Perempuan Bungsu dengan Cita-citanya

Pendidikan Perempuan Sumber Gambar qq.co.id

Dulu, di saat kehidupan membawa saya ke dalam realita menjadi siswa kelas dua belas, di situlah saya mulai bingung menentukan antara lanjut kuliah atau bekerja. Umumnya, orang-orang memikirkan tentang masa depan sedari mereka naik kelas sebelas. Namun karena begitu santainya, saya baru mulai memikirkan semua itu ketika sudah kelas dua belas. Dengan begitu, pada akhirnya saya kesulitan mengambil keputusan, rasanya seperti kehilangan arah dan tujuan hidup.

Sewaktu kecil ketika mendapat pertanyaan “Cita-cita kamu ingin menjadi apa?”, pasti akan saya jawab ingin menjadi ini dan menjadi itu. Sekarang sudah berbeda dengan yang dulu, di umur yang sekarang cita-cita saya sederhana, yaitu ingin melihat bapak bisa beristirahat di usianya yang semakin menua. Tumbuh menjadi anak perempuan terakhir dan kehilangan masa jaya orang tua membuat saya merasa egois ketika memilih untuk berkuliah.

Pada saat itu, setiap hari pikiran saya penuh dengan kebingungan yang entah kapan itu akan berakhir. Sudah mendapat arahan tapi tetap saja rasanya kosong. Hingga suatu hari saya mendapat arahan untuk  ikut SNBP, tapi di kesempatan kali itu saya gagal. Berawal dari SNBP, saya mulai menemukan arah hidup. Ya, setelah mengobrol dengan mama dan bapak, saya memutuskan untuk berkuliah. Sebenarnya saat itu saya ragu, tapi beruntungnya, kakak dan kedua orang tua mendukung penuh dan meyakinkan saya.

Usaha dan Ujian

Semenjak hari itu, saya berusaha mati-matian mempersiapkan UTBK agar bisa lolos dan mendapatkan kampus impian. Belajar siang-malam, melewatkan jam main bersama teman-teman ternyata belum cukup membawa saya ke arah keberhasilan. Lagi-lagi untuk yang ketiga kalinya saya gagal mendapatkan kampus impian itu. Ketiga kali karena setelah tertolak SNBP, jalur SPAN pun menonak saya. Sungguh malang, kan, nasib saya? Bagian yang paling saya tidak sukai adalah harus mengabarkan kegagalan ini kepada kedua orang tua.

Baca Lainya  Stigmatisasi Perempuan dalam Penggagas Gerakan Kebangsaan

Sebelumnya bapak selalu menanyakan kapan pengumuman itu keluar, mungkin bapak sangat berharap bahwa perempuan bungsu (anak terakhirnya) bisa lolos ke kampus yang menjadi impiannya itu. Setelah memberanikan diri akhirnya saya kembali membawa kabar kegagalan ini ke mama dan bapak. “Nggak papa berarti belum rezeki kamu, Allah tahu kamu kuat, makanya Allah kasih kejutan itu. Sudah jangan nangis!” sangat menenangkan respon mama saya. “Ya sudah nggak papa.” respon bapak juga sama menenangkan. Namun, jika melihat ke sorot matanya, saya yakin ada sedikit kekecewaan yang berhasil beliau tutupi.

Atas semua kegagalan itu apakah saya berhenti dan menyerah begitu saja? Dengan lantang saya jawab tidak. Saya kembali berjuang agar bisa berkuliah walaupun bukan di universitas umum. Materi demi materi saya pelajari, soal demi soal saya kerjakan hanya untuk mendapat keberhasilan itu. Semuanya tidak mudah, hingga di tengah-tengan perjuangan itu saya jatuh sakit yang mengharuskan untuk benar-benar istirahat dari proses belajar. Penyakit yang sekarang saya alami sama sekali tidak membuat semangat saya luntur, tetapi peran saya sebagai anak perempuan bungsu yang hampir meredam cita-cita berkuliah.

Fase Penentuan

Sampai saya pernah berpikir “Saya gagal berkali-kali apa karena Allah tidak mengizinkan berkuliah, ya?” Saya kembali dalam fase bingung, saya takut membebani bapak, dan saya nggak mau terus-terusan merepotkan kakak-kakak saya. Melihat kondisi bapak saat itu yang sering sakit-sakitan membuat hati saya seperti disayat-sayat silet, sakit rasanya.

Seperti pribahasa nasi sudah menjadi bubur, saya sudah terlanjur terjun ke dunia perkuliahan berarti saya harus bertanggung jawab atas jalan yang saya pilih. “Izinkan kali ini saya bertarung untuk yang terakhir kalinya, jika ini gagal akan di rumah dan bekerja saja membantu orang tua.” ucap saya kala itu.

Baca Lainya  Hak Pendidikan Tinggi bagi Perempuan

Usaha tidak pernah menghianati hasil. Kali ini saya berhasil, dan alhamdulillah menjadi salah satu mahasiswa baru yang mendapat UKT tidak terlalu tinggi. Rasa bersalah dan khawatir kepada orang tua masih ada, dan cita-cita saya ingin melihat bapak istirahat di masa tuanya juga masih. Namun, izinkan kali ini saya berjuang dan memanfaatkan kesempatan ini untuk berkembang menjadi anak yang lebih baik ya, Bapak dan Mama?

Hiduplah lebih lama lagi, saya ingin membahagiakan kalian, saya ingin membuktikan ke orang-orang kalau bapak yang hanya lulusan SD berhasil membawa perempuan bungsunya menjadi sarjana satu-satunya di keluarga. Saya menyimpan banyak harapan dan cita-cita untuk bapak, mama, dan kakak. Tolong bersabar, ya, langkah perempuan bungsu ini terlalu pelan.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *