniru beliau.

Berbuat Baik

Ibu paling mudah terbawa perasaan, welas kasihnya di mana pun berada. Setiap orang yang berbuat baik kepada beliau, pasti juga beliau akan berusaha berbuat lebih baik kepada orang tersebut. Bagi saya, dia adalah pahlawan. Wonderwoman yang berjuang keras melawan dunia bagai ombak badai yang tak pernah berhenti menerjang, bertahan dengan segala omongan orang lain, juga berusaha membuat rumah tertata rapi, bahkan menyediakan makanan enak setiap masakannya.

Dia juga menjaga bapak di kala sakit, sampai masa-masa terakhirnya selalu menemani bapak. Betapa setianya beliau terhadap suami yang membersamainya selama hampir kurang lebih 19 tahun bersama. Sama-sama saling memahami, menjaga dan juga tetap saling menyayangi di setiap cobaan menerpa.

Baca Lainya  Jika Takdir Mengizinkan Kita Bertemu Kembali

Pasang surut kehidupan tidak membuatnya rapuh. Beliau selalu hadir dalam ratap tangis, sengsara, sakit, juga emosi saya yang terkadang tak kunjung reda. Rasa salut tak dapat saya ungkapkan hanya lewat secarik kata.

Ibu, apa sebenarnya arti sebuah kedewasaan? Apakah ketika saya terdiam saat tergores luka. Akankah saat saya mulai merenungi kehidupan bagaimana cara membuatmu bahagia dan menggapai surga bersama? Bagian mana, Bu?

Sekolah Pertama

Saya merindu masa kecil bersamamu. Beliau mengajarkan membaca, menulis, dan apa itu dunia. Betapa luas sabarnya saat itu. Merawat sepanjang malam bahkan tak jarang dia tidak bisa tertidur mendengar tangis buah hatinya. Harus dengan apa saya gantikan rasa terima kasih atas semua pengabdianmu sebagai seorang telah merawat buah hatinya.

Saya seringkali berbuat salah, dan jalan pemikiran saya dengannya sering tak searah. Entah sudah berapa kali saya membuat kesalahan bahkan tak terpungkiri saya pernah melawannya. Dan berjuta-juta kali saya meminta maaf. Mungkin terlihat berlebihan bagi sebagian orang.

Namun bagi saya, kata maaf itu sederhana tapi nyatanya tanpa kata maaf hidup tak akan sempurna. Beliau tidak pernah benar-benar memuji saya, gengsi katanya. Saya bukan sekali dua kali mengikuti lomba, dan dia tetap menjadi pendukung pertama di hidup saya. Ibu, tolong hidup lebih lama lagi. Selama mungkin, menemani saya di dunia yang kelam ini.

Bahasa cintanya terlampau luar biasa. Kasihnya selalu sampai bahkan di jarak yang tak bisa saya gapai dengan langkah. Perempuan tangguh, kokoh, dan selalu menjadi pelita hidup saya hingga saat ini. Tangannya yang mulai berkeriput, rambutnya yang mulai memutih, tapi tetap berdiri tegak menopang saya ketika lelah. Peluknya yang selalu saya tunggu di kala saya pulang. Dan, benar-benar seperti pulang ke rumah.

Baca Lainya  Asuhmu Tak Lagi Asih

Ibu adalah tempat saya pulang. Terkadang tanpa saya bercerita dia memeluk saya dan seakan lebih tahu semuanya. Bahagianya adalah energi. Ketika energi habis oleh riuhnya dunia, saya pulang kepadanya dan mengisi ulang energi sampai penuh. Kasihnya tak akan bisa terbalaskan, apapun yang saya lakukan, dia tetap sosok perempuan paling mulia yang Tuhan kirim untuk bersama saya.

Samudera Rasa Sayang

Saya, sayang sekali pada ibu. Luas samudera pun tidak akan bisa menandingi rasa sayang padanya. Dia berusaha tidak meratap di hadapan saya, beliau menutup rapat semua tangis dan lukanya ketika bersama saya. Tidak selalu, tapi saya sadar akan hal itu. Apa yang dia berikan kepada saya tanpa meminta balasan, tak terukur, seperti langit yang memberi tanpa pernah berhenti.

Ibu, entah saya tak tahu sudah berapa banyak yang kau lalui. Sudah berapa kali ibu mencurahkan tangis saat membersamai saya, air matamu yang tumpah karena saya. Maafkan saya ibu. Maaf jika belum bisa sempurna menjadi anak permpuanmu satu satunya. Engkau sangatlah hebat. Semangatmu yang tak pernah padam, membuat saya terlekang dalam sebuah keputusasaan.

Tak ada satu kalimat pun yang dapat mewakilkan rasa terimakasih saya padanya. Cintanya besar, ikhlasnya tiada tanding. Perhatiannya begitu hangat hingga terkadang lupa dirinya sendiri. Ibu, maaf bila saya merepotkan. Begitu banyak luka duka dan bahagia sudah kita lalui bersama. Saya harap akan terus lebih lama.

Jadilah saksi perjuangan saya mencapai mimpimu. Kerana sejatinya hidup ini akan saya berikan untukmu, mimpi ibu akan saya gapai dengan segala iringan doa-doa yang engkau panjatkan. Berikan saya lentera agar lekas bangkit meraih impian penuh asa ini. Mungkin saya tidak sekuat dan sehebatmu. Doakan saya agar segera sampai pada titik terbaik membahagiankanmu. Ibu, surgamu yang selalu saya tunggu.[]

Baca Lainya  Putri Kecil Ayah sudah Besar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *