Akhir-akhir ini, media sosial gempar dengan informasi terkini mengenai kecelakaan kereta yang melibatkan gerbong perempuan. Mayoritas korban dari kecelakaan tersebut berasal dari gerbong perempuan yang menjadi titik benturan paling kuat. Tragedi kereta tersebut menimbulkan empati di media sosial.
Banyak publik yang membagikan kisah-kisah korban sehingga menyentuh titik terdalam empati. Kisah seorang ibu yang menyisihkan ASIP untuk bayinya di rumah. Kisah seorang ibu yang ingin kembali pulang ke rumah menemui anak dan keluarga usai bergelut dengan pekerjaan seharian. Bahkan, kisah seorang ibu yang menanti pertemuan setelah lama tak bertemu dengan anaknya.
Tak luput, kisah anak-anak perempuan dengan berbagai macam kelelahannya usai seharian berkutat dengan pekerjaan. Sesaat, banyak orang tersadar bahwa perempuan-perempuan itu bukan sekadar angka dalam berita tetapi manusia yang setiap hari pulang dengan membawa perannya sebaik mungkin.
Empati untuk Perempuan?
Di balik momen duka ini, perempuan masih kerap mendapat perlakuan sebagai objek candaan. Berkaca dari kasus viral sebelumnya yakni 16 mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia yang membuat grup khusus untuk melecehkan perempuan. Pertanyaannya, mengapa publik baru memanusiakan perempuan setelah mereka menjadi korban?
Apakah empati tersebut muncul setelah seorang perempuan menjadi korban? Entah korban pelecehan, kecelakaan, atau yang lainnya. Terkadang memang sesuatu menjadi lebih berharga setelah sesuatu tersebut hilang atau mengalami kejadian buruk.
Gerbong khusus perempuan sendiri memiliki tujuan untuk merespons kebutuhan perempuan akan adanya tindak kekerasan seksual yang mungkin terjadi di kereta. Komnas Perempuan mencatat dalam satu hari sedikitnya terdapat empat perempuan yang menjadi korban kekerasan seksual di ruang publik. Gerbong perempuan ini menjadi salah satu upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut.
Namun, di saat para perempuan tengah berjuang menjalani kehidupannya. Memenuhi setiap kebutuhannya secara mandiri tanpa membebankan seluruh kewajiban pada pihak laki-laki. Tak jarang terdapat celah-celah yang justru menyurutkan hal tersebut. Terkadang ruang publik, bahkan di lingkungan pendidikan, ‘perempuan’ menjadi objek yang rentan.
Cara Pandang terhadap Perempuan
Sebuah teori menyatakan bahwa pengetahuan dan pengalaman perempuan memiliki sudut pandang yang unik dan berbeda jika daripada dengan laki-laki. Hal itu terjadi karena perempuan hidup dan terlibat dalam skema sosial yang menempatkan mereka dalam posisi lebih rendah. Dengan kata lain, untuk memahami ‘perempuan’, kita perlu melihat dari sudut pandang perempuan atau “standpoint” mereka.
Kenyataannya dalam ruang sosial, pengalaman kaum perempuan sering kali terabaikan karena standar kebenaran dan objektivitas terdominasi oleh sudut pandang laki-laki. Dalam buku Komunikasi dan Gender (2020) karya Merry Frida Tripalupi, menjelaskan bahwa sistem patriarki cenderung tidak seimbang dan menitikberatkan pengambil keputusan pada pihak laki-laki. Sudut pandang perempuan di sini hanya teranggap sebagai penerima informasi bukan pengambil keputusan.
Tak jarang, peran dan hadirnya perempuan sering teranggap remeh. Kaum perempuan sering kali mendapat pertanyaan, bagaimana cara membagi waktu antara karier dan keluarga. Sementara laki-laki, jarang atau hampir tidak pernah mendapat pertanyaan serupa. Hal tersebut telah mencerminkan bagaimana cara pandang masyarakat menempatkan tanggung jawab rumah tangga sebagai kodrat perempuan.
Dari tragedi kereta api di Stasiun Bekasi Timur, banyak hal perlu menjadi refleksi dan kita sadari. Untuk sesaat, masyarakat melihat perempuan bukan sekadar angka korban tetapi manusia yang hadir dengan peran dan kasihnya. Masyarakat memuji perempuan sebagai “sosok wanita tangguh”, “sosok wanita hebat”, bahkan “sosok Kartini masa kini”.
Namun terkadang, penghormatan itu hanya berhenti pada kata-kata, kenyataannya masih banyak perempuan di luar sana yang tak mendapatkan haknya. Kebebasan berpendapat, kesetaraan, hidup tenang tanpa takut pelecehan di ruang publik. Tragedi kecelakaan kereta ini mengenalkan kita pada sosok-sosok perempuan pekerja keras, berpendidikan, penuh kasih sayang, penuh kebaikan, dan tentunya sosok tangguh yang menjalankan lebih dari satu peran. Sebagai ibu, istri, anak, dan pekerja yang berusaha menjalani kehidupannya dengan ikhlas.
Pada akhirnya, empati tidak harus menunggu perempuan menjadi korban kecelakaan, pelecehan, atau kekerasan terlebih dahulu agar kisah hidupnya teranggap penting. Empati lahir dari kesadaran bahwa perempuan dalam kehidupan sehari-harinya, telah memikul begitu banyak peran yang jarang benar-benar kita pahami. Sebab penghormatan yang paling manusiawi bukan hadir setelah kehilangan, melainkan dalam cara kita memandang dan memperlakukan perempuan setiap hari.[]

