Warung kopi adalah tempat paling nyaman untuk meracau dan beradu nasib. Apalagi terbarengi secangkir kopi, sebatang rokok, dan teman yang lagi patah hati—yakin obrolan tidak akan ada habisnya. Namun, di satu sisi juga harus siap dengan risiko mendengarkan ocehan tentang hubungan cinta kawanmu itu.
Suasana Solo kala itu lagi mendung-mendung manja dengan semilir angin yang membuat suasana semakin syahdu. Di lantai tiga, saya bertemu dengan beberapa kawan untuk sekadar ngopi dan dengan niat berbagi kisah kehidupan. Sedikit info, kami ngopi di Distrik Mataram; berada di pusat kota, dengan desain tempat yang nyentrik dan estetik.
Percakapan kami berangkat dari membagi kisah masing-masing dalam mengarungi kerasnya kehidupan. Lalu, masuk dalam pengalaman bekerja yang semakin membosankan. Umur yang semakin menua dan terkejar tuntutan. Hingga, obrolan tentang mimpi dan pernikahan.
Meragukan Keseriusan Perempuan
Ketika langit mulai gelap, satu pertanyaan muncul dari kawan saya yang baru saja datang. Ia melempar satu kalimat yang membuatku merenung. “Laki-laki terlalu banyak menanggung beban di proses menuju pernikahan, sedangkan bukti keseriusan perempuan ada di mana?” ujar Ahsan (25).
Setelah percakapan yang begitu cair di awal, pembahasan berbalik menjadi tegang dan sedikit banyak jeda. Saya yang termenung, semakin kebingungan ketika Dafa (23) menyudutkan, yang mendorong saya untuk menjawab karena saya satu-satunya yang memiliki pacar di situ. “Jawaben, Ndrong. Koe kan seng ndue yang. Opo cobo?” tandasnya.
Dengan terbata-bata, saya menjawab ragu: “Menurutku, selama ini aku melihat keseriusan perempuan dari kesiapannya mempersiapkan diri untuk menjadi istri dan ibu.” Namun, jawaban saya langsung Ahsan bantah, “Kalau soal mental dan kesiapan diri, laki-laki juga harus mempersiapkan. Jadi bukan cuman perempuan yang seperti itu.”
Terpaku dengan jawaban itu, saya kembali termenung dan tidak menjawabnya lagi. Namun, ada satu pertanyaan yang mengganggu di benak saya. Yang pada akhirnya saya utarakan di tengah percakapan. “Kenapa pertimbangan kesiapan menikah hanya bergantung pada laki-laki?”.
Menimpali pertanyaan saya, Ahsan mengatakan: “Laki-laki itu mendapat beban kesiapan mental, pendidikan, dan finansial. Standar finansial aman laki-laki dan perempuan itu juga beda. Kebanyakan dari para lelaki, usahanya hanya terlihat setengah mata dan meragukan.”
Saya mengira ini hanyalah luapan perasaan dari seorang laki-laki yang merana karena sang kekasih meninggalkannya. Namun, setelah saya pikir-pikir, ada betulnya juga. Pada akhirnya kami melanjutkan obrolan tersebut dengan meracau sejadi-jadinya tanpa ada solusi pasti dari pertanyaan tersebut.
Bagaimana menurut Para Perempuan?
Lantas, untuk para perempuan, menurut kalian di mana letak bukti keseriusan menuju pernikahan? Apakah hanya ketika sudah mengenal keluarga? Itu pun juga teralami oleh para lelaki. Sedangkan, laki-laki selalu tertuntut dan terstigma untuk mempersiapkan segala kebutuhan menuju pernikahan; mulai dari mahar, cincin, biaya, hingga tempat tinggal setelah menikah.
Saya tidak ingin menyamakan semua perempuan di muka bumi ini. Namun, setidaknya, itu yang kebanyakan terjadi dan menjadi keresahan bagi kami; kaum laki-laki. Banyak dari kaum laki-laki ditinggal menikah karena merasa belum pantas, belum cukup mapan, kurang dalam finansial, atau bahkan ketika sedang mempersiapkan itu semua.
Kaum perempuan bisa saja mendapat pilihan untuk menerima lamaran dari seseorang yang sudah mapan atau menunggu kesiapan kekasihnya–tanpa harus terbebani. Bahkan, pilihan itu juga yang kadang membuat para lelaki merasa tidak pantas dan merelakan kekasihnya pergi demi kebahagiaan kekasihnya. Lalu, ke mana bukti keseriusan perempuan itu sendiri?
Apakah akan selalu berlindung di balik kata “realistis” dan mengesampingkan perasaan yang sudah terbangun dan saling percaya? Kami para lelaki juga tidak mau membiarkan perempuan yang kami cintai hidup dalam kesusahan, tapi di satu sisi, tidak semua laki-laki cukup beruntung untuk bisa memberikan hidup serba berkecukupan. Oleh sebab itu, kami juga butuh waktu untuk mempersiapkan.
Setelah percakapan yang panjang dan mbulet itu. Kami tetap tidak menemukan jawaban yang masuk akal dan melegakan. Bahkan, muncul banyak gugatan kepada kaum perempuan tentang kesetaraan dan dalam hal menunjukkan keseriusan. Kaum laki-laki sudah banyak memikul banyak beban stigma dan budaya, apalagi tertambah dengan tuntutan-tuntutan kaum perempuan menuju pernikahan. Mungkin, soal ini lah yang membuat cukup banyak laki-laki gampang melamun dan cepat mati karena stres yang mereka tanggung sendiri.
Plot twist-nya. Di tengah keseriusan kami membincangkan ini semua. Tiba-tiba datang dua perempuan membawa buket bunga dan kue untuk merayakan kekasihnya yang sedang asyik nongkrong di situ. Situasi ini memecah ketegangan dan kami pun sontak terkejut–menganggap itu adalah jawaban dari percakapan kami sebelumnya. Hingga kami memberikan tepuk tangan dan ketika satu orang laki-laki dirayakan, semua laki-laki akan senang. Namun, apakah itu bukti keseriusan perempuan?[]

