Make Up Sekadar Cari Perhatian?

Sumber Gambar: gemini.google.com

Mengapa stigma sosial beranggapan bahwa berdandan hanya untuk mencari perhatian? Tak ayal kita saksikan bersama bahwa tren mempercantik diri dengan menggunakan make up marak digandrungi berbagai khalayak di seluruh penjuru dunia. Fenomena ini tak lagi sekadar milik panggung hiburan yang glamor atau kalangan selebritas papan atas. Kini, fenomena tersebut telah menjadi bagian dari rutinitas masyarakat urban. Selain itu, fenomena ini menjangkau berbagai kelompok, dari remaja hingga pekerja profesional. Namun kini, riasan wajah tidak lagi sekadar kebutuhan estetika, tetapi juga kebutuhan psikologis dan sosial.


Media sosial seperti TikTok dan Instagram adalah dalang utama yang memperkencang perputaran tren kecantikan ini secara global. Tutorial riasan wajah berdurasi singkat, ulasan produk yang menggebu-gebu, dan algoritma media sosial kini mendobrak linimasa harian kita. Semua itu secara agresif mendominasi dan terus merekomendasikan standar estetika baru. Istilah-istilah seperti “clean girl look” yang minimalis hingga “bold glam” yang dramatis kini menjadi makanan umum dalam pergaulan sehari-hari. Alhasil, meja rias yang dahulu sederhana kini bertransformasi menjadi koleksi produk hibrida dengan kompleksitas yang tinggi. Transformasi ini menciptakan sebuah realitas baru: wajah manusia dipandang sebagai kanvas hidup, dan make up adalah alat lukisnya.


Di Indonesia sendiri, antusiasme terhadap perkosmetikan duniawi ini tercermin sangat terang dalam data statistik. Hasil survei Jajak Pendapat (Jakpat) dalam Beauty Trends 2023 menunjukkan dominasi penggunaan simple make up oleh 67%–70% responden. Sementara itu, sebagian kecil responden memilih menggunakan full make up, tidak menggunakan make up, atau bahkan tidak pernah menggunakannya. Data ini menegaskan bahwa riasan wajah telah menjadi praktik yang luas dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

Baca Lainya  Gaya Berpakaian dan Stereotipe Dunia Kampus

Stigma Make Up sebagai Pencari Perhatian

Namun benarkah bila praduga penggunaan make up hanya untuk mencari perhatian belaka? Tidak, sungguh tidak. Pandangan yang mereduksi seni merias wajah sebagai bentuk kehausan akan atensi atau validasi publik mencerminkan kekeliruan berpikir yang usang, dangkal, dan sarat bias gender. Tuduhan tersebut merampas hak individu untuk menentukan pilihan atas tubuhnya sendiri.

Dominasi penggunaan simple make up yang hampir mencapai 70% menunjukkan bahwa berdandan telah menjadi bagian dari etika profesional dan kesopanan sosial yang lumrah, bukan lagi anomali atau tindakan nyentrik. Kini, masyarakat menganggap penggunaan riasan tipis sebagai bare minimum kesiapan diri untuk berinteraksi demi menghormati lawan bicara di ruang publik. Namun, meskipun adopsi kosmetik telah meluas, pandangan miring dari sebagian kelompok masyarakat masih menjadi momok bagi para penggunanya. Ironinya, praktik yang telah diadopsi mayoritas justru masih kerap dinilai negatif oleh sebagian orang berdasarkan prasangka yang sempit dan diskriminatif.

Menurut Nabila & Selian (2025) dan Rahma et al. (2026), motivasi terbesar seseorang dalam berdandan adalah self-directed atau berorientasi pada kepuasan internal, bukan other-directed yang haus akan pengakuan eksternal. Berbagai studi empiris membuktikan bahwa penggunaan kosmetik dapat memberikan efek psikologis positif. Para akademisi menyebut fenomena ini sebagai The Lipstick Effect, yaitu kondisi ketika riasan meningkatkan self-esteem, memperkuat fungsi kognitif, serta memperkuat rasa kontrol atas identitas diri. Aktivitas merias wajah di pagi hari juga kerap berfungsi sebagai ritual meditasi atau katarsis emosional sebelum menghadapi tekanan dunia luar. Make up bertindak selaksa ”baju zirah” yang memberikan rasa aman dan kesiapan psikologis.

Ekspresi Diri dan Bentuk Self Care


Perspektif sosiologi komunikasi dan teori performativitas memperkuat pandangan ini. Riasan di wajah dipandang sebagai bentuk bahasa non-verbal yang kuat untuk menegaskan agensi dan otoritas diri. Melalui riasan, seseorang membangun identitas visualnya sendiri, bukan yang ditentukan oleh konstruksi patriarki atau standar sosial yang kaku. Riasan adalah sebuah perayaan atas kebebasan berekspresi.

Baca Lainya  Filter dan Kepercayaan Diri Perempuan

Hemat saya pribadi, mengaitkan make up dengan upaya semata memikat lawan jenis atau mencari sensasi di ruang publik adalah bentuk simplifikasi yang tidak adil. Tuduhan tersebut mengabaikan aspek terapeutik, nilai seni, serta hak setiap individu atas kenyamanan tubuhnya. Seseorang memakai riasan karena mereka menikmati proses kreatifnya dan merasa bahagia ketika melihat pantulan diri mereka di cermin, sebuah validasi yang sepenuhnya lahir dari dalam jiwa, bukan dari tatapan mata orang asing yang antah berantah asalnya.

Make up terbukti memperindah penampilan, meningkatkan kepercayaan diri yang berpengaruh pada performa kerja, menjadi media ekspresi seni, serta memberikan perlindungan kesehatan ringan. Industri kosmetik modern juga terus mengembangkan produk-produk hibrida yang mengandung SPF, antioksidan, dan pelembap aktif. Hal ini membuktikan bahwa fungsionalitas riasan telah melampaui batas ego visual belaka dan bergerak ke arah perawatan diri (self-care) yang holistik.


Dengan demikian make up adalah perisai pelindung, sekaligus pengejawantahan perayaan atas identitas personal yang berdaulat. Namun anehnya, semenjak seseorang mulai memakai make up, mengapa cara pandang orang lain ikut berubah dan cenderung menghakimi? Apakah masyarakat kita memang belum siap secara kultural untuk melihat seseorang memegang kendali penuh atas standar estetikanya sendiri?

Mengapa sebagian masyarakat terus mengaitkan pilihan personal dalam mengelola penampilan dengan motif sosial yang tidak relevan? Pertanyaan tersebut menegaskan satu kenyataan pahit: sebagian orang lebih mudah menghakimi penampilan orang lain daripada mengoreksi prasangka dan stigma keliru yang mereka pelihara. Padahal, sebagian orang sering kali mempertahankan prasangka yang jauh lebih tebal dan lebih sulit dihapus daripada lapisan bedak termurah sekalipun.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *