Pesan Ibu di Tahun Baru

Sumber Gambar: kumparan.com

Pergantian tahun sering kali kita rayakan dengan gegap gempita. Dentuman kembang api, meja makan yang penuh hidangan, bebakaran di teras rumah, serta euforia yang seolah menjadi penanda sah berakhirnya tahun 2025 dan mulainya tahun 2026. Namun di tengah hiruk-pikuk perayaan tahun baru, ada satu suara yang sering kali justru terabaikan: suara ibu. Suara yang lembut, sederhana, tetapi sarat makna dan juga teladan dalam kehidupan.

Setiap anak, pada titik tertentu dalam hidupnya, akan menyadari bahwa apa pun yang ia capai hari ini tidak pernah lepas dari jasa ibundanya. Dari rahimnya kita lahir, dari do’anya kita tumbuh, dan dari kesabarannya kita belajar arti kehidupan. Karena itu, momen Hari Ibu setiap 22 Desember semestinya tidak berhenti pada seremoni atau unggahan media sosial semata, melainkan menjadi ruang refleksi mendalam tentang bagaimana kita memaknai peran ibu dalam kehidupan nyata.

Hari Ibu sejatinya adalah pengingat kolektif bahwa peradaban besar selalu termulai dari rumah, dan rumah selalu berakar pada sosok ibu, dan tentu sosok ayah sebagai pucuk pimpinannya. Ibu adalah benar-benar “madrasah”, ia guru pertama tentang empati, kejujuran, kesederhanaan, dan kepedulian. Nilai-nilai itulah yang kerap kita dengar sejak kecil, meski sering kali baru benar-benar kita pahami ketika usia bertambah dan realitas hidup menguji.

“Setiap hari adalah hari ibu.”

Bagi saya pribadi, pesan ibu sangat sederhana, tetapi justru itulah yang membuatnya kuat dan relevan lintas zaman. Ibu selalu berpesan: “Jadilah manusia yang sederhana, efektif, dan punya empati kepada orang lain.” Tidak perlu hidup berlebihan, tidak perlu membuang-buang sesuatu yang masih bisa termanfaatkan, dan jangan pernah menutup mata terhadap penderitaan sesama.

Baca Lainya  Mahasiswa Islam: Pilar Moral dan Intelektual di Era Modern

Pesan Kesederhanaan

Kesederhanaan, dalam pesan ibu, bukan berarti kekurangan atau menolak kemajuan. Kesederhanaan adalah sikap batin: tahu kapan cukup, tahu batas antara kebutuhan dan keinginan. Efektif berarti menggunakan apa yang kita miliki secara tepat guna, tidak mubazir, tidak sia-sia. Sementara empati adalah kemampuan merasakan luka orang lain, seolah luka itu juga milik kita.

Pesan itu terasa semakin relevan ketika kita menatap akhir tahun dengan kenyataan pahit: saudara-saudara kita di Aceh dan beberapa wilayah Sumatera terlanda bencana banjir besar. Rumah terendam-hancur, harta benda hanyut-hilang, aktivitas lumpuh-tidak bisa bekerja dan di balik itu semua ada kesedihan mendalam yang tidak selalu tampak di layar gawai kita. Di saat sebagian dari kita bersiap menyambut tahun baru dengan pesta dan perayaan, ada saudara kita yang justru berjuang untuk sekadar bertahan.

Di sinilah empati teruji. Empati bukan hanya soal rasa iba, apalagi sekadar ucapan “turut prihatin” yang tertulis di status media sosial kita. Empati sejati menuntut sikap dan tindakan nyata. Salah satunya adalah keberanian untuk menahan diri. Menahan diri dari hura-hura berlebihan di malam tahun baru. Menahan diri dari budaya makan berlebihan yang berujung pada food waste, menghasilkan sampah makanan yang terbuang sia-sia, sementara di tempat lain, di tenda-tenda pengungsian, masih banyak orang yang kesulitan mendapatkan makanan layak.

Menaruh Rasa Empati

Makanan yang tersisa dan terbuang bukan sekadar persoalan etika konsumsi, tetapi juga cermin hilangnya empati. Pesan ibu tentang hidup efektif menjadi sangat relevan di sini: ambillah secukupnya, habiskan yang kita ambil, dan hargai setiap rezeki. Karena setiap butir nasi yang terbuang bisa jadi adalah harapan orang lain yang bisa memberikannya secercah energi.

Baca Lainya  ‎Perjuangan Wanita yang Diremehkan

Begitu pula dengan tradisi menyalakan kembang api. Cahaya indah yang hanya bertahan beberapa detik itu sejatinya menghabiskan biaya yang tidak sedikit. Tidak ada yang salah dengan merayakan kebahagiaan, tetapi akan jauh lebih bermakna jika kebahagiaan itu kita bagi. Uang yang biasa kita keluarkan untuk kembang api bisa teralihkan menjadi bantuan bagi mereka yang membutuhkan, khususnya para korban bencana.

Inilah bentuk empati konkret yang ibu ajarkan: bukan dengan ceramah panjang, melainkan dengan pilihan hidup sehari-hari. Tahun baru seharusnya menjadi momentum evaluasi, bukan hanya ceremony kembang api. Evaluasi tentang bagaimana kita memperlakukan sesama, bagaimana kita menggunakan rezeki, dan sejauh mana nilai-nilai ibu masih hidup dalam diri kita.

Pada akhirnya, pesan ibu di tahun baru adalah pesan tentang kemanusiaan. Bahwa hidup bukan soal seberapa meriah kita merayakan, tetapi seberapa besar manfaat yang bisa kita berikan. Bahwa kesederhanaan, efektivitas, dan empati bukanlah nilai kuno, melainkan fondasi untuk membangun masa depan yang lebih beradab.

Semoga di tahun yang baru, kita tidak hanya menambah usia, tetapi juga menambah kepekaan. Mendengar kembali suara ibu yang mungkin selama ini tenggelam oleh hiruk-pikuk dunia. Karena dari pesan ibu itulah, kita belajar menjadi manusia seutuhnya.[]

Bukit Semali-Sempor Kebumen, 30 Desember 2025

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *