Mengapa di beberapa tahun belakangan ini masih banyak orang tua menganggap ijazah SMA sebagai garis finis? Terutama bagi anak perempuan dan bukan sebagai garis awal menuju bangku universitas? Banyak Faktor penyebab orang tua rela menikahkan putrinya lebih awal dari yang seharusnya. Salah satu alasannya adalah kecemasan tak kasat mata yang orang tua alami sehingga terdengar seperti desakan halus. Maksudnya agar putrinya melangkah ke jenjang pelaminan begitu seragam putih abu-abu dia tanggalkan.
Bagi masyarakat luar, hal ini terdengar seperti tradisi kuno tapi bagi banyak keluarga. Pernikahan teranggap sebagai “penyelamat” yang jauh lebih konkret daripada ketidakpastian gelar sarjana. Banyak perempuan yang rela mengubur mimpinya untuk dapat duduk di bangku universitas impiannya hanya untuk memenuhi tradisi kuno yang masih teranut oleh sebagian besar orang tua di Indonesia.
Menurut penelitian Nandang (2009:94), orang tua dengan pendidikan rendah lebih cenderung mendorong anak mereka untuk menikah lebih awal. Terutama anak perempuan, karena mereka menganggap bahwa setelah menikah, tanggung jawab anak perempuan akan berpindah ke suami. Fenomena tersebut memang banyak di Indonesia, terutama pada kelompok masyarakat dengan tingkat pendidikan rendah.
Rendahnya tingkat pendidikan orang tua mempengaruhi pola pemikiran yang beranggapan bahwa pernikahan dini sebagai hal yang lumrah terjadi di banyak keluarga di luar sana. Berbeda dengan para orang tua yang memiliki tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Mereka mempunyai pemikiran yang lebih luas dan beranggapan bahwa pernikahan dini hanya akan berdampak buruk bagi anak-anaknya, baik itu secara fisik ataupun secara mental.
Kondisi Ekonomi
Faktor lain yang menjadi akar utama dalam masalah ini adalah kondisi perekonomian yang di bawah rata-rata, hal ini mempengaruhi keputusan orang tua terkait pernikahan putri mereka. Keluarga dengan status keuangan yang rendah cenderung menikahkan putri mereka lebih awal untuk mengurangi beban finansial mereka. Dalam pandangan ini, pernikahan teranggap sebagai jalan pintas untuk mengalihkan beban tanggung jawab dari ayah ke menantu.
Di sisi ini, pernikahan dini bagi perempuan merupakan strategi bertahan hidup agar mengurangi sedikit beban dapur keluarga, begitu miris nasib perempuan sebagai alat untuk mengurangi beban keluarga. Banyak perempuan yang akhirnya memilih untuk patuh terhadap aturan kuno itu sebab terpengaruh oleh keadaan ekonomi dan lingkungan sekitar. Namun tidak sedikit pula perempuan yang menentang aturan tersebut karena percaya bahwa pernikahan dini memiliki dampak buruk ke depannya. Serta percaya bahwa pendidikan tinggi dapat mengubah pola pikir menjadi lebih luas.
Apa dampaknya bagi perempuan? Pernikahan dini bukan hanya berdampak pada kesehatan fisik tapi juga kesehatan mental. Secara mental, perempuan yang belum cukup usia untuk menikah sudah pasti belum memiliki kematangan psikologis, termasuk dalam pengambilan keputusan yang tapat sehingga akan terjadi ketidakharmonisan rumah tangga yang nanti akan berujung pada kasus KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) dan berakhir pada perceraian.
Dampak Pernikahan Dini
Di sisi ini, pihak perempuan lah yang merugi, jika sampai terjadi kasus KDRT maka bukan hanya fisik yang terluka tapi mental juga ikut terluka oleh sebab itu pernikahan dini juga memberi dampak yang sangat berpengaruh bagi fisik dan mental perempuan. Salah satu dampak fisik jangka panjang yang berpengaruh sangat besar pada perempuan adalah ketika perempuan hamil di bawah usia ideal. Maka akan meningkatkan risiko pendarahan dan bayi yang di lahirkan berpotensi mengalami kelahiran prematur. Hal ini bukan hanya berdampak pada perempuannya tapi juga berdampak pada si kecil.
Dari pengamatan di atas, dapat kita simpulkan bahwa pernikahan dini bukan solusi yang tepat dan banyak keluarga yang menjadikan pernikahan dini sebagai jalur instan agar mengalihkan tanggung jawab orang tua ke menantu. Kurangnya pemahaman masyarakat tentang dampak buruk akibat pernikahan dini menjadi salah satu alasan mengapa masih banyak pernikahan dini di negara ini dan hanya akan menimbulkan dampak buruk ke depannya, baik itu secara fisik maupun mental perempuan.
Faktor utama yang menjadi dasarnya adalah ekonomi dan tingkat pendidikan orang tua, keluarga dengan penghasilan di bawah rata-rata. Atau tingkat pendidikan rendah memiliki pola pikir yang berbeda dengan masyarakat pada umumnya. Dengan demikian pernikahan lebih awal bagi perempuan menjadi solusi terbaik yang masih di anut oleh beberapa keluarga di Indonesia.
Tentu tidak semua masyarakat ini memiliki pemikiran seperti itu, banyak yang telah sadar akan pentingnya pendidikan bagi perempuan. Sebab, perempuan itu akan menjadi guru pertama bagi anaknya nanti dan kematangan psikologis pada perempuan yang telah masuk ke dalam usia ideal untuk menikah juga berperan penting dalam keharmonisan rumah tangga dan tumbuh kembang si buah hati. Perempuan pantas mendapatkan akses pendidikan tinggi, seperti kata pepatah “Bermimpilah setinggi langit agar jika kamu jatuh, kamu jatuh di antara bintang-bintang”.[]

