Di era digital yang serba cepat, perempuan Gen Z tengah membuktikan jika pendidikan bukan hanya kewajiban, tapi sudah jadi bagian dari gaya hidup. Istilah “EduSis” cocok untuk menggambarkan fenomena ini. Jika dulu belajar teranggap beban, sekarang banyak perempuan muda justru menganggap menimba ilmu itu keren, prestisius, bahkan setara dengan mengikuti tren fesyen atau beauty.
Perempuan Gen Z tumbuh dalam dunia yang serba terkoneksi, di mana akses informasi terbuka lebar. Mereka paham kalau kecerdasan dan pengetahuan adalah modal utama untuk bertahan di dunia yang penuh kompetisi. Dengan mindset seperti itu, pendidikan bukan lagi sekadar jalan menuju gelar, tapi juga simbol gaya hidup baru yang empowering.
Fenomena “EduSis” ini bisa kita lihat jelas di keseharian. Banyak perempuan muda yang rajin bikin konten edukasi di TikTok atau Instagram. Ada yang sharing tips belajar, ada yang membahas isu sosial, ada juga yang membahas self-development. Semuanya mereka ;lakukan dengan cara kreatif dan relatable.
Suara Pendidikan
Mereka seolah ingin menunjukkan kalau menjadi pintar itu tak kalah keren alih-alih jadi cantik. Bahkan, sekarang muncul tren bahwa perempuan berpendidikan tinggi teranggap lebih menarik karena punya daya tarik intelektual yang bikin kagum. Perempuan-perempuan ini sadar kalau pendidikan bisa membikin mereka punya suara lebih kuat dalam masyarakat.
“Generasi ini mengubah narasi: perempuan bukan lagi objek pasif dalam pendidikan, tapi subjek aktif yang punya kendali atas pilihan dan mimpinya.”
Selain itu, perempuan Gen Z juga berani mendobrak stigma lama bahwa sekolah atau kuliah itu hanya untuk formalitas. Mereka melihat pendidikan sebagai ruang eksplorasi diri. Tak sedikit perempuan yang memilih jurusan sesuai passion meski orang lain meremehkan. Misalnya, ada yang masuk ke bidang teknologi, sains, atau bisnis, padahal dulu identik dengan dunia laki-laki.
Generasi ini mengubah narasi: perempuan bukan lagi objek pasif dalam pendidikan, tapi subjek aktif yang punya kendali atas pilihan dan mimpinya. Mereka ingin menunjukkan bahwa kecerdasan perempuan bisa membawa perubahan nyata, baik untuk dirinya sendiri maupun lingkungan sekitar.
Fenomena ini juga selaras dengan tren global tentang women empowerment. Dunia kini semakin sadar bahwa perempuan harus punya kesempatan yang sama dalam mengakses pendidikan. Gen Z perempuan di Indonesia merespons hal ini dengan semangat belajar yang nggak kalah dengan laki-laki. Data juga menunjukkan semakin banyak perempuan yang berhasil menempuh pendidikan tinggi dan menduduki posisi strategis. Dari sini terlihat kalau “EduSis” bukan cuma tren kosong, melainkan gerakan nyata yang bisa bikin wajah pendidikan perempuan berubah.
Namun, tak bisa terpungkiri, jalan menuju “EduSis” ini masih penuh tantangan. Masih ada daerah-daerah di Indonesia yang membatasi kesempatan perempuan untuk sekolah. Ada juga budaya patriarki yang menganggap perempuan tak perlu sekolah tinggi karena pada akhirnya akan mengurus rumah tangga. Namun, perempuan Gen Z membalik narasi itu.
Mendidik Generasi
Mereka justru ingin membuktikan bahwa pendidikan bisa membuat mereka lebih siap, baik sebagai individu mandiri maupun sebagai bagian dari keluarga. Dengan pendidikan, perempuan bisa mendidik generasi berikutnya lebih baik, bisa berkontribusi dalam ekonomi, bahkan bisa jadi pemimpin. Jadi, pendidikan perempuan bukan cuma soal personal, tapi juga punya efek sosial yang luas.
Di era media sosial, tren “EduSis” semakin kuat karena perempuan Gen Z saling menginspirasi. Kita bisa lihat banyak tokoh muda perempuan yang jadi role model. Mereka bukan cuma artis atau influencer, tapi juga mahasiswa berprestasi, aktivis, dan peneliti muda. Dengan memanfaatkan platform digital, mereka membuktikan kalau prestasi akademik bisa mereka banggakan sama halnya dengan prestasi lain. Bahkan, ada tren “studygram” atau “study vlog” yang isinya murni tentang aktivitas belajar. Dari sana terlihat jika pendidikan bukan lagi teranggap kaku, tapi bisa jadi konten kreatif yang banyak orang sukai.
Lebih jauh lagi, “EduSis” juga memperlihatkan bagaimana perempuan Gen Z memandang pendidikan sebagai modal untuk menghadapi masa depan kerja. Mereka sadar dunia kerja makin kompetitif, dan skil yang dimiliki hari ini bisa jadi nggak relevan besok. Karena itu, belajar tak berhenti di kampus, tapi juga lewat kursus online, bootcamp, atau komunitas digital. Perempuan Gen Z tak ragu investasi waktu dan uang untuk terus upgrade diri. Mereka ingin jadi pribadi yang adaptif, fleksibel, dan siap menghadapi tantangan global. Dengan begitu, pendidikan benar-benar jadi bagian dari gaya hidup mereka.
Pendidikan Inklusif
Fenomena ini juga bikin pendidikan jadi lebih inklusif. Jika dulu perempuan berpendidikan sering dianggap berbeda atau bahkan “ketinggian”, sekarang justru jadi hal yang dibanggakan. Banyak komunitas perempuan muda yang saling dukung dalam belajar. Mereka tak lagi saling menjatuhkan, tapi saling mendorong untuk sukses bersama. Edukasi jadi simbol solidaritas sekaligus ruang tumbuh bersama. Semangat ini bikin narasi perempuan berpendidikan makin kuat, karena tak hanya bicara tentang individualisme, tapi juga tentang kolektivitas.
Namun, penting juga dicatat kalau “EduSis” nggak boleh berhenti di permukaan. Jangan sampai pendidikan hanya dianggap tren sesaat tanpa esensi. Belajar bukan cuma untuk pamer nilai atau sekadar konten, tapi harus betul-betul jadi proses pembentukan karakter dan pemahaman mendalam. Tantangan bagi perempuan Gen Z adalah bagaimana menjaga konsistensi belajar di tengah distraksi digital. Di sinilah perlu ada keseimbangan antara belajar yang fun dengan keseriusan akademik. Kalau itu bisa dijaga, “EduSis” akan jadi lebih dari sekadar lifestyle—ia bisa jadi identitas baru perempuan generasi ini.
Pada akhirnya, tren “EduSis” adalah bukti nyata kalau perempuan Gen Z sedang mendefinisikan ulang makna pendidikan. Belajar bukan lagi beban, tapi kebanggaan. Sekolah, kuliah, kursus, atau belajar mandiri jadi bagian dari gaya hidup yang melekat erat dengan identitas mereka. Mereka paham bahwa glow up sejati bukan cuma soal penampilan luar, tapi juga tentang isi kepala. Dengan semangat ini, perempuan Gen Z siap menunjukkan bahwa kecerdasan adalah bentuk kecantikan yang paling menawan. Dan ketika pendidikan sudah jadi lifestyle, masa depan perempuan Indonesia akan semakin terang.[]

