Sejak kecil, kalimat dalam judul sudah menempel ke telinga hampir setiap laki-laki yang lahir di negeri ini. “Jangan menangis, kamu ini kan laki-laki.” Ayah, ibu, kakek, guru, bahkan teman sebaya mengucapkannya. Mereka mengulanginya begitu sering hingga akhirnya kita mempercayainya sebagai kebenaran mutlak. Padahal tidak ada satu pun bukti ilmiah yang menyatakan bahwa air mata adalah milik perempuan semata. Yang ada hanyalah tradisi yang kita wariskan tanpa pernah mempertanyakannya, dan tradisi itu sedang membunuh jutaan laki-laki secara perlahan, diam-diam, dan tanpa banyak orang yang peduli.
Kita hidup pada zaman yang mengaku sudah maju. Kita bicara soal kesehatan mental di media sosial, kita bagikan kutipan-kutipan motivasi tentang pentingnya bercerita, kita tepuk tangan ketika seorang tokoh publik mengaku pernah depresi. Tetapi coba perhatikan baik-baik siapa yang kita izinkan untuk rapuh secara terbuka? Siapa yang mendapat empati penuh ketika menangis di depan khalayak umum? Hampir selalu perempuan. Hampir selalu bukan laki-laki. Dan itu bukan kebetulan. Itu adalah hasil dari sistem nilai yang sudah kita bangun bersama selama berabad-abad, yang kita rawat dengan sangat teliti, dan yang kita teruskan kepada anak-anak kita tanpa pernah benar-benar mempertanyakan apakah sistem itu masih layak untuk kita pertahankan.
Berbohong pada Diri Sendiri
Bayangkan seorang anak usia tujuh tahun jatuh dari sepeda. Lututnya berdarah, hatinya hancur, tubuhnya gemetar menahan sakit. Ia ingin menangis karena memang itu respons biologis yang normal, yang manusiawi, yang sehat. Tapi sebelum air mata sempat jatuh, seseorang sudah berteriak, “Hei, laki-laki tidak boleh cengeng!” Anak itu pun menelan tangisnya. Ia belajar satu hal hari itu: bahwa ia tidak boleh menampakkan perasaannya. Bahwa ia harus menyembunyikan rasa sakit, bukan memprosesnya. Bahwa menjadi laki-laki berarti menjadi mesin yang tidak boleh rusak di depan umum.
Inilah akar masalahnya. Kita tidak sedang mengajarkan ketangguhan, kita sedang mengajarkan penindasan emosi. Dan penindasan emosi yang kita lakukan terus-menerus sejak usia dini bukan membentuk pribadi yang kuat, melainkan bom waktu yang menunggu untuk meledak. Setiap kali kita memaksa seorang anak laki-laki menelan perasaannya, ia tidak semakin kuat. Ia hanya semakin mahir berpura-pura. Dan kepura-puraan yang berlangsung selama puluhan tahun akan membentuk seorang dewasa yang bahkan tidak lagi mengenali perasaannya sendiri; tidak tahu apakah ia sedang sedih, marah, takut, atau ketiganya sekaligus, karena semua itu sudah terlalu lama ia kubur di tempat yang tidak pernah ia kunjungi lagi.
Para psikolog menyebut kondisi ini dengan istilah alexithymia, yaitu ketidakmampuan untuk mengidentifikasi dan mengungkapkan emosi diri sendiri. Penelitian menunjukkan bahwa kondisi ini jauh lebih umum menjangkiti laki-laki dibandingkan perempuan. Bukan karena faktor biologis semata. Tetapi karena kita secara sistematis melatih laki-laki sejak kecil untuk tidak mengenali, tidak mengakui, dan tidak mengekspresikan apa yang mereka rasakan. Kita yang menciptakan kondisi ini. Lalu kita heran ketika laki-laki dewasa tidak bisa berkomunikasi secara emosional, tidak bisa berempati, tidak bisa membuka diri. Kita menyebut mereka dingin, kaku, tidak peka. Padahal kita sendiri yang membuatnya demikian.
Angka Bunuh Diri
Data dari berbagai negara berbicara keras dan tidak bisa kita bantah. Di Indonesia, angka bunuh diri pada laki-laki secara konsisten lebih tinggi daripada perempuan. Secara global, WHO mencatat bahwa laki-laki menyumbang sekitar 75% dari total kasus bunuh diri di dunia. Bukan karena laki-laki lebih lemah secara mental. Bukan karena laki-laki lebih sering mengalami tekanan hidup yang berat. Tetapi karena tidak ada yang pernah mengajari mereka cara meminta tolong. Karena meminta tolong, dalam kamus maskulinitas yang kita ajarkan, adalah bentuk kekalahan.
Laki-laki cenderung tidak pergi ke psikolog. Mereka cenderung tidak bercerita kepada teman. Mereka cenderung tidak mengakui bahwa mereka sedang tidak baik-baik saja. Bukan karena tidak mau, tetapi karena sejak kecil kita sudah mengondisikan mereka bahwa melakukan semua itu adalah tanda kelemahan. Dan kelemahan, bagi laki-laki, adalah dosa sosial yang tidak termaafkan. Lebih mudah mati dalam diam daripada hidup dalam label “cengeng” atau “tidak jantan”. Kalimat itu mungkin terdengar berlebihan. Tapi itulah yang sesungguhnya terjadi di balik angka-angka yang kita baca dengan santai di laporan statistik kesehatan setiap tahunnya.
Yang lebih mengkhawatirkan, banyak laki-laki yang bahkan tidak menyadari bahwa mereka sedang dalam kondisi krisis. Depresi pada laki-laki sering tidak terlihat seperti depresi yang kita bayangkan: menangis sepanjang hari, tidak mau keluar kamar, berbicara tentang kesedihan. Depresi pada laki-laki sering menyamar sebagai kemarahan yang meledak-ledak, kerja keras yang obsesif, konsumsi alkohol yang meningkat, atau sikap menarik diri yang orang kira sebagai “butuh ruang”. Mereka tidak terlihat seperti orang yang sedang tenggelam. Mereka terlihat seperti orang yang baik-baik saja, sampai tiba-tiba tidak lagi.
Maskulinitas dan Larangan Menangis
Perlu kita tegaskan dengan jelas (karena salah paham pada titik ini bisa membuat esai ini kita baca ke arah yang keliru): masalahnya bukan pada maskulinitas itu sendiri. Menjadi kuat, bertanggung jawab, pelindung, dan tegar adalah nilai yang baik untuk siapa pun, bukan hanya laki-laki. Masalahnya adalah ketika kita mendefinisikan maskulinitas secara sempit dan kaku sebagai ketiadaan emosi, ketiadaan kerentanan, dan ketiadaan kebutuhan akan bantuan orang lain, maka yang tercipta bukan manusia yang kuat, melainkan manusia yang berpura-pura kuat sambil perlahan hancur di dalamnya.
Psikolog Joseph Pleck sejak tahun 1981 sudah memperingatkan tentang apa yang ia sebut Male Role Strain, yaitu tekanan peran laki-laki yang menciptakan konflik internal yang kronis antara apa yang dirasakan seorang pria dan apa yang “seharusnya” ia rasakan menurut norma sosial yang berlaku. Konflik ini tidak hilang begitu saja. Ia mengendap, menumpuk, dan akhirnya meledak dalam bentuk agresi terhadap orang-orang di sekitarnya, kecanduan berbagai zat sebagai pelarian, depresi terselubung yang bertahun-tahun tidak terdiagnosis, atau keputusan fatal yang mengakhiri segalanya. Laki-laki yang tidak boleh menangis tidak menjadi lebih kuat. Mereka hanya menjadi lebih pandai berpura-pura, dan kepandaian itu ada harganya yang sangat mahal.
Ironisnya, definisi maskulinitas yang kaku ini juga merusak hubungan laki-laki dengan orang-orang yang mereka cintai. Seorang suami yang tidak bisa mengungkapkan perasaannya akan terasa tidak peduli. Seorang ayah yang tidak bisa menunjukkan kelembutannya akan terasa jauh oleh anak-anaknya. Seorang teman yang tidak bisa bercerita tentang bebannya akan terasa tidak mau dekat. Orang-orang bukan tidak peduli. Mereka bukan dingin. Mereka hanya tidak pernah mendapat ruang, dan lebih parahnya tidak pernah mendapat alat, untuk melakukan semua itu.
Ketakutan di Balik Larangan Laki-Laki untuk Menangis
Coba tanya pada diri sendiri dengan jujur. Jika hari ini seorang anak perempuan menangis, hampir pasti kita memeluknya, menenangkannya, menanyakan apa yang terjadi. Jika anak laki-laki menangis, kita memberitahunya untuk berhenti, mengalihkan perhatiannya, atau dalam kasus yang lebih parah, mempermalukannya di depan orang lain. Kita tahu itu tidak adil. Kita bahkan mungkin pernah merasakannya sendiri di sisi yang salah dari perlakuan itu: pernah menahan tangis di toilet kantor karena tidak mau terlihat lemah, menangis di dalam mobil sendirian dalam perjalanan pulang, menangkupkan bantal ke wajah di tengah malam agar tidak ada yang mendengar. Bukan karena tidak ingin menangis. Tetapi karena kita sudah terlalu lama belajar bahwa menangis adalah sesuatu yang memalukan, sesuatu yang harus kita lakukan dalam gelap dan sendirian.
Kita adalah korban dari sistem yang sama. Dan yang paling menyedihkan (atau paling menggelikan, tergantung dari sudut pandang mana kita melihatnya), kita tetap meneruskan sistem itu kepada generasi berikutnya dengan penuh keyakinan bahwa kita sedang melakukan hal yang benar. Seorang ayah yang dulu ayahnya larang menangis akan melarang anaknya menangis, bukan karena ia jahat, tetapi karena itulah satu-satunya cara menjadi laki-laki yang ia tahu. Sebuah rantai yang tidak pernah putus, bukan karena tidak bisa, tetapi karena tidak pernah ada yang cukup berani untuk memulai.
Kerentanan Sosial
Kalau kita pikir lebih dalam, larangan menangis pada laki-laki sebenarnya bukan semata-mata soal air mata. Ia adalah bagian dari ketakutan yang lebih besar, yaitu ketakutan akan kerentanan. Masyarakat kita, secara tidak sadar, telah membangun sebuah kesepakatan diam-diam bahwa laki-laki yang rentan adalah laki-laki yang berbahaya secara sosial: ia tidak bisa diandalkan, ia tidak layak dihormati, ia tidak cukup jantan untuk memimpin, melindungi, atau dipercaya.
Ketakutan itu kemudian mengakar sangat dalam, jauh melampaui soal menangis. Ia merasuk ke dalam cara laki-laki berbicara tentang dirinya sendiri, cara ia bersikap di tempat kerja, cara ia berhubungan dengan pasangannya, cara ia mendidik anaknya. Seorang laki-laki yang takut terlihat rentan akan memilih marah daripada mengaku sedih. Ia akan memilih diam daripada mengaku tidak tahu. Ia akan memilih pergi daripada mengaku butuh. Dan dalam jangka panjang, semua pilihan itu akan menghancurkan dirinya sendiri dan semua orang yang mencintainya, bukan karena ia berniat jahat, tetapi karena tidak ada yang pernah memberinya pilihan lain.
Brené Brown, peneliti yang menghabiskan dua dekade hidupnya untuk mempelajari kerentanan dan rasa malu, mengatakan bahwa kerentanan bukan kelemahan, melainkan tempat lahirnya keberanian. Tidak ada satu pun tindakan berani yang tidak bermula dari kesediaan untuk merasa tidak nyaman, untuk tidak tahu hasilnya, untuk membuka diri pada kemungkinan gagal atau disakiti. Jika itu benar, dan bukti-bukti ilmiah menunjukkan bahwa memang benar, maka laki-laki yang kita paksa untuk tidak pernah rentan sesungguhnya adalah laki-laki yang kita halangi untuk menjadi benar-benar berani.
Berhenti Mewariskan Kebohongan
Menangis bukan kelemahan. Menangis adalah mekanisme biologis yang tubuh rancang untuk memproses tekanan emosional secara aktif. Penelitian menunjukkan bahwa menangis melepaskan hormon kortisol, yaitu hormon stres, dari tubuh, sekaligus memicu pelepasan oksitosin dan endorfin yang memberi efek menenangkan. Artinya, laki-laki yang menangis secara harfiah lebih sehat secara fisiologis daripada laki-laki yang tidak menangis. Tubuh kita sendiri sudah merancang air mata sebagai alat pemulihan. Kita yang membuang alat itu atas nama harga diri yang semu.
Mengubah ini tidak memerlukan revolusi besar. Ia bermula dari hal-hal kecil yang kita lakukan setiap hari. Biarkan anak laki-laki kita menangis tanpa langsung menghentikannya. Tanyakan kabar teman laki-laki kita dengan sungguh-sungguh, bukan sekadar basa-basi. Jangan tertawai laki-laki yang mengaku sedang tidak baik-baik saja. Normalkan terapi psikologis sebagai tanda kecerdasan emosional, bukan tanda kegilaan. Berhenti gunakan kata “cengeng” dan “lebay” sebagai senjata untuk mempermalukan laki-laki yang berani jujur tentang perasaannya.
Ketangguhan sejati bukan tentang tidak pernah jatuh. Ketangguhan sejati adalah tentang keberanian mengakui bahwa kita jatuh, memproses rasa sakitnya dengan cara yang sehat, lalu bangkit kembali dengan lebih utuh dari sebelumnya. Dan tidak ada satu pun dari proses itu yang membutuhkan air mata yang ditahan, perasaan yang dikubur, atau luka yang pura-pura tidak ada.
Kebohongan ini sudah cukup lama kita wariskan. Sudah terlalu banyak laki-laki yang pergi lebih awal karena tidak ada yang mengajari mereka cara bertahan dengan cara yang benar. Sudah saatnya kita yang menghentikannya, bukan demi melemahkan laki-laki, tetapi justru demi membiarkan mereka menjadi manusia yang seutuhnya, dengan segala kompleksitas, kerentanan, dan keindahan yang menyertainya.
“Seorang laki-laki yang mampu menangis adalah laki-laki yang cukup kuat untuk jujur pada dirinya sendiri. Dan kejujuran pada diri sendiri adalah fondasi dari segala bentuk kekuatan yang nyata.”[]

