Kisah Aurélie Moeremans, Broken Strings, dan Relasi yang Salah Arah

Sumber Gambar: nusantarainfo.com

Menjelang akhir 2025, nama Aurélie Moeremans ramai publik bicarakan setelah ia merilis buku Broken Strings (2025). Bukan karena gosip murahan atau sensasi kosong, melainkan karena keberaniannya membuka luka lama yang selama ini ia simpan rapat-rapat. Buku itu bukan sekadar memoar selebritas, tapi catatan pahit tentang bagaimana relasi yang kita kira cinta justru menjelma menjadi rangkaian kekerasan yang sistematis.

Dalam pengakuannya, Aurélie bercerita bahwa saat berusia 15 tahun, ia terlibat relasi dengan seorang laki-laki berusia 29 tahun. Di usia yang masih labil secara emosional dan psikologis, ia menghadapi seseorang yang sudah matang secara umur dan kuasa. Ketimpangan ini sejak awal menjadi fondasi yang rapuh, tapi sering kali tersamarkan atas nama cinta, perhatian, dan janji masa depan.

Relasi itu, menurut kesaksiannya, terwarnai manipulasi emosional, pemaksaan, ancaman, hingga kekerasan fisik dan seksual. Ia dipukul, diludahi, dipermalukan di depan publik, bahkan dijauhkan dari keluarganya sendiri. Pola klasik relasi abusif, korban dipisahkan dari sistem pendukung agar sepenuhnya bergantung pada pelaku. Dalam situasi seperti itu, korban sering kali kehilangan kemampuan untuk membedakan mana cinta dan mana kekerasan.

Alat Kontrol

Yang lebih menyakitkan, kekerasan tersebut terbungkus dengan dalih moral dan agama. Rasa takut pelaku tanamkan bukan hanya pada tubuh, tapi juga pada batin korban. Tuhan pelaku pakai sebagai alat kontrol, bukan sumber penguatan. Ironisnya, baik korban maupun pelaku berasal dari latar belakang agama yang sama. Ini menunjukkan bahwa agama sebaik apa pun ajarannya bisa penganutnya salahgunakan ketika berada di tangan orang yang ingin berkuasa.

Pernikahan yang dipaksakan pun menjadi bagian dari cerita kelam itu. Dalam pengakuan Aurelie, pernikahan tersebut tidak sah secara hukum maupun agama, tidak ada wali dari pihak perempuan. Namun status “istri” telanjur melekat untuk membungkam suara korban. Lagi-lagi, legalitas palsu terpakai sebagai senjata psikologis seolah-olah setelah menikah, semua kekerasan menjadi sah dan wajar.

Baca Lainya  Menakar Sistem Proporsional Tertutup dan Terbuka pada Pemilu di Indonesia

Banyak pembaca kemudian menyebut perilaku sang laki-laki menunjukkan ciri Narcissistic Personality Disorder (NPD), merasa selalu benar, haus kendali, tidak punya empati, dan gemar merendahkan. Entah benar secara klinis atau tidak, yang jelas pola relasinya mencerminkan karakter abusif yang terstruktur. Kekerasan bukan terjadi sekali dua kali karena emosi sesaat, melainkan terancang agar korban terus merasa kecil, bersalah, dan tidak berdaya.

Buku dan Pengingat

Yang membuat kisah ini viral bukan hanya karena pelakunya orang dewasa atau korbannya figur publik, tapi karena ceritanya terasa terlalu dekat. Banyak orang terutama perempuan merasa, “Ini seperti cerita saya.” Relasi dengan selisih usia jauh sering kali ternormalisasi, bahkan teranggap prestasi. Padahal, ketika satu pihak masih anak-anak secara usia dan mental, relasi semacam itu lebih mirip eksploitasi daripada cinta.

Broken Strings akhirnya menjadi lebih dari sekadar buku. Ia adalah pengingat bahwa kekerasan tidak selalu berbentuk luka berdarah. Kadang ia hadir dalam kata-kata, aturan sepihak, ancaman halus, dan klaim “aku melakukan ini demi kamu”. Dan yang paling berbahaya, kekerasan sering kali baru kita sadari setelah korban berhasil keluar dari lingkarannya.

Keberanian Aurélie bersuara patut kita apresiasi, bukan untuk mengorek sensasi, melainkan untuk membuka ruang diskusi. Tentang consent, tentang relasi kuasa, tentang bagaimana masyarakat sering gagal melindungi anak dan remaja dari predator yang bersembunyi di balik wajah dewasa dan kata cinta. Jika ada satu pelajaran penting dari Broken Strings, mungkin ini cinta seharusnya membebaskan, bukan memenjarakan.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *