Masa kuliah adalah babak baru yang paling seru dalam hidup. Ini bukan hanya mengejar SKS, tugas numpuk, atau ngopi sambil nugas sampai Subuh. Lebih dari itu, kuliah adalah ajang besar bagi mahasiswa untuk mencari jati diri, mengerti dunia, belajar tanggung jawab, dan, tentu saja, jatuh cinta. Banyak sekali mahasiswa yang menjadikan pacaran sebagai bagian dari perjalanan itu. Banyak yang mengatakan kuliah adalah waktu terbaik untuk jatuh cinta. Namun, faktanya di balik manisnya perhatian, seringkali terselip jebakan mental yang sering membuat masa kuliah kita berantakan.
Awalnya, punya pacar di masa kuliah itu terasa seperti memiliki support system super, istimewa, spesial, plus, atau malah bahkan eksklusif. Ada yang chat setiap malam, menelepon sampai ketiduran, atau nongkrong bareng sampai lupa waktu. Rasanya seperti dunia cuma milik berdua, hanya kamu, dia, dan ilusi kebahagiaan yang sempurna. Pasangan teranggap sebagai sumber motivasi, pemberi semangat, bahkan ‘alarm’ untuk mengingatkan tenggat tugas. Namun, tanpa sadar fokus kuliah mulai kabur. Tugas numpuk, kelas sering absen, semua demi seseorang yang katanya “support system” malah jadi “distraction system”.
Memang faktanya tak seindah itu. Tanpa sadar, waktu kita habis terbagi, bukan untuk membangun diri atau belajar berpikir kritis tapi untuk menguasai drama dan konflik hubungan yang kadang tak jelas. Kita menghabiskan energi fisik dan mental untuk menangani drama dan konflik hubungan yang tak berkesudahan.
Ketidakstabilan Emosi
Pandangan saya adalah bahwa akar masalahnya terletak pada ketidakstabilan emosi. Hubungan pacaran di usia mahasiswa seringkali penuh gejolak emosi yang belum stabil. Namun, ini sebuah fase wajar dalam perkembangan remaja akhir. Ketika komunikasi mulai miss atau ada hal kecil yang memicu, sering muncul rasa cemburu yang berlebihan (seringkali tidak berdasar), curiga tanpa alasan, dan overthinking yang tak ada habisnya.
Tekanan batin semacam ini bisa memicu tingkat stres dan kecemasan yang serius. Kepala rasanya penuh, fokus ke materi kuliah hilang entah ke mana, semangat belajar menurun drastis, dan yang paling parah, nilai akademik ikut-ikutan anjlok. Dampaknya bukan hanya pada IPK, tetapi juga pada kemampuan kita untuk menyerap ilmu secara optimal dan menyelesaikan pendidikan tepat waktu.
Jatuh cinta di dunia kuliah itu seringkali bukan membikin kita tumbuh, tapi malah bikin tumbang. Mahasiswa yang awalnya punya mimpi tinggi, ambisi buat lulus cumlaude, atau rencana buat lanjut S2, ujung-ujungnya malah sibuk menyembuhkan hati yang tersakiti atau berlarut-larut dalam hubungan yang toksik. Ini, bagi saya, adalah pengkhianatan terhadap potensi diri. Mereka yang belum stabil secara mental seringkali kesulitan menyeimbangkan antara tuntutan cinta yang menghabiskan energi dan tanggung jawab akademik yang super padat.
Energi dan waktu yang seharusnya mereka alokasikan untuk tugas, riset, atau organisasi, malah terbuang sia-sia untuk drama yang melelahkan. Lingkaran masalah ini bisa membuat mahasiswa burnout yang menghambat perkembangan diri mereka secara permanen. Kampus itu seharusnya menjadi tempat kita belajar dan tumbuh, bukan tempat jatuh dan terpuruk karena cinta yang salah arah.
Waktu yang Tepat untuk Jatuh Cinta
Bukan berarti kita tidak boleh jatuh cinta. Setiap orang punya hak untuk mencintai dan dicintai. Namun, yang paling penting adalah memahami waktu dan caranya harus tepat. Jika hubungan yang terjalani justru membuat kesehatan mental jadi taruhan, mungkin memang belum saatnya. Di usia mahasiswa ini, prioritaskan untuk membangun diri, memperbaiki karakter, menata skil, dan merancang masa depan. Menunda pacaran atau memilih untuk tidak terikat dalam hubungan yang serius bukan berarti menolak cinta. Itu adalah tindakan cerdas yang menunjukkan kamu memilih untuk mencintai diri sendiri terlebih dahulu.
Dengan kondisi mental yang sehat, hati yang tenang, dan fokus yang tajam, seseorang akan jauh lebih siap menjalani hubungan yang matang dan berjangka panjang di masa depan. Ketenangan batin jauh lebih berharga daripada status ‘sudah punya pacar’. Pacaran mungkin bisa memberi kebahagiaan dan euforia sesaat, tetapi kuliah adalah perjalanan jangka panjang yang menentukan peta jalan masa depan. Tidak ada yang lebih worth it di masa ini daripada menjaga pikiran tetap tenang, hati tetap sehat, dan langkah tetap fokus menuju cita-cita. Jangan biarkan passion dan ambisimu tertukar dengan drama yang fana. Jadilah mahasiswa yang berprestasi, bukan mahasiswa yang bergalau ria.[]

