Perempuan dan Standar TikTok

Sumber Gambar: mubadalah.id

Beberapa tahun terakhir, TikTok terus menjadi salah satu platform media sosial paling populer di kancah dunia. Lebih dari 1 miliar pengguna aktif. Aplikasi buatan negara Cina itu menjadi tempat dan ruang bagi orang-orang untuk berkreasi dengan membuat konten kreatif, mempromosikan produk, dan interaksi dengan orang lain. Namun, di balik popularitas TikTok yang semakin meningkat, ia juga menjadi ancaman karena tekanan dan standar kecantikan yang sangat tidak realistis bagi perempuan. 

Di era serba digital ini, banyak perempuan menghadapi standar kecantikan TikTok yang semakin esktrem dan tidak realistis. Mulai dari tubuh yang ideal dan sempurna (body goal), wajah yangcantik mempesona, hingga gaya hidup yang terkesan glamor dan hedon. Mereka juga terharapkan selalu tampil menarik di dunia maya maupun di kehidupan nyata.

Hal tersebut menyebabkan tekanan yang besar kepada perempuan karena harus mengikuti standar TikTok. Usaha untuk menginternalisasikan serta mengejar standar kecantikan TikTok, yang intinya adalah ilusi, dapat menyebabkan masalah dengan citra diri negatif, kecemasan berlebihan (anxiety), atau bahkan gangguan dismorfik tubuh (body dysmorphia).

Mencintai Diri Sendiri

Saat ini TikTok sering kali jadi tempat para perempuan untuk membandingkan diri dengan orang lain. Perbandingan ini meliputi bentuk tubuh, wajah, dan gaya hidup orang-orang yang lebih cantik, seksi, dan lebih sukses. Jika hal tersebut tidak perempuan hindari akan menyebabkan dan timbul perasaan ketidakpuasan dengan diri sendiri atau rendah diri (insecure). Bahkan bisa menyebabkan masalah kesehatan mental seperti stres dan depresi.

Standar kecantikan di TikTok bukan hanya tentang fisik yang harus sempurna, tetapi juga menciptakan sebuah performance culture. Maksudnya, di mana para perempuan merasa harus selalu on dan menarik perhatian. Tren yang cepat sekali berubah dan tantangan yang fokus pada penampilan fisik sehingga memaksa perempuan terus-menerus meluangkan waktu, uang, dan tenaga untuk mencapai citra diri yang teranggap bernilai. Ironisnya, upaya tersebut justru menghasilkan kecemasan, bukan kebahagiaan. 

Baca Lainya  Vina Muliana: Sosok None Jakarta menjadi Kreator Konten Inspiratif

Namun, di balik tekanan dan standar TikTok yang tidak realistis, platform ini juga menawarkan sisi yang mengembangkan dan memberi ruang untuk perempuan menunjukkan dan mengekspresikan diri mereka. Dengan memanfaatkan fitur-fitur, perempuan memiliki peluang emas untuk menjadi pencipta konten yang berdaya, tidak hanya sebagai konsumen atau pengguna saja.

Dengan menjadi kreator konten kreatif, menjadikan peluang emas untuk mempromosikan diri, dan mulai mengembangkan penjenamaan mereka. TikTok juga bisa kita gunakan untuk konten-konten yang lebih bermanfaat dang mengedukasi orang lain. Misalnya, kesadaran sosial, hak asasi manusia, lingkungan hidup, dan kesetaraan gender.

Kesadaran Pengguna Teknologi

Dengan adanya TikTok, perempuan harus menjadi lebih terbuka dan jujur tentang diri mereka sendiri. Dan mulai berbagai pengalaman, perasaan, pikiran dengan orang lain, menerima feedback dan dukungan. Hal ini dapat membantu kaum perempuan untuk tampil percaya diri, dan siap menghadapi tantangan.

Namun, untuk mencapai tahap ini, perempuan perlu mempunyai kesadaran dan kemampuan untuk mengelola dari tekanan standar TikTok yang tidak realistis. Perlunya memahami bahwa kecantikan tidak hanya penampilan fisik, tetapi juga kepribadian, kecerdasan, dan kebersihan hati. Mereka juga perlu memahami bahwa setiap orang mempunyai keindahan dan keunikan masing-masing.

Sebagai perempuan, kita juga harus memiliki kemampuan dan membedakan antara realitas dan fiksi. Kita perlu menanamkan ke diri masing-masing untuk bisa berpikir kritis dan tidak selalu membandingkan dengan orang lain. Dalam menghadapi tekanan dan standar TikTok, kita harus memiliki kesadaran dan kemampuan untuk mengelola tekanan dan standar kecantikan diri yang lebih kuat dan percaya diri.

Kita dapat menggunakan TikTok sebagai platform mengekspresikan diri, promosi, dan menciptakan personal branding yang menonjolkan kualitas. Agar bisa menjadi pere,[uam yang kuat, percaya diri, terlepas dari apa pun yang algoritma tentukan. Atau media promosi, serta menciptakan merek pribadi yang menonjolkan kualitas. Hasilnya, TikTok dapat berfungsi sebagai alat pemberdayaan, bukan hanya sumber kecemasan.[]

Baca Lainya  Fenomena ‘Cancel Culture’ dan Dampak bagi Selebriti Perempuan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *