Seiring dengan perkembangan teknologi, sekarang banyak mahasiswa yang kuliah daring (dalam jaringan). Artinya kuliah tidak harus bertatap muka secara langsung antara seorang dosen dan mahasiswa. Bagi mahasiswa semester awal, sistem ini bisa menjadi pengalaman baru yang menarik, tetapi juga menghadirkan beberapa tantangan.
Kuliah daring tidak hanya soal menyalakan laptop dan bergabung ke kelas, tetapi juga bagaimana mahasiswa mampu beradaptasi, menjaga motivasi, serta memiliki pengaruh besar terhadap kualitas pembelajaran. Dengan demikian, penting untuk membahas kenyataan kuliah daring agar kita dapat memahami perubahan dan dampaknya terhadap pengalaman belajar siswa.
Salah satu tantangannya yaitu tantangan beradaptasi terhadap lingkungan belajar digital. Mahasiswa yang sebelumnya terbiasa belajar secara tatap muka harus menyesuaikan diri dengan berbagai platform seperti Zoom, Google Classroom, atau Learning Management System (LMS) kampus. Banyak mahasiswa semester satu yang masih bingung dengan fitur-fitur tertentu, sehingga awalnya sering salah mengumpulkan tugas atau terlambat masuk kelas.
Berbagai Persoalan
Selain itu, dari sudut pandang teknis, banyak siswa menghadapi masalah seperti koneksi internet yang buruk, alat yang tidak memadai, dan kesulitan dalam mengakses aplikasi pembelajaran tertentu. Di wilayah dengan keterbatasan infrastruktur internet, sering kali siswa ketinggalan materi karena gangguan sinyal atau suara pengajar yang terputus-putus. Hal ini membuat pengalaman belajar menjadi kurang efektif dan menambah tekanan bagi siswa.
Beberapa mahasiswa harus berbagi perangkat dengan anggota keluarga, ada yang terganggu oleh suara di sekitarnya. Dan ada yang mengalami kesulitan berkonsentrasi karena suasana rumah yang terlalu santai. Lingkungan yang tidak mendukung dapat membuat siswa sukar untuk fokus saat pelajaran berlangsung. Hal ini berujung pada berkurangnya semangat belajar serta menjadikan proses akademik terasa lebih menantang alih-alih dengan kuliah secara langsung. Tantangan lain yang sering mahasiswa hadapi adalah kebosanan. Menatap layar selama berjam-jam dapat menyebabkan kelelahan mata, kebosanan, dan turunnya motivasi.
Kurangnya interaksi sosial membuat siswa merasa lebih terasing dan kurang terlibat dalam aktivitas belajar. Padahal, interaksi dengan dosen dan sesama siswa adalah struktur penting yang membuat proses belajar lebih menyenangkan. Kekurangan suasana kelas yang hidup menjadikan kuliah daring terasa monoton dan tidak memotivasi. Di tengah berbagai tantangan tersebut, siswa harus melakukan adaptasi di banyak bidang. Adaptasi ini mencakup lebih dari sekadar teknis penggunaan aplikasi video conference tetapi juga meliputi kemampuan dalam mengatur waktu, strategi belajar, serta pengembangan sikap mandiri.
Sikap Disiplin
Siswa perlu belajar untuk menyusun jadwal sendiri, baik untuk mengikuti kelas, mempelajari materi tambahan, maupun menyelesaikan tugas. Tanpa pengawasan langsung, mereka harus mempunyai sikap disiplin diri agar tidak tertinggal. Selain itu, siswa juga perlu mengembangkan cara belajar yang lebih efektif. Jika dalam pembelajaran tatap muka pemahaman materi bisa mahasiswa peroleh secara langsung dari penjelasan dosen dan diskusi di kelas, dalam kuliah daring tertuntut untuk lebih aktif mencari informasi tambahan.
Banyak dari mereka mulai menggunakan sumber-sumber belajar digital seperti video pembelajaran, jurnal daring, dan platform diskusi. Penyesuaian ini sebenarnya memberikan dampak positif, karena membantu siswa mengasah keterampilan belajar mandiri serta memperluas perspektif mereka melalui berbagai sumber. Adaptasi sosial juga perlu mahasiswa lakukan.
Meskipun interaksi secara langsung terbatas, para mahasiswa harus tetap menciptakan komunikasi dengan rekan sekelas dan dosen. Media seperti grup WhatsApp, forum diskusi, dan ruang virtual sangat penting untuk menjaga hubungan. Meskipun sistem ini mungkin tidak seintens interaksi secara langsung, ini menjadi alternatif agar proses akademik tetap berjalan dan mahasiswa tidak merasa terputus dari komunitas kampus.
Kualitas Pembelajaran
Kenyataan perkuliahan daring juga membawa perubahan pada kualitas pembelajaran. Perubahan ini bisa membawa dampak positif atau negatif, tergantung pada cara mahasiswa dan dosen menghadapinya. Dari sisi yang baik, kuliah online memberikan pembelajaran yang lebih fleksibel. Mahasiswa dapat mengakses materi kapan pun, mengulangi rekaman perkuliahan, atau mencari bahan tambahan dengan mudah.
Dosen pun bisa menggunakan berbagai alat digital untuk membuat pembelajaran lebih menarik, seperti video, kuis interaktif, atau presentasi visual. Namun, penurunan kualitas pembelajaran juga terlihat dari berkurangnya efektivitas di beberapa area. Mata kuliah yang memerlukan praktik langsung, laboratorium, atau diskusi yang mendalam sering kali tidak dapat terlakukan dengan baik.
Interaksi yang terbatas membuat pemahaman materi tidak sekuat saat belajar langsung di kelas. Beberapa mahasiswa merasa hanya “mengikuti” kelas tanpa benar-benar memahami materi karena sulit berkonsentrasi atau kurang memiliki kesempatan untuk bertanya. Dari berbagai situasi tersebut, dapat disimpulkan bahwa kuliah daring adalah pengalaman yang rumit.
Masalah teknis, suasana belajar yang kurang ideal, serta kebosanan menjadi tantangan terbesar. Namun, penyesuaian dalam disiplin, strategi belajar, dan kemampuan berkomunikasi adalah kunci agar mahasiswa tetap dapat berkembang. Meskipun perubahan kualitas pembelajaran tidak bisa dihindari, dengan usaha dari kedua pihak antara dosen dan mahasiswa kuliah online tetap bisa menjadi pengalaman belajar yang berarti.[]

