Ruang Aman Perempuan: antara Harapan, Kenyataan, dan Perlawanan

Ruang Aman Perempuan Sumber Gambar: kompas.id

Pembahasan tentang ruang aman perempuan selalu terasa relevan. Sebab, ia berangkat dari pengalaman hidup sehari-hari yang banyak perempuan alami di berbagai tempat. Istilah ini bukan sekadar jargon aktivisme, melainkan kebutuhan mendasar. Yakni hidup tanpa ketakutan, ancaman, dan tekanan yang merampas kebebasan perempuan menjadi diri sendiri.

Namun, di balik harapan besar untuk memilikinya, kenyataan masih jauh dari ideal. Meski begitu, selalu ada perlawanan yang tumbuh pelan tapi pasti dari perempuan yang menolak diam. Di titik ini, ruang aman bukan hanya tujuan, tetapi juga perjalanan panjang yang terus perempuan upayakan.

Harapan akan ruang aman berangkat dari kebutuhan paling manusiawi: ingin mendapat perlakuan sebagai manusia sepenuhnya. Perempuan mendambakan ruang di mana mereka bisa bergerak tanpa terbayang-bayangi rasa was was. Mereka ingin pulang malam tanpa harus memegang kunci seperti senjata. Ingin bekerja tanpa harus menghindari komentar seksis. Pun ingin menggunakan media sosial tanpa menjadi sasaran hinaan fisik atau pelecehan. Harapan itu juga mencakup ruang emosional—ruang di mana perempuan bisa menyampaikan pendapat tanpa dipotong atau diremehkan. Bisa menangis tanpa teranggap lemah, dan bisa marah tanpa terlabeli berlebihan.

Relasi Kuasa dan Ketimpangan

Harapan itu tak menghargai dan tak menjadi tubuh perempuan sebagai objek. Pikiran perempuan terdengar, bukan terpertanyakan. Pilihan perempuan terhormati, bukan terus-menerus tersalahkan. Ruang aman adalah ruang di mana perempuan tidak harus membatasi diri demi kenyamanan orang lain. Sayangnya, harapan itu masih sering terasa seperti sesuatu yang hanya ada dalam wacana, bukan sesuatu yang benar-benar hadir dalam keseharian.

Kenyataan menunjukkan betapa sempitnya ruang aman bagi perempuan. Pelecehan di ruang publik teranggap lumrah, bahkan seringnya menyalahkan kembali korban dengan dalih pakaian atau sikap. Di ruang kerja, perempuan masih menghadapi relasi kuasa yang timpang. Senior atau atasan dapat memanfaatkan posisinya untuk melecehkan secara verbal maupun fisik. Di rumah, sebagian perempuan menjalani kehidupan penuh tekanan emosional, kekerasan verbal, hingga fisik—tapi sering kali mereka tidak berani melapor karena keluarga dan masyarakat masih menganggapnya “urusan internal”.

Baca Lainya  Mencari Ruang Aman di Perguran Tinggi

Ruang digital pun tidak memberi jaminan aman. Media sosial menjadi tempat di mana perempuan mudah mendapat serangan melalui doxing, body shaming, pelecehan seksual berbasis digital, hingga ancaman kekerasan yang nyata. Banyak perempuan harus menghapus komentar, memprivat akun, atau bahkan meninggalkan medsos hanya untuk menjaga kesehatan mental. Kenyataan ini menunjukkan bahwa ruang perempuan selalu terawasi, terkontrol, dan terawasi ulang—baik oleh mata-mata asing maupun oleh norma sosial yang tidak adil.

Kenyataan ini terkuatkan oleh budaya patriarki yang sudah mengakar. Perempuan sejak kecil terdoktrin untuk berhati-hati, bukan untuk menuntut keamanan. Mereka terperintah menutup diri, bukan melawan ketidakadilan. Ketika perempuan bersuara, mereka teranggap sensitif; ketika perempuan menuntut hak, mereka tercap melawan tradisi. Semua ini membuat perjalanan menuju ruang aman terasa berat, namun tidak berarti mustahil.

Disersi Ketidakadilan

Justru dari kenyataan pahit itu, perlawanan perempuan tumbuh. Perlawanan tidak selalu muncul dalam bentuk demonstrasi besar. Kadang ia hadir dalam bentuk sederhana: keberanian seorang perempuan menceritakan pengalamannya, menolak komentar yang merendahkan, mengoreksi candaan seksis, atau membela perempuan lain ketika mereka terendahkan. Perlawanan juga hadir ketika perempuan memilih hidup dengan caranya sendiri, meski dunia terus berusaha mengatur mereka.

Perlawanan di ruang digital menjadi salah satu kekuatan baru. Melalui tulisan, video, podcast, dan cerita yang terbagikan secara anonim maupun terbuka, perempuan saling menguatkan dan membangun solidaritas. Tagar-tagar yang viral bukan sekadar tren, tetapi suara kolektif yang membuka mata banyak orang tentang realitas kekerasan yang selama ini tersembunyikan. Ketika satu perempuan berani bersuara, perempuan lain merasa tidak sendirian. Di sinilah kekuatan perlawanan itu: ia menular, ia menguatkan, dan ia menyatukan.

Baca Lainya  Perjalanan Muslimah, Mobilitas, dan Nilai Islam

Namun, perjuangan perempuan tidak bisa hanya tertanggung oleh perempuan. Membangun ruang aman membutuhkan perubahan struktural. Pendidikan yang sensitif gender amat perlu agar generasi muda memahami batasan, konsen, dan empati sejak dini. Hukum harus berpihak kepada korban, bukan mengulang trauma dengan prosedur yang rumit.

Institusi seperti sekolah, kampus, kantor, hingga media harus memiliki mekanisme jelas untuk menangani kekerasan dan pelecehan. Laki-laki pun harus ikut terlibat—bukan sebagai “pelindung”, tetapi sebagai bagian dari masyarakat yang bertanggung jawab menghentikan budaya kekerasan.

Ruang aman tidak tercipta hanya karena perempuan belajar untuk lebih waspada. Ruang aman hadir ketika masyarakat berubah. Ketika candaan seksis tidak lagi teranggap lucu. Manakala komentar merendahkan tidak lagi mendapat toleransi. Pun ketika laki-laki tidak lagi merasa berhak mengontrol tubuh perempuan. Serta manakala perempuan bisa berjalan dengan kepala tegak tanpa takut.

Pada akhirnya, ruang aman perempuan bukanlah sesuatu yang utopis. Ia mungkin belum sepenuhnya ada hari ini, tetapi ia sudah diperjuangkan. Ia tumbuh di antara keberanian perempuan yang menolak diam dan keinginan kolektif untuk hidup lebih manusiawi. Harapan, kenyataan, dan perlawanan perempuan bukan tiga hal yang terpisah—mereka saling berkait, saling menguatkan.

Selama perempuan masih bersuara, selama solidaritas masih hidup, dan selama dunia masih mau belajar berubah, ruang aman itu akan terus dibangun. Pelan, tetapi pasti. Karena perempuan layak aman, layak didengar, dan layak hidup tanpa takut.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *