“… Tak semua jeratan kematian melingkar di leher; beberapa di jari manis …”
Bagi perempuan yang belum, akan, atau telah menikah perasaan semacam takut, khawatir, paranoid atau yang akrab kita sapa dengan overthingking menjadi satu fase yang sulit terhindarkan. Kutipan novel Nadir Sang Pelaut (2025) di atas cukup terang bagaimana kita melihat maraknya kasus dalam dunia pernikahan yang berujung kematian.
Menjelang sepasang, sebutan bagi perempuan yang akan masuk dalam kehidupan baru, momentum seperti ini bukan hal yang biasa. Ia akan menemui dan melewati banyak fase yang teranggap “aneh, menyedihkan, mengagetkan, menyakitkan, rumit, sulit bahkan mungkin sakit”.
Sebab perempuan akan menjalani kontrak seumur hidup dengan laki-laki sebagai pasangannya. Pengalaman psikologis perempuan akan menghadapi perubahan yang besar dalam hidupnya ketika memasuki dunia pernikahan. Di sisi lain, perubahan-perubahan atas hidupnya mengalami peningkatan yang signifikan.
Perempuan sebagai Subjek atau Objek?
Perempuan harus bersiap membagi hidupnya, mengesampingkan egonya, merelakan perasaan atas kebebasan yang ia idamkan. Kita mewajarkan untuk perempuan berlaku dan berpikir demikian. Tertambah lagi, kerap kali konstruksi sosial membentuk perempuan dalam pernikahan layaknya objek. Sedangkan laki-laki bertindak sebagai subjek yang memiliki kuasa penuh atas jalannya rumah tangga.
Hal ini juga menguat oleh banyaknya kasus KDRT dan dinamika pernikahan yang berujung pada perceraian. Misalnya yang sedang hangat diperbincangkan sekarang, KDRT yang dilakukan oleh suami kepada istri dan anaknya yang masih balita akibat judi online. Melansir antaranews.com pada 14 Oktober 2026, peristiwa tersebut terpicu kemarahan pelaku ketika istrinya mengingatkan agar berhenti bermain judol. Tak terima, amarah suami kemudian merusak sejumlah perabotan rumah, termasuk lemari kaca yang pecah hingga serpihannya melukai kepala anaknya.
Kejadian tersebut menjadi perhatian publik setelah rekaman video yang istrinya unggah viral di media sosial. Kasus-kasus dan fenomena rumah tangga semacam inilah yang menjadikan perempuan kalut atas masa depannya. Bahkan cenderung meragukan atas keamanan diri mereka pascamenikah.
Menjelang sepasang, perempuan lekat dengan pikiran yang berlebihan dan perasaan yang melankolia. Mengkhawatirkan bagaimana bila pasangannya tidak menafkahi, memberi, melindungi, mendampingi, menghargai, menyayangi, mengasihi, mengingkari janji, tidak merawat dengan baik, atau justru menyakiti?.
Namun, jangan menghakimi lebih dulu, kita tengok kembali kasus seorang istri yang membunuh suaminya di OKI Sumatera Selatan pada September 2026 lalu. Mengutip detik.com peristiwa perselisihan mengenai biaya pengobatan anak tersebut memunculkan kemarahan istri hingga nekat menghabisi suaminya. Melihat polemik tersebut, kita tahu bahwa kekhawatiran dan permasalahan rumah tangga tidak hanya terbebankan pada istri, melainkan juga suami.
Dua peristiwa di atas menunjukkan bahwa kekerasan dalam rumah tangga tidak semata-mata dapat terlihat sebagai persoalan siapa yang menjadi subjek dan siapa yang menjadi objek. Sebab, baik laki-laki maupun perempuan memiliki kemungkinan untuk menjadi korban ataupun pelaku kekerasan. Meskipun pengalaman, relasi kuasa, dan kerentanan yang keduanya hadapi tidak selalu sama. Oleh karena itu, menempatkan perempuan sebagai satu-satunya pihak yang perlu dilindungi, tanpa memberikan ruang bagi kerentanan laki-laki, justru berpotensi melahirkan ketimpangan cara pandang yang baru.
Paradoks Kecemasan
Meskipun dalam kabut kecemasan, perempuan terkadang lupa bahwa laki-laki yang hendak membersamainya pun menyimpan kekhawatiran serupa. Semacam pertanyaan untuk laki-laki di atas, yang diajukan sama halnya pada perempuan. Bagaimana bila kekhawatiran laki-laki atas perempuan yang menjadi pasanganya juga tidak dapat berlaku demikian. Bagaimana bila perempuan tidak bisa memberi perhatian, pengertian, menghargai, menyanyangi, mengasihi, mengingkari janji, dan tidak merawat pernikahan dengan baik?.
Atau bagaimana bila keduanya sama-sama tidak hadir sebagai obat bagi satu sama lain?. Artinya, dalam sebuah hubungan tidak hanya terbebankan pada satu orang. Keduanya berlaku sebagai subjek aktif untuk saling memberi dan menghormati. Bukan sekadar menuntut satu sama lain atau menjadikannya objek semata.
Tulisan ini hadir bukan sebagai bentuk tendensi dalam membela laki-laki. Namun perempuan perlu merefleksikan kembali hal-hal seperti di atas yang acap kali luput dalam pikiran. Menjelang sepasang, tidak hanya menuntut laki-laki untuk memenuhi segala kebutuhan perempuan. Namun perempuan juga tertuntut untuk hadir sebagai penenang atas gaduh yang oleh laki-laki rasakan. Keduanya akan berjalan dengan seimbang, apabila prinsip yang mereka pegang adalah saling, bukan paling (konon begitu katanya).
Gagasan ini lahir bukan sekadar membicarakan kecemasan perempuan menjelang pernikahan, melainkan mengkritik cara pandang yang menempatkan salah satu pihak sebagai pusat tuntutan dalam hubungan. Sesederhana perempuan ingin diperhatikan perasaannya, tetapi perempuan tidak melakukan hal yang sama pada lelakinya.
Cara Pandang Baru
Sekali lagi, saya tidak menyudutkan dan menyalahkan pergulatan batin yang perempuan rasakan. Namun, perlu kita telaah bersama, bahwa sering kali seseorang yang takut menjadi objek justru tanpa sadar dapat memperlakukan pasangannya sebagai objek.
Hal ini bukan sekadar membicarakan kecemasan perempuan menjelang pernikahan. Melainkan mengkritik cara pandang yang menempatkan salah satu pihak sebagai pusat tuntutan dalam hubungan. Perempuan juga perlu memberi ruang bagi kekhawatiran laki-laki yang selama ini mungkin jarang orang bicarakan.
Barangkali, menjelang sepasang bukan hanya tentang memastikan apakah seseorang yang akan kita pilih mampu mencintai, menjaga, dan menerima atas segala kekurangan. Namun, juga tentang keberanian untuk mempertanyakan hal yang sama kepada diri sendiri: sudahkah kita bersedia mencintai tanpa terus-menerus menuntut untuk dicintai, memberi perhatian tanpa selalu meminta diperhatikan? Sebab, pernikahan semestinya tidak menjadi ruang bagi dua manusia untuk saling menghitung siapa yang paling banyak berkorban, melainkan tempat keduanya belajar untuk saling bertumbuh.
Akhirnya, menjelang sepasang menjadi momentum untuk melihat kilas balik bahwa pernikahan bukan sekadar perkara menemukan seseorang yang tepat bagi diri kita. Melainkan juga mempersiapkan diri untuk menjadi sosok yang tepat bagi seseorang yang kelak berjalan bersama kita.[]
