Sempat saya baca salah satu artikel berjudul “Daya Juang Perempuan dalam Skala Sosial Budaya” karya Aulia Normalita yang terbit di laman nisa.co.id ini. Dalam tulisan tersebut, Aulia menyuratkan salah satu narasi tentang perjuangan perempuan yang harus ada dalam diri mereka agar rasa percaya muncul dalam kelindan manifesto perjuangannya.
Saya tidak bertujuan untuk menggugat narasi yang ada di tulisannya. Hanya saja, saya juga ingin sedikit berbagi secercah tulisan mengenai hal yang sama terbincangkan olehnya— tentang daya juang yang harus tertanam dalam kedirian seorang perempuan.
Mula-mula, akhir pekan lalu saya mencoba menata lagi rak buku dan kitab yang ada di kamar pesantren. Tak terduga, saya menemukan sebuah buku bagus yang kiranya dapat saya ambil buah-buah hikmahnya. Ya, jujur saja, saya belum rampung secara menyeluruh dalam membaca buku itu. Namun, ada hal yang sedikit saya tangkap selepas membaca secercah tulisan antar tulisan yang termaktub dalam buku itu.
Buku itu berjudul Meraih Hidup Luar Biasa Melalui Kekuatan Doa dan Iman (Buku Kompas, 2010) karya Masriyah Amva. Setidaknya, buku ini telah menandaskan inspirasi yang bisa menjadi referensi bacaan bagi kalangan orang, baik itu laki-laki maupun perempuan.
Bermimpi dengan Cinta-Nya
Buku ini merupakan sekumpulan cerita inspiratif mengenai perjuangan-perjuangannya menjadi perempuan yang melampaui ambang batas pada umumnya. Mengapa demikian? Sebab, interpretasi saya setelah membacanya memunculkan sekelibat kekaguman atas pemikiran-pemikiran daya juang perempuan yang tak bisa lagi teranggap biasa-biasa saja.
Bahkan sempat Nyai Masriyah tersebut terdatangi oleh Carla Power (wartawan majalah Time Inggris). Dalam sebuah wawancaranya, beliau menceritakan tentang keberdayaan perempuan. Katanya, “Aku selalu bermuara kepada cinta Tuhan. Cinta Tuhan adalah modal keberdayaanku sebagai perempuan”. Hal tersebut barangkali merupakan hasil karena penulis buku telah berjualan cinta dan menembus pasar dunia.
Mungkin sebelum masuk ke narasi berikutnya, cobalah saja, hanya dengan apa yang saya tuliskan kiranya belum dapat tertangkap pesannya. Begini, pada awalnya kutipan tersebut bermula dari pembahasan penulis buku tentang logika yang tidak hanya selalu terpercaya. Bukan berarti menafikan ihwal logis, tetapi logika yang beliau tawarkan sungguh ingin melampaui keterbatasan ataupun ketidakmampuan logika itu sendiri.
Melampaui Batas Logika
Adalah “berhijrah kepada logika Tuhan”. Kita tertuntut untuk melampaui logika yang terbatas tadi menuju zat yang tak terbatas lagi atas kekuasaan dan kehendak-Nya. Dalam pengalaman hidupnya, Nyai Masriyah sempat mengalami kejadian-kejadian yang sungguh pelik. Di tengah riuhnya, di dalam kegamangannya, tiba-tiba seakan muncul Yang Mahagaib.
Dia benar-benar merasakan kehadiran-Nya di antara kegaiban-Nya. Ia seakan hadir dalam dunia rasa, Ia maujud dan menemani lara dan ria. Hal ini terjadi di saat sedang tertimpa kepedihan hidup— perasaan yang terkadang hinggap— mengenai prasangkanya sebagai perempuan kecil yang hidup di desa, seorang janda, dan bahkan hidup dalam gelanggang pesantren tradisional yang acap saat ini mendapat stigma tertinggal.
“Seorang kecil yang hidup di lingkungan kecil, di sebuah pesantren tradisional di desa kecil, layak mempunyai impian besar dan tinggi. Aku sangat berani bermimpi. Mimpiku sangat muluk dan tak masuk akal: “berjualan cinta” menembus pasar dunia. Sungguh, ini sebuah Impian di siang bolong” (Halaman 147).
Setiap harinya, Nyai Masriyah sering kali dalam mengadu dan curhat kepada Tuhan terbarengi dengan menulis. Pada kejadian di atas, tulisan-tulisan itulah yang salah satunya mengantarkannya menjadi penulis dan penyair. Akhirnya, salah satu ceritanya dalam buku tersebut memahamkan, bahwa setiap orang, baik itu laki-laki maupun perempuan harus memiliki cita-cita yang mulia dan tak lupa agar memperjuangkannya.
Tumbuh Subur Mentalitas “Berpendidikan”
Selain hal cerita di atas, Nyai Masriyah juga menyoroti fenomena lalu dan entah, sekarang masih bisa kita benarkan atau tidak. Sebab, mungkin dalam pribadi-pribadi lain, pernyataan-pernyataan berikut juga tidak dapat terterima secara general. Barangkali, ada alasan-alasan lain yang kiranya belum sempat kita sentuh pengertiannya.
Adalah fenomena tentang banyaknya perempuan yang masih berada dalam ranah-ranah pekerjaan sebagai pembantu di negeri luar. Entah hal ini terdorong dari obesesi dirinya sendiri, orang tua, atau bahkan memang ada alasan lain. Akan tetapi, penulis buku menyajikan narasinya dengan disertai bukti empirisnya pada saat kejadian lalu. Mungkin bagi saya, hal ini tetap bisa menjadi refleksi bagi laki-laki maupun perempuan yang agaknya juga serasa mengalami hal itu.
Refleksi kali ini yang bisa dilakukan yaitu tentang pandangan kita terhadap urgensi pendidikan itu sendiri. Kita kiranya tak boleh lagi menganggap hal domestik tersebut sebagai zona nyaman. Haruslah ada dalam diri kita menganai semangat untuk tetap dan terus menjadikan kedirian ini sebagai insan berpendidikan. Meski berpendidikan tak melulu soal gedung sekolah dan pesantren, tetapi di situlah kita dapat mengenyam hak-hak pendidikan guna menjadi orang yang berpendidikan.
Impian Berpendidikan
“Ya Tuhan…, ampuni dosa-dosa kami, dan janganlah engkau suburkan perbudakan yang tengah menimpa bangsa ini. Sehingga perbudakan menjadi sebuah impian indah bagi setiap orang di negeri ini. …Agama mereka semakin luruh. Martabat mereka semakin runtuh. Akhirnya, negeri dan bangsa ini, sedikit demi sedikit, akan hancur luluh” (Halaman 93).
Andai saja, bangsa kita memiliki budaya pendidikan yang tinggi, kaum-kaumnya mempunyai konstruksi berpikir bagus, keluarga yang menghargai pendidikan dan latar belakang pendidikan yang baik, barangkali saudara-saudara kita tak lagi memilih jalan tersebut, dengan catatan tak ada keakutan lain. Mungkin saudara-saudara kita tak lagi pernah punya obsesi dan berasumsi mimpi indah menjadi pembantu di negeri luar.
Seakan-akan itu sepertinya bangsa kita hanya menjadi kontributor pembantu yang teranggap ramah dan lain sebagainya. Terlepas dari semua itu, andai saja sudah tak lagi terbelenggu, jika ada generasi yang cemerlang dan ingin berpendidikan, terkadang justru masalah ada dalam aksesnya. Bisa saja terbentur dengan faktor biaya, kurangnya atensi dan dukungan keluarga, sekaligus narasi tentang iming-iming kerja yang tak kasat mata menjebloskan diri ke dalam sudut subordinat liyan saja. Maka tak pelak, jika masih banyak dari orang-orang yang akhirnya nekat harus mengambil pilihan tersebut dengan alasan-alasan yang kiranya harus segera dilakukan untuk menyambung hidupnya.
Kesalingan untuk Terus Belajar
Stereotipe tentang laki-laki selalu kuat dan perempuan selalu lemah tidak selamanya bisa dibenarkan. Justru dalam hal ini dibutuhkan kesadaran penuh dalam diri seseorang, baik itu laki-laki maupun perempuan. Kali inilah penulis buku itu mendedahkan sebuah pemikiran yang saya anggap kesetaraan itu ada.
Permulaan dedahannya berawal dari suatu kegelisahan yang menerpanya. Dalam salah satu perenungan panjangnya, singkatnya penulis buku itu menyimpulkan atas jawaban-jawaban yang juga sempat muncul dalam kegiatan bermuram durjanya. Ia berasumsi bahwa merasa kuat akan dapat dimiliki bagi mereka yang berani menanamkan rasa kuat yang afirmatif dalam kediriannya. Sebaliknya, perasaan lemah hanya dimiliki mereka yang merasakannya sebagai orang lemah.
“Laki-laki bukan musuhku tapi inspirasiku. Laki-laki bukan lawanku tapi cerminan yang bisa membangkitkan semangatku. Aku tidak bercermin kepada perempuan-perempuan lemah. Aku tidak mau mengulangi kegagalan mereka. Aku harus bercermin kepada laki-laki kuat dan hebat atau kepada perempuan-perempuan besi yang tangguh dan luar biasa” (Halaman 33).
Refleksi Daya Juang
Mungkin saja, selama ini, entah itu laki-laki maupun perempuan kesalahan besar yang kunjung menerpa diri adalah perasaan ataupun prasangkanya sendiri. Barangkali kita kurang mendedahkan afirmasi bahwa diri kita kuat terlebih dengan anugerah-Nya. Terlepas dari kungkungan aspek sosial dan budaya yang memosisikan dan memerankan perempuan sebagai makhluk lemah dan tersubordinat.
Kiranya daya juang yang bisa mulai dalam kedirian kita yaitu merasalah bahwa diri ini sebagai orang kuat, yang selalu dalam kasih dan sayang-Nya. Laki-laki dan perempuan bukan untuk saling menjadi musuh. Justru dengan kesadaran akan kesalingan saling belajar inilah yang dapat membangkitkan gairah semangat kita untuk menjadi seseorang yang kuat dan hebat, sekalipun tangguh dan luar biasa.
Oke baik. Dari hal-hal di atas, kita dapat belajar bahwa daya juang bukan lagi tentang warisan kodrat yang tertanam pada laki-laki maupun perempuan. Namun demikian inilah, buah dari keyakinan dan keberanian yang ada dalam kedirian. Bukan juga dengan saling menjatuhkan, melainkan dengan kemandirian pencarian makna kemandirian sebagai inspirasi reflektif. Pada akhirnya, tidak ada yang lebih kuat dari mereka yang percaya pada diri sendiri. Tidak ada yang lebih lemah dari mereka yang tak pernah berani memulainya untuk mandiri yang berhaluan baik, sekaligus tentu tak lupa dan tak muskil atas sifat-sifat milik-Nya.[]

