Pernahkah kita menatap cermin setelah melihat foto seseorang di media sosial dan tiba-tiba merasa penampilan kita “kurang”? Atau bertanya-tanya mengapa semua orang di layar terlihat begitu sempurna, sementara kita di dunia nyata punya tekstur kulit, jerawat kecil, atau bentuk tubuh yang jauh dari kata ideal? Pertanyaan-pertanyaan kecil itu sering muncul tanpa kita sadari, seolah media sedang membisikkan standar tertentu yang harus kita kejar. Padahal, apa benar kecantikan itu hanya milik mereka yang terlihat sempurna di layar?
Nyatanya, dunia media selama bertahun-tahun telah membangun panggung besar tempat citra-citra tampilan ideal seperti sebuah pertunjukan. Iklan menampilkan perempuan dengan kulit sebening porselen, tubuh proporsional, dan senyum memikat tanpa cacat. Film dan drama memperlihatkan tokoh perempuan yang bangun tidur dengan riasan yang masih sempurna, rambut yang tidak pernah berantakan, serta penampilan yang seakan tidak pernah goyah. Semua itu menciptakan gambaran yang halus, rapi, dan sangat jauh dari realitas sehari-hari. Gambaran yang akhirnya membentuk standar kecantikan yang tidak semua orang bisa atau capai.
Media sosial memperluas panggung itu, membuatnya semakin dekat dengan kehidupan kita. Dengan satu sentuhan filter, wajah bisa berubah lebih tirus, kulit bisa tampak glowing, dan hidung bisa terlihat lebih mancung. Influencer memamerkan rutinitas kecantikan yang terlihat effortless, padahal sebenarnya memerlukan banyak langkah, waktu, bahkan biaya.
Tidak heran jika banyak perempuan kemudian merasa harus mengikuti tren-tren tersebut. Mereka ingin diterima, ingin dipuji, ingin terlihat sesuai dengan standar visual yang seolah telah disepakati bersama. Tanpa sadar, media sosial telah menciptakan arena kompetisi visual yang tak pernah berhenti.
Pengaruh Tekanan
Tekanan ini tidak sekadar memengaruhi penampilan luar. Ia juga merayap masuk ke ranah batin dan menyentuh rasa percaya diri dan kesehatan mental. Ketika setiap hari kita mendapat suguhan tampilan wajah sempurna dan tubuh ideal, standar itu perlahan menjadi pembanding utama. Perempuan mulai merasa tidak cukup cantik, tidak cukup kurus, atau tidak cukup glowing hanya karena tidak dapat meniru tampilan influencer di layar.
Remaja perempuan menjadi kelompok paling rentan, karena pada usia mereka, jati diri masih terus terbentuk. Melihat gambar-gambar ideal yang tidak realistis setiap hari dapat membuat mereka mempertanyakan nilai diri sendiri, hingga akhirnya muncul rasa tidak puas terhadap tubuh, kecemasan sosial, bahkan depresi.
Namun menariknya, di tengah dominasi standar kecantikan yang sempit, muncul gelombang baru yang mencoba memecahkan konstruksi lama. Gerakan body positivity dan body neutrality hadir sebagai tamparan halus bagi industri kecantikan yang selama ini hanya merayakan satu bentuk keindahan. Banyak brand kini menghadirkan model dengan ukuran tubuh berbeda, warna kulit beragam, dan kondisi kulit yang apa adanya. Media sosial juga mulai dipenuhi oleh perempuan yang berani menunjukkan kulit tanpa filter, tanpa make up, bahkan menampilkan ketidaksempurnaan yang dulu teranggap memalukan. Ini menunjukkan bahwa kecantikan tidak harus tampil seragam justru keberagamanlah yang membuatnya menarik.
Meski begitu, penerimaan terhadap keberagaman kecantikan tidak selalu berjalan mulus. Ketika satu standar runtuh, terkadang muncul standar baru yang sama membebani. Tren “clean girl aesthetic” misalnya, menampilkan citra natural, lembut, dan simpel. Namun ironisnya, untuk tampil “natural” saja perlu skincare bertumpuk, teknik make up tertentu, dan waktu yang tidak sedikit. Pada akhirnya, perempuan tetap mendapat tuntutan untuk mengikuti alur estetika tertentu agar bisa teranggap cantik. Standar berubah bentuk, namun tekanannya tetap sama.
Narasi Kecantikan
Di balik itu semua, masih ada pengaruh budaya patriarki yang turut membentuk narasi kecantikan. Perempuan sering kali mendapat penilaian berdasarkan penampilannya lebih dulu sebelum kemampuannya. Komentar seperti “masa perempuan tidak dandan?”, “kalau rapi kan enak terlihat”, atau “cantik itu keharusan” sering terdengar dalam kehidupan sehari-hari. Media kemudian memperkuat pandangan ini dengan menampilkan perempuan sebagai objek visual yang harus memikat. Tidak heran jika banyak perempuan merasa bahwa nilai diri mereka terletak pada penampilan, bukan pada kemampuan atau karakter.
Untuk keluar dari lingkaran ini, literasi media menjadi senjata yang penting. Perempuan perlu memahami bahwa apa yang tertampilkan di media bukanlah representasi nyata dari kehidupan. Foto bisa diedit, video bisa dikurasi, cahaya bisa membohongi mata, dan filter bisa mengubah wajah siapa pun menjadi versi sempurna. Menyadari hal ini membuat kita lebih bijak dalam menilai diri sendiri dan tidak mudah terjebak dalam perbandingan sosial yang melelahkan.
Lebih dari itu, perempuan perlu memandang kecantikan dari sudut yang lebih luas. Kecantikan bukan hanya tentang kulit mulus, tubuh langsing, atau wajah tanpa cela. Kecantikan muncul dari kepercayaan diri, dari cara seseorang memperlakukan diri sendiri, dari keberanian untuk menjadi berbeda, dan dari kemampuan merayakan keunikan yang kita miliki. Setiap perempuan punya cerita, pengalaman, dan perjalanan hidup yang membentuk dirinya. dan semua itu termasuk bagian dari kecantikan yang tidak bisa ditiru oleh siapa pun.
Pada akhirnya, media memang memiliki pengaruh kuat, tetapi perempuan memiliki kendali atas bagaimana mereka ingin memaknai kecantikan. Standar akan terus berubah, tren akan datang dan pergi, tetapi penerimaan diri adalah sesuatu yang bisa bertahan lebih lama. Ketika perempuan mulai melihat diri mereka bukan melalui lensa media, tetapi melalui kaca mata penghargaan terhadap diri sendiri, di situlah kecantikan yang sesungguhnya muncul.[]

