Andai Saya Tidak Insecure

Setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangannya masing- masing. Hampir semua manusia mengalami hal insecure khususnya remaja perempuan. Namun sering kali, kita lebih mudah melihat kekurangan diri daripada potensi yang kita miliki. Perasaan takut gagal, cemas, membandingkan diri, terlalu kritis terhadap fisik sendiri menjadi acuan kepercayaan diri. Salah satu risiko menjadi manusia adalah kita selalu merasa kurang. 

Apalagi sekarang media sosial sebagai media digital memudahkan setiap orang untuk berkomunikasi, menerima berita baru, dan hal-hal yang viral. Setiap like, postingan, histori, komentar di platfrom algoritma media sosial menjadikan sebuah acuan anak remaja. Setiap manusia selalu merasa tidak cukup. Tidak cukup cantik, tidak cukup pintar, bahkan tidak cukup berani. Perasaan itu sering kali ada diam -diam yang perlahan mencuri kepercayaan diri, saya menyebutnya insecure. Terkadang saya berpikir, bagaimana agar tidak insecure? Bagaimana jika sejak awal saya percaya diri?. 

Andai tidak insecure, mungkin saya akan lebih berani memulai sesuatu. Saya tidak akan menghabiskan waktu untuk memikirkan pandangan orang lain. Pun tidak akan membandingkan hidup dengan orang di algoritma media sosial yang tampak sempurna. Insecure membuat saya takut gagal sebelum mencoba. Setiap kali ingin berbicara di depan banyak orang, suara saya selalu blibet, pikiran kacau. Padahal, orang lain mungkin sama gugupnya, atau bahkan tidak peduli.

Proses Belajar

Jika saja tidak insecure, saya akan memahami bahwa kegagalan bukan akhir, melainkan bagian dari proses belajar. Saya akan belajar bersyukur atas apa yang ada. Karena sesungguhnya tidak ada yang sempurna. Seseorang yang terlihat sempurna pun pasti memiliki sisi rapuh yang tidak terlihat. Saya hanya perlu menerima bahwa menjadi diri sendiri adalah karunia bukan kekurangan. 

Baca Lainya  Pengaruh Body Shaming terhadap Kepercayaan Diri

Insecure juga membuat saya sulit percaya pada orang lain. Saya sering merasa tidak pantas dicintai atau dihargai. Ketika seseorang memberi perhatian, saya justru curiga dan merasa tidak pantas menerimanya. Saya takut ditinggalkan, padahal saya sendiri yang tidak berani membuka hati. Saya akan mengizinkan diri untuk disayangi tanpa takut dibandingkan, karena saya tahu bahwa kasih sayang tidak lahir dari kesempurnaan, melainkan dari keikhlasan menerima satu sama lain.

Mungkin saya sudah jauh melangkah, seumpama tidak takut gagal dan tidak akan menolak kesempatan hanya karena merasa belum siap. Saya tidak akan menyembunyikan kemampuan karena takut akan ternilai sombong. Pun akan berbicara dengan keyakinan, menulis dengan keberanian, dan berjalan dengan percaya diri. Banyak hal yang tertunda karena rasa takut. Kadang tidak mikir bahwa kesempatan itu tidak datang dua kali, yang saya pikirkan cuma takut gagal, cemas dan ketidaksiapan saja.

Memaafkan Diri Sendiri

Insecure sering kali tumbuh dari kata-kata yang pernah melukai, dari perbandingan yang terus terulang, atau dari kegagalan yang sulit terlupakan. Namun, saya sadar bahwa luka tidak selamanya harus berdarah. Jika saya mau memaafkan diri sendiri, mungkin akan lebih damai. Saya juga akan berhenti hidup untuk validasi orang lain. Tidak perlu lagi mengejar pujian atau takut dengan omongan orang lain. Melainkan saya akan hidup sesuai dengan prinsip sendiri. Serta membangun kebahagiaan bukan dari pengakuan, melainkan dari rasa cukup di dalam diri. Karena sejatinya, kebahagiaan tidak bergantung pada siapa yang menatap kita, tetapi pada kita menatap diri sendiri. 

Andai tidak insecure, hidup saya mungkin tidak akan sempurna, tetapi akan lebih damai. Saya akan berjalan dengan langkah yang mantap, berbicara tanpa takut salah, dan mencintai tanpa rasa curiga. Kini saya tahu, tidak apa-apa jika kadang masih kurang. Tidak mengapa jika masih belajar mencintai diri sendiri. Yang penting, saya tidak berhenti mencoba. Pada akhirnya, saya menyadari bahwa hidup tanpa insecure bukan berarti hidup tanpa kekurangan, melainkan hidup dengan penerimaan.

Baca Lainya  Self-Growth: Mengubah Insecure Menjadi Motivasi Berkembang

Mungkin saya tidak bisa sepenuhnya menghapus rasa insecure, tapi bisa belajar mengalahkan rasa itu. Saya tidak akan takut untuk membuat kesalahan dan akan lebih menghargai diri sendiri dan tidak membandingkan diri dengan orang lain. Dan di sanalah, saya menemukan versi diri yang paling kuat bukan karena sempurna, tapi karena berani menjadi diri sendiri. Karena mungkin, keberanian untuk tetap melangkah meski masih insecure, itulah bentuk kekuatan yang paling sejati.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *