Mahasiswa adalah generasi muda yang terharapkan mampu mewujudkan cita-cita bangsa. Dalam kehidupan yang berbangsa dan bernegara mahasiswa memegang penting sebagai agent of change (agen perubahan). Munculnya mahasiswa generasi Z sering kali terkaitkan dengan kata-kata “mental lemah” atau “generasi stroberi”, generasi baru yang tumbuh sebagai bagian dari dunia digital mereka di akses penuh terhadap teknologi sejak awal tumbuh kembangnya.
Peran dan keberadaan aktivisme mahasiswa telah menjadi bagian dari perubahan politik dan sosial di berbagai negara. Sebagai agent of change, mahasiswa terharapkan dapat mengembangkan inovasi atau ide-ide kreatif yang memberi manfaat bagi masyarakat sekitar. Perkembangan media sosial yang pesat telah mengubah aktivisme secara signifikan. Contoh platform seperti Instagram, TikTok, X (Twitter), Facebook, Youtube, dan lainnya. Aktivisme ini mendapatkan gaya baru karena kemampuan untuk menyebarkan informasi secara cepat dan luas.
Namun, dengan ini medsos memberikan platform bagi mahasiswa untuk mempromosikan ide atau inovasi mereka kepada masyarakat lebih luas. Hal ini dapat meningkatkan mahasiswa yang teranggap redup sebagai generasi gen Z. Etika aktivisme mahasiswa di era medsos melibatkan keseimbangan antara kebebasan berpendapat, tanggung jawab sosial, dan dampak terhadap masyarakat.
Tanggung Jawab Moral
Aktivisme mahasiswa di medsos harus berdasar pada etika yang kuat untuk menghindari penyebaran informasi atau kerusakan sosial. Tanggung jawab mahasiswa tidak hanya terjadi pada aksi fisik dan politik. Harapannya, mahasiswa mampu mendatangkan solusi terhadap persoalan masyarakat melalui kemampuan ilmu pengetahuan, riset, inovasi sosial. Aktivisme mahasiswa kini tidak hanya berorientasi pada kritik, tetapi juga memberdayakan masyarakat dan penyebaran informasi yang mencerahkan. Di sinilah medsos berperan besar sebagai alat untuk memperluas jangkauan pengaruh mahasiswa.
Perubahan aktivisme di era digital mengubah cara mahasiswa berinteraksi dan menyalurkan ide dengan menyalurkan gagasan hanya dengan satu postingan yang bisa menjangkau jutaan orang. Bahwa ruang digital telah menjadi penemuan baru bagi perjuangan intelektual. Gerakan ini membuktikan bahwa mahasiswa mampu memanfaatkan teknologi untuk memperluas dampak sosial.
Namun, di balik itu muncul pula permasalahan etika seperti penyebaran berita hoaks, ujaran kebencian, manipulasi informasi. Dengan demikian, medsos secara tidak langsung dapat meningkatkan kesadaran terhadap isu-isu sosial. Hal ini menjadi langkah awal untuk terlibat dalam aktivitas aktivisme mahasiswa.
Tantangan etika di medsos memberikan kebebasan berekspresi yang sangat luas, tapi di sisi lain membuka penyimpanan etika. Kurangnya literasi medsos menjadi permasalahan utama dalam memanfaatkannya untuk aktivisme mahasiswa. Etika ini juga mencakup pertanggungjawaban di mana aktivisme bertanggung jawab atas kesalahan mereka. Dengan ini memperbaiki informasi yang salah dan etika yang baik menuntut pembuktian sumber sebelum terbagikan.
Aktivisme mahasiswa di medsos sering muncul atau viral, etika memerlukan kesadaran akan dampak jangka panjang seperti konten yang ekstrem dapat memengaruhi publik bahkan memicu tindakan kekerasan. Aktivisme mahasiswa gerakan ini seperti reformasi di korupsi sering positif tetapi resiko muncul ketika mahasiswa menggunakan platform etika untuk kampanye yang melanggar aturan UU. Pentingnya etika dalam aktivisme mahasiswa adalah mencakup nilai moral yang mengatur perilaku manusia dengan norma dan tanggung jawab sosial. Dalam mahasiswa etika tidak hanya sopan santun tetapi juga mencakup objektivitas, integritas, tanggung jawab dalam bertindak.
Etika Aktivisme Digital
Mahasiswa yang bergerak di medsos seharusnya memiliki kesadaran kritis untuk menilai bahwa tindakan mereka membawa manfaat bagi masyarakat atau malah menimbulkan kerugian sosial. Aktivisme tanpa etika berpotensi menurunkan kepercayaan publik terhadap gerakan mahasiswa dan merusak nilai-nilai intelektual yang seharusnya mereka junjung tinggi. Etika privasi menuntut mahasiswa untuk mempertimbangkan dampak pada diri sendiri dan komunitas. Mereka harus menggunakan alat seperti VPN, akun anonim, atau platform dengan enkripsi end-to-end.
Selain itu, menghormati privasi orang lain adalah kunci, misalnya tidak membagikan foto atau data pribadi tanpa izin. Gerakan ini menunjukkan bagaimana aktivisme yang etis bisa membawa perubahan positif tanpa menghancurkan reputasi individu tanpa bukti kuat. Dengan demikian, etika sosial menekankan pada dampak jangka panjang tanggung jawab etis adalah inti dari aktivisme mahasiswa. Upaya menegakkan etika aktivisme di medsos untuk menjaga integritas aktivisme digital mahasiswa perlu mempelajari nilai-nilai etika dalam setiap tindakan.
Upaya tersebut antara lain: pertama, menegakkan prinsip kejujuran dan transparansi. Mahasiswa harus memastikan setiap informasi yang dia sampaikan berdasarkan fakta dan data yang dapat terpertanggungjawabkan. Kedua, menggunakan bahasa yang sopan santun. Kritik yang baik adalah kritik tersertai solusi dan tersampaikan dengan cara beradab. Dan, ketiga, meningkatkan literasi digital. Mahasiswa perlu memahami cara kerja medsos agar tidak mudah terjebak dalam penyebaran disinformasi.
Etika aktivisme mahasiswa di era medsos merupakan pondasi penting bagi perubahan sosial yang sehat dan beradab. Mahasiswa harus menyadari bahwa setiap kata dan tindakan di dunia digital memiliki konsekuensi moral. Aktivisme mahasiswa di era medsos adalah alat yang kuat untuk perubahan, tapi tanpa etika yang kuat, ia bisa menjadi bumerang. Mahasiswa harus melihat diri mereka sebagai pemimpin masa depan yang tidak hanya vokal, tetapi juga bijaksana.
Dengan mengedepankan etika, aktivisme dapat membawa reformasi yang berkelanjutan, seperti yang terlihat dalam gerakan mahasiswa global yang berhasil mengubah kebijakan. Pada akhirnya, etika bukanlah hambatan, melainkan pondasi untuk aktivisme yang efektif dan sukses di dunia digital. Oleh karena itu, aktivisme mahasiswa harus selalu berdiri di atas nilai keilmuan, tanggung jawab sosial, dan integritas moral, agar tetap menjadi kekuatan moral bangsa di era digital yang penuh tantangan.[]

